Janji Jovan

Vina Marlina
Chapter #34

Between Shock And Hope

“Jovan! “ panggil Papa sambil menarik Jovan untuk berdiri. Pria itu ingin mendekap tubuh putranya dalam pelukan hangat. “Maafin Papa sempat curiga dan nggak percaya sama kamu, Van!”

Jovan gelagapan. Bayangkan saja sedang khusu duduk melamun tiba-tiba dibetot begitu. Siapa juga yang tak bakalan kaget. 

Ivanka dan Bi Siti saling bertukar pandangan penuh tanya di kursi tunggu, belum mengerti arah pembicaraan papa. 

“Harusnya Papa tahu kamu nggak akan pernah menghancurkan kepercayaan keluarga kita. Kamu memang putra kebanggaan Papa!” raung papa agak melodrama, menepuk kencang punggung cungkring Jovan sampai terbatuk-batuk. Pertahanan beliau akhirnya jebol tak tertahan lagi. Menangis tersedu-sedu di pundak si bungsu.

Memasang wajah mupeng, Bi Siti dan Ivanka melayangkan tatapan datar yang seolah-olah berbicara, Please deh, Pah!

Sementara itu, berdiri agak jauh dari keluarga lelaki yang dicintainya, Tania memperhatikan kejadian itu dengan penuh perasaan. Bibir mungilnya melengkung keatas. Senang karena dugaannya tepat, Jovan tidak bersalah. 

Case closed.

Tiba-tiba pintu ruangan ICU membuka. Seorang dokter bersama dua orang perawat muncul dari dalam sana, menyentak perhatian keluarga Jovan termasuk Tania. Semuanya bergegas mengerubungi tim medis, sepenuh hati mendambakan datangnya kabar baik.

“Bagaimana kabar istri saya, Dokter?” tanya Papa tanpa basa-basi, tanpa sadar tangannya menggamit salah satu lengan dokter Abdullah, dokter spesialis jantung yang menangani Mama. 

Beberapa perawat pendamping Dokter Abdullah mengangguk sopan sebagai tanpa permisi, lalu berlalu tanpa memberikan jawaban apapun. Biarlah beliau saja yang menjadi sumber utama informasi keluarga pasien.

Tersenyum menenangkan, sang dokter berusia lima puluhan tersebut terlebih dahulu mencengkram hangat bahu Papa sebelum menjawab. “Kondisi pasien Alhamdulillah sudah lebih stabil, hanya saja belum memungkinkan bagi beliau untuk dapat siuman. “

Awan hitam kembali menggelayuti wajah-wajah keluarga Jovan. Menyaput habis percikan harapan yang sempat singgah. Memahami perasaan keluarga pasien, Dokter Abdullah pun melanjutkan penjelasannya.“Sebetulnya kondisi Nyonya Riana sudah melewati masa kritis, tapi beliau sengaja diberikan obat dalam dosis besar supaya mendapatkan cukup istirahat.”

Gumaman hamdalah terdengar, beriringan dengan pekik keharuan dan bunyi helaan napas lega. Satu beban berat terangkat sudah. 

 “Alhamdulillah ya Allah!“ gumam Jovan dan Ivanka penuh keharuan. Kakak-beradik itu refleks berpelukan dan bertukar tangisan bahagia. 

“Mama udah selamat, Van!” 

“Iya, Kak!” 

Permusuhan di antara mereka sejenak terlupakan.

“Teruslah berdoa, positif thinking dan bertawakal, insya Allah mudah-mudahan tidak ada efek berarti akibat serangan jantung Nyonya Riana,” tambah dokter Abdullah lagi.

Ivanka langsung melepaskan diri dari dekapan adiknya, keningnya berkerut dalam. “Dampak serius?” gumamnya tak paham.

Lihat selengkapnya