Janji Jovan

Vina Marlina
Chapter #33

Sorry

Rio dan Ikhsan sudah pamit duluan karena ingin membantu mengurusi administrasi rawat inap Jovan di lantai bawah. Seharusnya hari ini vokalis The Jinx itu bahagia karena diperbolehkan pulang ke rumah setelah tiga hari dijejali cairan kimia dan asupan berbagai makanan lembek minimalis rasa.

Siapa sangka baru saja keluar kamar inap, Jovan malah mengerjapkan mata berkali-kali karena tidak mempercayai penglihatannya. Langkahnya direm mendadak karena fokusnya terpusat pada tiga sosok familiar di ujung koridor.

“Kenapa, Jo?” tanya Tania mendongak keheranan, mengetatkan kaitan tangannya pada lengan kanan Jovan sebelum mengikuti arah pandangan cowok itu. “Eh, bukannya itu Papa, Kak Ivanka sama Bi Siti?”

Deg! Naluri Jovan sungguh tidak enak, terlebih setelah menelisik rupa tegang ketiga anggota keluarganya. Teringat akan kondisi kesehatan Mama yang memang tidak terlalu baik. Jovan pun menelan ludah. Tangannya refleks mencengkram tas jinjing yang sedang dibawanya erat-erat. Tanpa berpikir dua kali, dipaksanya diri berlari terseok-seok meski raganya masih lemas. Didera rasa kuatir bukan kepalang, Tania ikut berderap mengekor di belakangnya.

“Papa!” seru Jovan. “Ngapain kalian disini?”

Yang dipanggil langsung menoleh, termasuk Ivanka dan Bi Siti. Ekspresi keterkejutan menghiasi rupa ketiganya begitu melihat penyebab utama kolapsnya Mama datang mendekat.

Semula Jovan kira dia bisa dapat penjelasan dari pertanyaan dalam benaknya, tapi apa daya ternyata malah tatapan penuh luka yang dia terima, plus bonus tamparan dari Ivanka.

“Aw!” Jovan memekik pelan.

“Lu yang ngapain ke sini. Puas lu sekarang, Jo! Mama kena serangan jantung gara-gara denger berita lu ngehamilin Sisy. Bagus!” semprot Ivanka sarkastik, bertepuk tangan kencang-kencang dengan mata nanar dan wajah dipenuhi bercak air mata. Sukses membuat Tania ternganga, yakin 100 persen sudah salah dengar.

“Sisy hamil anak Jojo? Nggak mungkin,” ucapnya tercekat.

Rahang Jovan membuka lebar, mengabaikan cap lima jari yang membekas di pipinya, tas jinjing yang dibawanya sampai terhempas ke lantai. “Apa?”

Lelucon dalam rangka apa pula ini, sungguh teramat sangat tak kreatif. Iya, Jovan mengakui stok ceweknya DULU lebih dari selusin, tapi keintiman yang pernah dia jajaki paling banter sebatas hugging dan kadang kissing. Tak pernah sekalipun berani bertindak lebih jauh, apalagi sampai mencuri kehormatan seorang wanita.

Never! Itu pantangan buat harga diri seorang Jojo.

“Kak, jangankan ngehamilin anak gadis orang, buat grepe-grepe aja gue masih mikir-mikir, sumpah! Tanya aja nih sama Tania kalau nggak percaya.” Setengah berbisik, Jovan membeberkan isi hati sambil mengusap rambutnya frustasi. “Papa percaya kan kalau aku nggak bakalan ngelakuin hal kayak gitu?”

Betapa teriris hati Jovan karena Papa memilih tidak berkomentar dan malah menatap lurus pintu ICU di hadapannya. Ivanka dan Bi Siti juga melengos, sengaja mengabaikan eksistensi Jovan sepenuhnya.

Lihat selengkapnya