Janji yang Tak Bisa Ditarik Kembali Sang Penguasa Gelap

Titah Kesumawardani
Chapter #1

Bab 1. Pengkhianatan dan Serangan Malam Itu

Hujan gerimis turun perlahan, meninggalkan jejak tipis di permukaan jendela mobil yang melaju tenang membelah jalanan kota yang sepi. Di kursi penumpang, Afgan duduk diam tanpa bergerak, namun hatinya seolah dihantam badai dahsyat. Tangan kanannya terkepal begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Napasnya pendek dan teratur, sekuat tenaga menahan amarah yang mendidih di rongga dadanya.

Bayangan pesta tadi masih menghantui setiap sudut pikirannya. Renata Elvina, wanita yang pernah menjadi istrinya, berdiri begitu dekat di samping Marco Valenti—satu-satunya orang yang selama ini berusaha menghancurkan segalanya miliknya. Tawa renyah Renata, cara jemarinya menggenggam lengan pria itu seolah tanpa beban, seakan menyatakan bahwa dunia miliknya kini telah berpindah.

Afgan menggeram pelan, menundukkan kepala sembari menggigit ujung jarinya yang terasa dingin.

"Sial... wanita itu ternyata selama ini menjalin hubungan dengan pria keparat itu," desisnya pelan, berusaha meredam gelombang emosi yang meluap-luap di dadanya. Namun ia sadar, ini bukan semata soal perasaan. Ini soal harga diri. Ini soal pengkhianatan yang menusuk jauh lebih dalam dari apa pun yang sanggup ia terima.

Aditya Nugraha, tangan kanan sekaligus sahabat kepercayaannya yang duduk di balik kemudi, sesekali mencuri pandang cemas. "Afgan, kau terasa seperti siap meledak. Haruskah kita langsung ke markas? Menenangkan pikiran sejenak?"

Afgan hanya mendengus kasar, tak sepatah kata pun terucap. Matanya menatap lurus ke jalanan yang basah memantulkan cahaya lampu, sementara benaknya menyusun rencana-rencana gelap. Namun tiba-tiba, dunia di sekitar mereka seketika berubah mencekam.

DOR!

Suara ledakan tembakan memecah keheningan, menghantam kaca jendela belakang hingga retak seketika. Afgan tersentak, tubuhnya bergerak refleks menahan guncangan. Aditya seketika menginjak gas dalam-dalam, melajukan kendaraan itu melesat liar di atas aspal yang licin.

"Kita diserang! Sialan... siapa yang tahu pergerakan kita malam ini?!" seru Aditya tegang, matanya tak lepas dari jalanan.

Afgan memicingkan mata tajam, meneliti keadaan melalui kaca spion. Dua mobil berwarna hitam pekat melaju kencang mendekat, sepasang lampu utamanya bersinar redup namun mengintimidasi, persis seperti sepasang mata iblis yang tengah mengincar mangsa.

"Brengsek," umpat Afgan pelan namun penuh ketegasan. Rahangnya mengeras seketika. Ia sadar sepenuhnya bahwa ini adalah kelalaian fatalnya. Malam ini ia pergi hanya bersama Aditya, tanpa pengawalan, tanpa pasukan. Semua semata karena pikirannya sempat kacau sejak melihat Renata di pesta itu.

Dengan gerakan cepat ia merogoh saku jaketnya, mencengkeram gagang pistol yang terasa dingin dan berat di tangannya. Sekilas ia melirik Aditya. "Kau tetap fokus ke depan. Biar aku yang urus mereka."

Aditya mengangguk mantap, tangannya memutar setir dengan lincah menghindari peluru-peluru yang terus menghujani bodi mobil mereka.

"Mereka tahu kau lengah malam ini, Afgan! Mereka sengaja menunggu momen ini!" seru Aditya di tengah deru mesin.

Afgan menurunkan kaca jendela di sampingnya perlahan. Angin malam yang dingin bercampur rintik hujan seketika menerpa wajahnya. Di sudut bibirnya, terukir seulas senyum tipis yang penuh ancaman. "Mereka kira aku sudah tak berdaya? Mereka belum tahu apa artinya bermain dengan api."

Satu tangannya mencengkeram pistol dengan mantap, sementara tangan lainnya menggenggam erat gagang pintu mobil. Dari sudut matanya, ia melihat salah satu mobil pengejar semakin mendekat. Di balik kaca jendelanya, terlihat jelas moncong senapan otomatis yang siap melepaskan tembakan.

"Aditya, banting setir ke kanan! Sekarang!" perintah Afgan. Suaranya rendah, namun tegas dan berat bagai keputusan takdir yang tak dapat dibantah. "Aku tak akan mati sia-sia malam ini."


Mobil mereka terguncang hebat saat Aditya menikung tajam, sementara Afgan membalas dengan tembakan tepat ke arah mobil yang semakin mendekat. Peluru bersahutan membelah malam, menyatu dengan deru mesin dan bunyi hujan yang menghantam atap kendaraan.

Afgan sadar sepenuhnya: malam ini adalah pertarungan hidup dan mati. Dan ia tak akan membiarkan dirinya tumbang, apalagi di tangan musuh-musuh remeh yang merasa sanggup menjatuhkan seorang Afgansyah Reza Mahendra.

Tembakan Afgan melesat tepat mengenai ban depan salah satu mobil pengejar. Kendaraan itu seketika oleng hebat sebelum menghantam tiang lampu di tepi jalan. Dentuman keras memecah keheningan disertai percikan api yang menyala di tengah rintik hujan. Di sudut bibir Afgan, terukir senyum dingin tanpa belas kasih.

"Satu turun," gumamnya pelan seraya menarik kembali pistolnya dan menyelipkan peluru baru ke laras. Napasnya pendek namun teratur, sementara matanya tetap waspada meneliti keadaan di belakang.

Namun senyum itu seketika lenyap. Dari kejauhan, tiga kendaraan lain muncul perlahan, lampu sorotnya menembus kabut tipis di atas aspal basah. Deru mesin mereka terdengar kian nyaring, persis seperti kawanan serigala yang haus darah.

"Kau pasti bercanda..."

Afgan mengumpat pelan, seketika menundukkan kepala saat rentetan peluru kembali menghujani bodi mobil mereka.

"Gan, ini makin parah! Mereka benar-benar bermaksud menghabisi kita!" seru Aditya tegang, tangannya memutar setir dengan kasar berusaha menghindari sasaran tembakan. Mobil itu meluncur liar di atas permukaan jalan yang licin, nyaris kehilangan kendali sepenuhnya.

Afgan mengatupkan rapat rahangnya. Darahnya mendidih bercampur dengan adrenalin yang meluap. Ia menoleh ke belakang, menatap tajam mobil-mobil itu yang terus mendekat dengan ancaman nyata.

Ini bukan sekadar serangan biasa. Ini eksekusi terencana. Seseorang bertekad memastikan ia tak akan pernah keluar hidup-hidup dari malam ini.

"Siapa yang berani melakukan ini?!" bentaknya dalam hati, amarah menyala membara di manik matanya yang gelap. Ia sadar musuhnya memang banyak, namun berani menyerang Afgansyah Reza Mahendra secara terbuka seperti ini? Itu adalah penghinaan yang tak akan pernah ia biarkan berlalu begitu saja.

Jemarinya mencengkeram gagang pistol semakin erat. "Aditya, cari jalan sempit. Kita harus memisahkan mereka satu per satu."

"Di depan ada gang kecil, tapi kita bisa terjebak di sana!" sahut Aditya cemas.

Lihat selengkapnya