Jannang

Andim Raja
Chapter #2

Aroma dan Ingatan

Musik ambient mengalun merdu mengisi setiap sisi ruang tunggu bandara. Instrumental yang syahdu itu rasanya lembut menenangkan. Kepala Megita Nia diisi alunan musik itu saat ia memutuskan menjauh dari keribuan di depan gate 02. Ia menjejalkan boarding pass ke dalam saku outernya dan memilih mencari tempat duduk kosong alih-alih ikut-ikutan mendebat para staf boarding yang sama bingungnya dengan para calon penumpang. Entah ia terbawa ke dalam harmonisasi ambient atau ia hanya berusaha menyiapkan hati yang lapang menerima waktu take off pesawat ke Makassar yang mesti mundur dua jam.

 “Mohon maaf, Bapak Ibu. Perlu kami sampaikan bahwa cuaca sedang tidak kondusif. Jadi penerbangan Bapak Ibu harus tertunda. Kami janji akan ada kompensasi yang sepadan,” seorang staf perempuan mengulang penjelasan yang sama, yang entah sudah berapa kali disampaikannya. Namun, tentu saja penumpang-penumpang yang masih berjubel di depan gate 02 itu tidak menunggu sekadar penjelasan saja. Mereka ingin segera terbang ke Makassar tanpa mesti tertunda secara tiba-tiba begitu. Beberapa orang kelihatan mencak-mencak dan memisuh-misuh sedemikian rupa ke arah staf perempuan yang wajahnya tampak lesu itu—antara bingung, sedih, dan marah, tapi semua perasaan campur aduk itu mesti ditahannya.

 Megita tidak ingin menambah derita di wajah staf perempuan itu. Ia duduk seraya menyandarkan kepala dan berselonjor kaki. Wajahnya setengah mendongak ke arah langit-langit ruang tunggu bandara. Kira-kira dua menit kemudian, tangannya bergerak mengambil ponsel dari dalam tas sampingnya. Ia mengirim pesan kepada seseorang dan mengabarkan bahwa ia akan terlambat tiba di Makassar karena ada delay pesawat. Tak sampai semenit kemudian masuk pesan balasan bernada canda bahwa tak ada alasan untuk terburu-buru dan meminta Megita untuk santai saja.

Megita bangkit dan mengarahkan langkah ke arah salah satu gerai makanan cepat saji. Ia memesan burger dan machiato.

  Dengan burger di tangan kanannya dan machiato di tangan kirinya, Megita merasa dirinya jauh lebih santai. Seingatnya, baru sepekan lebih yang lalu di Paris ia menikmati seporsi burger yang juga ia padukan bersama segelas machiato. Tapi, hari itu, di antara lalu-lalang orang-orang yang bersliweran di bandara, ia sungguh-sungguh menikmati kedua makanan itu bagai tak pernah didapatkannya selama bertahun-tahun. Dalam sekejap waktu, ia merasa lepas dari segala entitas yang ada di sekelilingnya. Keributan di depan gate 02 kian lamur dari pikirannya. Musik ambient masih mengalun-alun.

Tapi, sial. Beberapa saat kemudian, ketika Megita baru saja menyeruput beberapa teguk machiatonya, musik ambient bandara berhenti mengalun dan secara tiba-tiba dari depan salah satu gate yang berjarak sepelemparan batu dari gate 02, ia mendengar seseorang memainkan Caprice d’Adieu. Ia mengangkat muka, menengok ke kanan, dan tanpa sadar memasang telinganya baik-baik. Alunan melodi itu secara resmi menggantikan musik ambient bandara.

Megita tidak hanya mendengar seseorang memainkan Caprice d’Adieu, tetapi ia juga mendengar teknik bermain yang dikenalinya. Ia mendengar dua atau lebih nada dimainkan bersamaan, arpeggio yang dimainkan dengan cepat, dan bunyi yang lebih ekspresif. Semuanya terang saja mengingatkannya kepada teknik bermain biola yang mati-matian ia pelajari demi suaminya, Rion Tirta.

 “Di tempat seperti ini kenapa ada yang memainkan melodi itu?” Megita mendengus kesal. Sudah empat tahun lamanya ia berusaha berdamai dengan malam ganjil yang menyesakkan itu. Tapi kini, seseorang dengan semena-mena mengantar alunan melodi klasik itu ke dalam kepalanya. Di tempat yang tak pernah ia duga. Ah, betapa repot melarikan diri dari kenangan.

   Megita menelekan begitu saja cup machiato dari tangannya. Ia bangkit dan melangkah ke arah suara itu. Di sana, di antara orang-orang yang sibuk, seorang perempuan remaja berpakaian serba putih dan berambut panjang, sedang menggesek sebuah biola dengan pizzicato yang cepat. Tampak betul remaja perempuan itu ingin meniru Niccolo Paganini yang legendaris—yang tentu saja tidak mungkin dilakukannya.

