“Kokoro, kokoro pala kau pitak la, Bang! Heh, kurang sabar apa kami ini kek kau tuh. Sudah lama kami sudah cukup tutup mata setelah tahu surat kontrak ini cacat hukum. Kami tahan-tahan demi cita-cita Ikhsan jadi artis. Bukan untuk disuruh kerja rodi bagai kuda begini, sampai berlembar-lembar surat peringatan dari BK numpuk di bawah kasurnya si Ikhsan. Ape lah maksud ini semua tuh. Makanya ada otak tuh taruh di kepala, jangan di sembarang tempat!” gelegar Uda Romi, masih bernafsu untuk marah-marah.
“Bener tah nu diomongkeun ku si Romi. Yeuh, Ikhsan. Aki teh da sebenerna geus nyaho ti jaman mana maneh teh loba bolos gara-gara manggung. Da tadina Aki percaya maneh bakal tanggung jawab jadi budak sakola. Tapi buktina mana?!” tambah kakek Ikhsan balik mengomeli cucu kesayangannya.
(baca: bener apa yang diomongin Romi. Aki sebenernya udah tahu dari jaman mana kamu tuh banyak bolos gara-gara manggung. Soalnya tadinya Aki percaya kamu bakal tanggung jawab jadi pelajar. Tapi buktinya mana?)
Baik Bang Ryan maupun Ikhsan kompakan speechless. Mulut mereka mangap-nutup-mangap-nutup karena kebingungan harus menimpali seperti apa. Rio lain lagi ekspresinya, dia benar-benar sudah hopeless harus kejebak sial di konflik keluarga sahabatnya. Nelangsa berat.
Dibandingkan Ikhsan dan Jovan, justru reaksi orang tua Rio sama sekali adem ayem. Istilahnya nih ya, mau bolos kek, mau drop out sekalian kek, itu tak jadi soal, yang penting putranya mampu bertanggung jawab dan fokus pada passionnya. Kurang the best bagaimana coba Mama-Papanya Rio ini?
Ayah Ikhsan angkat suara lagi. “Harusnya Anda selaku yang lebih tua justru bantu mengarahkan mereka ke jalan yang benar lah, bukan malah pikirin duit terus! Katanya bekas manajer hoaks band yang digawangi Aniel dkk, huh! Profesionalitasnya dimana, Bung!”
Bang Ryan mulai tersulut emosi mendengar bahasan yang melantur kemana-mana. “Cukup!” bentaknya mengagetkan seisi ruangan, menjadikan suasana hening. ”Anda-Anda sekalian boleh menyalahkan saya, karena apa yang Anda katakan itu benar! Saya terima semuanya. Tapi kalau Anda meremehkan keprofesionalitasan saya sebagai manajer berpengalaman, saya tidak terima!”
Tak terduga, Bang Ryan mengeluarkan sehelai kertas dari dalam ransel hitamnya. “Bisa lihat ini apa? Ini surat kontrak yang jadi sumber masalah itu kan? Ok, kalau gitu kita musnahkan aja, bagaimana?”
Tanpa berpikir dua kali, Bang Ryan menyobek kertas tersebut hingga menjadi cuilan kecil-kecil.
Rio dan Ikhsan terbelalak tak percaya. Apa semudah itu mereka terbebas dari kontrak berpinalti 1 milyar?
“Aku bukan lagi antara manajer dengan artisnya, boleh buka rahasia sekarang? Demi Tuhan, aku nggak pernah bermaksud ingin bikin mereka kerja rodi. Selaku juri festival mereka di Dago, aku justru sangat terkesan dengan penampilan mereka dan merasakan potensi luar biasa. Sayangnya bukan gayaku kalau harus manjain mereka! Justru aku keras gini karena pingin mengasah mereka supaya bisa jadi artis profesional. Buktinya apa, aku berhasil bikin mereka laris manis dalam waktu singkat, kan!” tukas Bang Ryan gagah berani. Mengembalikan lemparan bola api ke tangan masing-masing penyerangnya.
“Nih, satu bukti lagi. Sebetulnya di tanganku ada tawaran rekaman dari salah satu produser terkenal. Baru dua hari kuterima berkas ini, tapi sengaja dipending kabar beritanya karena nungguin Jojo sembuh dulu. “ Bang Ryan mengeluarkan satu map cokelat tebal dari dalam tasnya lalu diacungkannya tinggi-tinggi. Tak mengacuhkan mimik wajah di sekelilingnya yang terpana-pana.
Rio dan Ikhsan membeku. Masih duduk jongkok merana, tapi kali ini tubuh mereka gemetaran hebat.
“B-bang jadi kita udah resmi jadi artis nih?“ cicit Rio pelan. Mukanya paling kelihatan dramatis dibanding yang lain. Campuran dari ekspresi ingin menangis dan ketawa, sekaligus menahan kebelet.
Bang Ryan terharu melihatnya. Menghempaskan map yang dipegangnya ke atas meja. Perlahan-lahan, beliau ikut jongkok di depan kedua anak asuhannya. Memberikan pelukan erat.
“Rio, San. Maaf, gue bukan manajer kalian lagi. Sumpah, sebenarnya tujuan gue bikin surat kontrak begitu bukan buat nakutin kalian. Gue tuh murni cuma pingin memotivasi, mencambuk kalian supaya bisa lari kencang. Kan katanya keramik aja supaya jadi cantik kudu dibakar terus dihancurin berulang kali dulu. “
Bahu Rio dan Ikhsan kelihatan berguncang-guncang. Kepala mereka sudah diumpetin di dada mantan manajer nya itu. Menyembunyikan lelehan air mata. Masa penganut ‘boys don’t cry’ nangis sih, kan gengsi.
“Surat kontraknya gue tinggal disini, terserah mau kalian tindak lanjuti atau dibuang sekalian. Gue udah nggak bisa bantu kalian lagi. Sampein salam gue buat Jojo, bilangin jangan pernah ngemil Dumolid lagi. Cari aja cemilan yang bagusan dikit, “ suara Bang Ryan berubah sengau. “Terus lu juga Rio, diet mie secepatnya kalau mau panjang umur.”
Rio mengggumam, “Am-syong el-lu b-bang, “ sebelum dilanjutkan nangis lagi.
“Elu juga San, turutin apa kata dokter gigi. Daripada ngemil jelly mending lu ngunyah daun sereh atau apa kek,” pesan Bang Ryan lagi.
Ikhsan mengangguk patuh. Tangisannya sudah berganti kekehan sekarang. Maklum, drummer yang satu ini selera humornya benar-benar receh.