Janji Jovan

Vina Marlina
Chapter #37

Move On

Bohong besar kalau ada yang bilang Jovan baik-baik saja. Tak ubahnya tanaman yang layu tanpa cahaya kehidupan, cowok itu membuat siapa saja yang melihatnya akan merasa jatuh kasihan. Sewaktu menengok ke rumah sakit, Al dan mamanya langsung tergerak ingin membantu.

Lewat pelukan, Al menyalurkan segenap dukungannya untuk Jovan. Entah bagaimana keduanya malah saling curhat tentang kegalauan masing-masing. 

Duduk agak jauh di sudut ruangan, Jovan dan Al sengaja memberikan sedikit privasi bagi mama mereka untuk berkomunikasi, meskipun hanya berjalan satu arah. Mama Jovan masih belum bisa menggerakan mayoritas anggota tubuhnya.

“Jo, aku berharap kamu nggak bakal mengalami apa yang aku rasain. Sakit banget ketika kamu kehilangan kesempatan untuk berbakti pada orang tua selamanya,” kata Al parau.

Pupil mata Jovan membesar mendengarnya, “Maksud lo, Om Bram?” 

“Iya, Papa meninggal, Jo. Tanpa sempat aku meminta maaf sama beliau,” jelas Al, menatap nanar Jovan yang speechless. “Mumpung kamu masih diberikan kesempatan sama Allah, coba buktikan cintamu ke Tante Riana.”

Al menarik napas lebih dulu sebelum melanjutkan mantap, “ Ayo kita hijrah bareng, Jo!”

There! Satu kalimat itu telah membetot pusat kesadaran Jovan. Tahu bahwa dia harus melakukan sesuatu sebelum semuanya terlambat. 

Hari itu menorehkan satu momentum bersejarah bagi Jovan.

Cowok itu beringsut mendekati mamanya. Setelah bertukar pandang beberapa lama, Jovan menunduk dan menciumi kening beliau sambil berbisik, “Ma, Jovan mau belajar jadi Ikhwan. Tolong doakan ya, Ma, Jovan nggak mau ingkar lagi.” 

Mata Mama seketika bercahaya. Ada pancaran harapan yang kentara, menguar dari tatapan itu. Di dekatnya, tante Miska diam-diam menyusut air mata dan hidungnya sendiri.

“Al, please kasih tahu gue harus ngapain sekarang.” Jovan mengalihkan fokusnya pada Al, yang dijawabnya dengan anggukan.

“Pertama, luruskan niat kamu, Jo, karena seseorang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya. 

Dua, segera mencari lingkungan yang baik. Agama dan akhlak seseorang itu sangat dipengaruhi teman-temannya.

Tiga, kuatkan pondasi tauhid. Pahami arti bacaan salat dan jangan malas mengikuti berbagai kajian untuk menambah ilmu.

Empat, pelajari Al Qur’an dan amalkan.

Lima, berdoalah memohon keistiqomahan dan keikhlasan. Insya Alloh, saya yakin kamu sanggup, Jo.”

Lalu Al mengakhiri kalimatnya dengan senyuman dan remasan pelan di pundak Jovan.

Semenjak saat itu, proses hijrahnya Jovan mulai dilakukan secara bertahap. 

Si cowok blasteran itu membabat habis bulu-bulu halus di wajahnya. Pokoknya dia total membersihkan diri supaya kinclong dan wangi seperti semula.

Selain itu, Jovan pun bersekolah kembali. Ia harus istiqomah menabahkan diri menyikapi beragam reaksi penghuni sekolah yang ‘sirik’ melihat perubahan positifnya.

Mulai dari pihak yang keselek. .

“What? Sekarang ini Jojo gaul dengan anak DKM? Demi apa?!”

“Nggak mau tahu pokoknya, si Jojo kudu balik di the Jinx! Sayang banget kalau dia harus gantung mikrofon sekarang-sekarang, ih gue nggak rela!”

“Si Jojo nggak mau mojok bareng kita lagi di kantin, gila! Dia juga nggak pernah kelihatan ngerokok lagi. Kesambet apaan dia?”

“Si Jojo insyaf? Yaaaah, gagal deh gue daftar jadi ceweknya, padahal kan susah banget tuh bikin dia putus sama si Tania, ah gagal tepe-tepe deh.

Oknum yang nyinyir berkomentar seperti ini.

“Alaaaah, palingan juga entar di balik lagi kayak dulu. Cowok kerdus kayak dia mana betah kalau ngga sehari aja ngemodusin cewek.”

“Taruhan yuk? Bulan depan pasti dia bakal ngemis-ngemis ingin gabung lagi sama grupnya, musik itu kan udah kayak udara buat dia!”

“Cuih, sok suci banget euy si Jojo! Geli gue.”

Pendukung yang positif pun ada. Nah, yang ini kebanyakan berasal dari jajaran pengurus DKM.

“Alhamdulillah, keep istiqomah ya, Jo. Mending dianggap sok suci sekalian, anggep aja doa.”

“Daripada jadi mantan ustadz kan mending jadi mantan preman. Iya ngga?”

Lihat selengkapnya