“Bang, jangan dulu kasih tahu orang rumah tentang kondisiku yang sebenarnya, ya?” pinta Jovan, mencengkram lengan Bang Ryan dengan tatapan memohon yang dibuat-buat.
Pria setengah baya itu menggelengkan kepalanya dengan gusar. Rio dan Ikhsan yang seumur-umur belum pernah melihat raut wajah bang Ryan yang se-bete itu, memutuskan untuk pura-pura menyibukan diri di sisi ranjang perawatan Jovan. Mengecek selang infus atau sekedar menggeplak nyamuk di udara. Mereka melakukan apa saja daripada kena semprot. Bang Ryan kan paling sebel kalau ada manusia yang santai-santai. Suka darah tinggi bawaannya.
“Ada lagi permintaan lu? Mau dibeliin makanan super spesial? “ lontar Bang Ryan sarkas.
“Nggak. Itu aja, Bang. Makasih banyak dan maaf udah bikin kacau jadwal kita, “ Jovan menukas tulus kali ini. Dia tahu bang Ryan sangat kecewa setelah mendengarkan penuturan dokter mengenai kewajiban bedrest-nya selama tiga hari kedepan. Untung kontrak yang terpaksa mereka batalkan tiga hari kedepan bukanlah event besar. The Jinx hanya manggung di salah satu kafe.
Bang Ryan melengos, menyembunyikan kebaperannya atas kata-kata Jovan.
“Sana istirahat yang cukup. Awas kalau sampai malah begadang main game! “ ancamnya galak.
Setengah jam kemudian kecuali bunyi helaan nafas tak beraturan, tidak ada tanda-tanda pergerakan yang berarti di kamar VVIP yang hanya dihuni Jovan seorang itu.
Ikhlas tak ikhlas, Jovan harus menerima konsekuensi permintaannya karena melarang bang Ryan mengabari orang rumah. Kini, tak ada seorangpun yang sudi menemaninya.
Rio dan Ikhsan? Huh, lupakan. Mereka berdua sudah Jovan deportasi!
“Aduh Jo, sorry sorry to say nih ya. Tapi gue tuh suka mual dadakan kalau nyium bau darah atau infusan lama-lama. Terus gimana kalau malem-malem ada yang iseng nyalain keran di kamar mandi kamar mandi lu ini, ih serem gue!” bisik Rio begidik.
Sialan, malah nakut-nakutin.!“
Gue juga ngga bisa nemenin, Jo. Kakek susah tidur kalau nggak gue pijitin dulu. Ya gue cuma bisa titip pesan sih sama lu. Kalau bisa sih lu bawa sumpelan telinga biar nggak kedengeran suara cekikikan misterius. Kali aja kan,” tutur Ikhsan serius.
Rasanya ingin sekali Jovan menggebuk tempurung kepala mereka satu persatu.
Memang benar adanya yang dikatakan orang-orang. Tidak ada malam yang paling panjang selain menghabiskannya di rumah sakit karena detik demi detiknya terasa begitu lambat. Bukannya bisa beristirahat dengan tenang, Jovan malah melamun. Padahal sudah lewat tengah malam.
Mata Jovan menatap kosong tiang infus di sebelah kirinya, teringat kilasan hari-harinya ke belakang, terutama bagian secret chat-nya dengan Capella Aldebaran. Sewaktu kiprah The Jinx mulai meroket drastis.
“Jojo, apa kamu bahagia kayak gini?”
“Ya iyalah. Emangnya lu ngga bisa lihat hidup gue sekarang kayak gimana? Gue udah berhasil wujudin mimpi gue, bikin tenar The Jinx, ya meskipun belum seberapa sih dibandingin artis beneran.. Luar biasa rasanya kalau ada yang mengapresiasi musikalitas gue dan bisa menghargai apa yang gue perjuangin selama ini. Akhirnya gue bisa ngebales cemoohan orang-orang dengan prestasi yang gue suka.”
Ups! Jovan membeku. Al membatu.