Janji Jovan

Vina Marlina
Chapter #32

Without Words

Flashback malam sebelumnya.

“Kenapa, Ma? Si Jovan nggak pulang lagi?” tebak Ivanka, mengalihkan perhatiannya dari laporan yang sedang ia garap di laptop. Di ruang keluarga, keluarga mereka memang sedang berkumpul menonton bareng piala dunia di TV. Tidak terkecuali Bi Siti. 

Mama mengangguk membenarkan, matanya masih belum bisa lepas dari pesan yang baru saja dikirimkan Jovan. “Katanya masih latihan di tempat Rio.”

Papa, Ivanka dan bi Siti kompakan menarik napas panjang. 

Lagi. Semakin lama kenapa Jovan makin terasa jauh. Mulanya pulang tengah malam, kemudian ba’da subuh dan sekarang malah sudah dua hari tidak pulang-pulang. Sulit rasanya untuk tidak kuatir. Penasaran bagaimana sebetulnya aktivitas si bungsu di luaran. 

Makan kamu gimana, Jo? Terus istirahat yang cukup, ngga? Udah salat?

Pertanyaan semacam itu berkitaran di benak keluarga Jovan. Fokus pada siaran TV pun jadi terganggu. 

“Mudah-mudahan aja Aa Jovan tetep baik di luar sana. Nggak terpengaruh pergaulan macem-macem. Jangan sampai kayak anak tetangga sebelah tuh. Doyan keluyuran eh taunya malah overdosis obat batuk campur bir terus di bawa ke rumah sakit,” bi Siti berceloteh cuek. Tak menyadari sama sekali, papa dan Ivanka yang berjengit prihatin. 

Bagaimana dengan Mama? Beliau membelalakan mata dengan ngeri. rasa paranoid beliau merangkak naik ke permukaaan. “Mama ke atas dulu, ya. “ 

Berusaha menahan sergapan rasa was-was, Mama beranjak menaiki tangga ke lantai dua. Berharap semoga tidak terlambat untuk melakukan penyelidikan keseluruhan di kamar Jovan. Kapan terakhir kali Mama sidak disana? Ah, sudah lama. Beberapa bulan lalu sebelum Jovan menandatangi kontrak. Hasilnya, keadaan kamar Jovan steril. Kecuali penemuan beberapa bungkus rokok yang sudah kosong, tidak terdapat barang mencurigakan apapun. Mudah-mudahan tetap begitu. 

Penggeledahan menyeluruh pun dilakukan. Tanpa dibantu siapapun, Mama mulai menyelidiki tempat mana saja yang mungkin dijadikan tempat penyimpanan rahasia. Lemari pakaian, laci meja belajar, lipatan baju-baju, termasuk saku-sakunya. Kolong ranjang, lemari pajangan si Tarisa Putri. 

“Ah, aman! “ ucap Mama mendesah puas, setelah sejam penuh berkutat di kamar si bungsu, akhirnya Mama bisa bernapas lega. “Tapi ampuuun anak itu. Masa pakaian numpuk di gantungan banyak banget? Bukannya disimpan di keranjang cucian, jorok ih! Mana jaketnya udah dekil-dekil!”

Oya, Mama jadi teringat belum memeriksa pakaian-pakaian kotor di gantungan baju di balik pintu itu!

 “Biasanya si Al yang suka bantuin Mama nyuciin baju-baju kotor kamu, Jo,” Mama bergumam sendirian di kamar minimalis sang vokalis The Jinx yang terasa lengang. “Gimana kabar Al ya? Mudah-mudahan Papa nya cepet sembuh.” Raut Mama berubah muram. Desah nafasnya memberat.

Setengah melamun, tak terasa sudah ada sekeranjang baju kotor Jovan yang berhasil Mama kumpulkan. Begitu tangannya menjangkau jaket kulit si bungsu yang tergantung diatas kastok, kening beliau berkerut saat menemukan sebuah botol misterius dari dalam sakunya.

Hmm, kapsul putih. 

“Obat apaan ini? Emangnya Jovan sakit apa?” gumam Mama keheranan. Tapi tak lama kemudian, beliau terperanjat kaget. Kelebatan cerita Bi Siti tentang anak tetangga yang overdosis langsung mendominasi ruang berpikirnya.

 “Jangan-jangan, Jovan! Nggak mungkin, nggak!” Duh, Mama tak sanggup melanjutkan. Mama ingin mengingkari, tapi mengapa Jovan makin kurus plus makin dekil kalau dilihat secara detail?

Gimana nggak terkesan dekil, Mama sudah lama tak memergoki Jovan mandi di rumah. Mana Mama tahu anak itu masih inget bersih-bersih atau nggak, toh waktunya di rumah sudah dipangkas habis buat manggung dan latihan band. 

Saat memikirkan semua fenomena ini, denyut jantung Mama berpacu dua kali lipat lebih cepat, mengirimkan pasokan darah yang jumlahnya melesat ke dalam otak. Alhasil rasa pusing pun menyerang tanpa peringatan. 

Lihat selengkapnya