  Melarikan diri dari kenangan memang merepotkan. Saat kau berusaha mati-matian menghindar, ia justru kadang datang dengan segala cara. Diantar Caprice d’Adieu dari remaja perempuan itu, Megita tidak bisa menghindar memutar kembali di kepalanya malam ganjil yang mengubah hidupnya empat tahun yang lalu.

***

Empat Tahun yang Lalu

Sejam sebelum pertemuan.

 Meja bundar bertaplak merah marun. Lima buah lilin dengan api-api kecil. Dua karangan mawar merah berada di tengah-tengah kelima lilin itu dan menjadi titik pusat lingkaran. Dua piring mewah putih yang masih kosong. Berikut dua cangkir bening yang sama-sama kosong. Dan Megita Nia yang duduk di salah satu kursi dengan gaun merah yang membuatnya kelihatan semakin anggun. Betis jenjangnya dibiarkan setengah telanjang. Demikian juga dengan bagian atas punggungnya yang dibiarkan terbuka. Rambut panjang hitam mengilapnya terurai ke salah satu sisi lehernya.

  Megita tidak terbiasa dengan jamuan table manner semacam itu. Ia lebih senang makan ala kadarnya dan sebebas-bebasnya tanpa harus diatur protokoler. Ia juga tidak pernah menempatkan makanan apapun dalam tempat yang agung. Semuanya sama belaka baginya. Sekadar pengenyang perut. Sekadar penambah energi dan tenaga untuk bertahan hidup. Ia menyukai makanan yang enak, tapi lagi-lagi tak lebih dari sekadar pengisi perut yang kosong. Bukan sesuatu yang mesti dipuja-puji segala rupa. Sangat berbeda dengan suaminya, Rion Tirta, yang menempatkan makanan di altar suci kehidupan.

  Namun, demi suami yang sangat dicintainya, malam ini Megita mesti mengesampingkan kebiasaannya yang cenderung semborono apabila berurusan dengan makanan. Ia berada di salah satu ruang VIP restoran termahal di Jakarta. Duduk dikelilingi konsep makan malam yang mewah, romantis, intim, dan hangat. Memakai gaun bak tuan putri kerajaan yang membaluti tubuhnya, menunggu suaminya datang dengan tuxedo rapinya, dan ia akan memainkan melodi Niccolo Paganini. Dan seharusnya, ia berharap setelah itu semua pernikahan mereka terselamatkan.

  Sepekan lalu sebelum Megita duduk di dalam ruang VIP restoran itu, ia bertengkar hebat dengan Rion.

  Saat itu tengah malam yang berhujan, Megita tiba di depan rumahnya dengan penuh tanya. Tidak biasanya ada mobil lain selain mobil Rion yang terparkir di garasi rumah mereka. Awalnya ia pikir itu mobil salah seorang kru dapur Rion di restoran tempat ia menjadi Head Chef. Tiga tahun menjadi istri seorang chef terkenal, Megita juga kenal beberapa teman suaminya. Tapi, saat ia sudah berada di dalam rumah, ia melihat perempuan yang menemani Rion di dapur bukanlah salah satu dari anak buahnya, melainkan seorang perempuan yang baru kali ini dilihatnya. Caprice d’Adieu mengalun di antara mereka.

  Melihatnya dengan tatapan bingung, Rion lekas menyambut Megita. Merangkulnya dan membawanya ke dapur seraya memperkenalkannya dengan perempuan itu. Namanya Erlina, seorang Head Chef dari sebuah hotel di Jakarta. Dari jarak yang dekat, Megita merasa tidak asing dengan wajah perempuan itu. Ia memang baru melihatnya langsung, tapi di televisi atau media sosial mana pun, ia kerap kali melihat wajah perempuan itu berseliweran.

    “Erlina Hastari Samboja, bukan?” bukanya.

    “Syukurlah kalau sudah tahu. Aku tidak perlu memperkenalkan diri lagi.”

   “Siapa yang tidak tahu chef paling terkenal di negara ini,” imbuh Megita seraya menaruh tasnya di sofa. “Anwar dan Herman kenapa tidak ada di sini? Kalian teman-teman suamiku juga? Aku tidak nyangka lho suamiku punya teman artis seperti Mbak ini.”

    Semuanya tergelak. Dan tampaknya semuanya berjalan akrab.

Megita menyambut urulan tangan Erlina dan menganggap perempuan itu sama saja dengan teman-teman chef lain suaminya. Sekadar teman berdiskusi masakan dan makanan. Atau, sekadar teman merancang resep menu baru. Sehabis perkenalan itu, Megita berlalu ke kamarnya. Membiarkan Rion memasak bersama dengan Erlina. Caprice d’Adieu kembali terdengar.

    Dari balik tembok kamarnya, tidak jarang Megita mendengar Rion dan Erlina begitu serius dan heboh mendiskusikan macam-macam resep makanan. Kadang mereka melakukannya sambil tertawa. Kadang dengan suara melengking-lengking saling mendebat. Kadang juga dengan Caprice d’Adieu yang ditambah volume suaranya. Megita sudah kerap kali mendengar hal seperti itu di rumahnya sehingga semuanya terasa biasa saja.

Lihat selengkapnya