“Jo, mulai detik ini hutang janji kamu aku bebaskan. Mungkin kamu belum menganggap ini penting, tapi mudah-mudahan kamu bakal ngerti. Di akhirat nanti, sekecil apapun omongan yang pernah kita buat akan diperhitungkan dan ditagih. Jangan lupa omongin juga hal ini sama Tante Riana. Minta maaf karena kamu belum bisa memenuhi janji sama beliau.”
Jovan bergerak-gerak gelisah. Kalimat Al yang terakhir tempo hari terus terngiang-ngiang di alam bawah sadarnya tanpa bisa ia cegah, mengusik ketenangan tidurnya.
Hari memang sudah menjelang pagi, meski bola pijar berwarna kekuningan di langit belum meninggi. Sekali lagi Jovan melewatkan ibadah wajib. Tubuhnya terlalu lelah karena semalaman tidak bisa tidur nyenyak. Selain itu, tidak ada lagi seruan Al yang biasa mengajaknya sholat subuh bersama di masjid, atau ketukan pintu kamar diselingi panggilan Mama untuk membangunkannya. Rutinitas ibadah Jovan semrawut sudah.
Cleck. Pintu kamar Jovan membuka, menampilkan seorang perawat berhijab putih yang mendekap buku catatan dan peralatan medis dalam kotak kecil. Dari celah pintu, bisa terlihat beberapa perawat sedang mendorong sebuah blankar dengan sangat tergesa-gesa. Di belakang mereka tampak seorang gadis berhijab minimalis berusaha mengejar sosok pasien di atas blankar, ditemani seorang pria yang masih kelihatan gagah di usia awal lima puluhan. Ada pula seorang nenek yang kesulitan menyamakan langkah. Rupa ketiganya sangat tegang.
“Mama, tolong yang kuat, Ma. Demi aku dan Jojo, Mama harus kuat! “ seru si gadis terdengar cukup kencang hingga vibra suaranya berhasil menerpa gendang telinga Jovan, membuat cowok itu melenguh lalu membuka matanya perlahan.
Perawat yang baru saja mengecek infu di tangan Jovan tersenyum menyaksikan pasiennya terbangun. “Gimana Jovan, masih pusing?” tanyanya ramah sambil menyibak tirai kamar, menyebabkan sinar matahari yang sebelumnya terbendung kini menembus ruangan Jovan sepenuhnya, membuat cowok itu mengernyit sejenak karena silau.
“Nggak, suster. Sekarang jam berapa?”
“Jam setengah tujuh. Keluarga kamu belum ada yang datang jenguk, Jo?”
Jovan menggeleng pelan. Kemarin malam dia sudah mengirimkan pesan pada Mama kalau dia tidak bisa pulang lagi karena terbentur jadwal latihan di tempat Rio.
Sang perawat tertawa-tawa. Tangannya menggoreskan sebuah catatan pada bukunya. “Oya, kira-kira setengah jam lalu ada gadis yang masuk ke ruangan kamu, Jo. Ingin jenguk bentar katanya. Nanti pulang sekolah dia bilang mau kesini lagi. Anaknya cantik deh. Pacar kamu ya?”
“O! “ Refleks, Jovan menggaruk tengkuknya. Kurva bibirnya lalu melengkung ke atas, senang membayangkan akhirnya akan ada orang selain Rio atau Ikhsan yang menjenguknya. Syukurlah, jauh lebih baik Tania yang menemaninya daripada dua makhluk rese yang bisanya hanya bikin darah mendidih.
***
Di samping pembaringan papanya, Capella Aldebaran khusu melantunkan ayat suci dari lembaran al Qur’an yang membuka di pangkuannya. Sesekali jemarinya mengusap rembesan air yang keluar dari ujung mata. Ba’da subuh tadi Mama meminta izin untuk pulang dulu ke rumah dinas papa, mengambil baju ganti dan beberapa peralatan lainnya.
Pengakuan Mama kemarin pada Al tidak hanya mencairkan pintu hati yang selama ini membeku, namun juga mengantarkan pemahaman yang menampar ego nya keras-keras. Mengantarkannya pada satu hal.
Penyesalan.