Waktu berlalu dua jam. Megita terjaga oleh suara announcer yang halus dan nyaring, yang kemudian disusul suara ribut-ribut di depan gate 02. Tapi kali ini bukan suara keributan antara calon penumpang dan para staf boarding yang mendebatkan penundaan penerbangan, melainkan keributan kecil orang-orang yang merasa lega akhirnya penantian waktu take off ke Makassar telah berakhir. Mereka berlomba melangkah ke arah garbarata yang akan membawa mereka masuk ke dalam perut pesawat.
Megita merapatkan switernya seraya mulai berkemas untuk siap-siap ikut dalam antrean boarding.
Sesungguhnya, Makassar tidak pernah ada dalam peta rencana Megita demi ambisinya menjadi juru masak terbaik sampai level tertinggi. Yang ia bayangkan adalah kota-kota dunia dengan restoran-restoran michelin star terkenalnya—Tokyo, Kyoto, Paris, London, Hong Kong, atau New York. Baginya di salah satu kota itulah seharusnya ia menceburkan diri dalam ambisinya mengembalikan suaminya ke dalam rumahnya dan menyelamatkan pernikahannya lewat masakan-masakannya. Menempa diri lebih tekun lagi, melebihi apa yang pernah dilakukannya di Le Cordon Blue. Bukan malah menempuh perjalanan sejauh lebih ribuan kilometer ke Makassar.
Niel aku udah mau take off. Megita mengirim pesan pribadi kepada Daniel, seorang mantan detektif swasta yang menjadi mata-matanya di Makassar. Orang yang sama yang dikabarinya di jam-jam delay pesawat. Orang yang sama pula yang memutuskan bahwa Megita harus datang ke Makassar secepat mungkin.
Daniel sejatinya sudah lama pensiun dari pekerjaannya memata-matai orang, tapi demi sahabatnya Megita, ia kembali ke dunia lamanya itu. Ini sudah tahun keempat Daniel bolak-balik Jakarta Makassar demi mencarikan informasi yang dibutuhkan Megita. Ia tidak ingin dibayar Megita seperti dulu dibayar saat masih aktif menjadi detektif swasta. Sekadar uang bolak-balik pesawat dan biaya hidup seadanya, sudah cukup. Ia melakukannya lebih banyak karena alasan persahabatan. Daniel salah seorang teman dekat Megita yang tidak terima rumah tangga sahabatnya itu dirusak oleh Erlina.
Saat Megita masih di Paris, Daniel mengirim pesan kepadanya bahwa ada informasi terbaru yang sangat penting yang didapatkan sahabatnya itu. Kabar itu bisa menjadi alasan untuk memulai kembali ekspedisi kedua ke pedalaman Sulawesi Selatan seperti yang pernah mereka lakukan dua tahun lalu. Pesan itu lantas diikuti kiriman foto sebuah pohon silsilah keluarga. Karena Daniel tidak melanjutkan menjelaskan apa maksudnya mengirim foto itu, Megita mencoba mencari tahu sendiri apa yang penting dari foto itu. Ia mengeprint-nya dan mulai menekuri selama berjam-jam. Hanya saja tak ada apa-apa yang ia dapatkan di sana sampai kemudian memutuskan terbang dari Paris ke Jakarta, dan kini melanjutkannya menuju Makassar.
Nanti kalau sudah landing, kamu cari bapak-bapak yang bawa-bawa namamu di kertas ya. Dia yang menjemputmu. Welcome to the Makassar City, Meg. Sampai ketemu. Aku tidak sabar memulai ekspedisi kita lagi.
Kata Makassar di pesan Daniel itu membuat Megita tersenyum.
“Aku kembali lagi ke Makassar,” ia menggumam lirih seraya memeluk switernya, menyeret kopernya, dan berjalan menuju garbarata.
Suara announcer berbicara lagi dan memberikan pengumuman tentang hal yang berkaitan dengan pemberangkatan. Kurang dari lima menit kemudian, Megita sudah berada di dalam perut pesawat. Beberapa penumpang sudah duduk manis di seat masing-masing. Beberapa yang lain masih menyeret koper. Yang lain tampak memasukkan koper ke dalam kompartemen dengan dibantu pramugari. Keributan di depan gate 02 sudah sepenuhnya terurai habis.
Sekitar sepuluh menit kemudian, pesawat sungguh-sungguh sudah lepas landas menuju Makassar.
***
Megita lebih banyak melewati penerbangan selama dua jam itu dengan tidur. Ia sedang berusaha melepaskan kepenatan tubuhnya sehabis menempuh perjalanan panjang selama 20 jam dari Paris ke Jakarta, lalu dilanjutkan penerbangan Jakarta ke Makassar.
Ketika pesawat mendarat di bandara Sultan Hasanuddin, ia bahkan menjadi penumpang yang turun paling akhir. Waktu sekitar setengah jam yang digunakan penumpang lain untuk berebut turun, justru ia gunakan untuk menyandarkan punggungnya di kursi pesawat. Lumayan. Waktu setengah jam yang cukup untuk mengisi tubuh dengan energi baru. Barulah saat penumpang semua turun dan kabin pesawat jadi lebih senyap, ia pun berdiri dan membawa kopernya turun.
Selama berjalan kaki dari garbarata menuju area penjemputan, ia pun melakukannya enggan-engganan. Ia menyeret kopernya dengan malas. Untunglah tak cukup jauh ia menyeret kopernya itu sebelum menemukan toilet. Ia buru-buru melipir masuk dan langsung menyiram wajahnya dengan air segar. Itu membuatnya merasa lebih baik.
Setibanya di area penjemputan, ia melihat seorang laki-laki gempal dengan kepala pelontos mengangkat selembar kertas bertuliskan namanya. Ke sanalah Megita melanjutkan langkah kakinya.
“Aku Megita Nia, Pak. Bapak suruhan Daniel?”
“Benar, Mbak. Pak Daniel sudah menunggu di atas mobil. Mari!” laki-laki berkepala pelontos itu merebut koper dari tangan Megita dan memintanya untuk mengikuti jalannya. Hanya sebentar, mereka sudah tiba di depan mobil sedan merah yang terparkir agak menjauh dari mobil lainnya.
Pintu terbuka. Megita masuk.
“Repot benar ya ketemu sama agen rahasia. Pakai acara ngumpet segala,” Megita menyeletuk begitu berada di dalam mobil.
Daniel tertawa. “Aku menyiapkan ini untukmu, Meg,” jawab Daniel sambil merapikan susunan foto-foto yang ditaruhnya secara sembarang di atas jok mobil. “Foto-foto chef kita.”
“Langsung nih? Tidak ada acara penyambutan gitu? Aku jauh-jauh dari Paris lho.”