Jannang

Andim Raja
Chapter #4

Cikal Bakal Jannang

Ali Rakka meninggalkan RM. Sutari Megah dengan tubuh terasa letih luar biasa. Tulang belakang dan sendi-sendinya seperti baru saja dipukuli beramai-ramai. Punggungnya susah ditegakkannya dan hanya bisa ia sandarkan di jok mobilnya. Tangannya menggenggam setir mobil dengan cengkeraman yang lemah, bahkan jarak pandangnya pun ikut memendek. Alhasil ia menyetir lebih pelan. Entah kenapa dapur terasa lebih melelahkan hari ini. Kalau bukan karena kebiasaan menemani Amanda menghabiskan malam di jendela kamar anaknya itu, tentu Ali akan langsung tidur di restoran saja, alih-alih pulang.

 Sepanjang pagi hingga malam, Ali terus memimpin para kru dapurnya untuk memasak lebih banyak. Pasalnya, restoran sedang kedatangan pelanggan yang lebih ramai dari biasanya. Ditambah lagi restoran sedang menerima pesanan katering dari tujuh atau delapan hajatan. Bos Sutari menerima semua pesanan katering itu dan tidak berniat membatalkan satu pun dengan alasan tidak ingin mengecewakan pelanggan mana pun. Jadi, Ali dan timnya mesti lebih sibuk dari biasanya. Beruntung Ali punya wakil kepala dapur yang cekatan seperti Sam. Wakilnya, yang sekaligus sahabatnya itu, beberapa kali menggantikan perannya di dapur sementara ia beristirahat.

“Hari yang sibuk,” gumam Ali sambil menyetir. Beberapa ruas jalan Makassar lebih lengang sehingga ia bisa menyetir dalam keadaan aman. Kilatan cahaya kilat di depan sana membuatnya seketika melihat keluar. Di luar gerimis berinai-rinai kecil membasahi jalan-jalan Makassar. Hujan kecil itu langsung mengingatkannya kepada Amanda.

Ia meraih ponsel yang terletak di dashbor mobil jimny bekas yang dibelinya dengan harga murah. Dengan tangan kiri ia memainkan ponsel itu. Sebentar kemudian, di seberang sana terdengar suara rentan perempuan yang membuka percakapan lebih dahulu.

 “Halo, Nak,” itu suara Nek Wa, ibu kandung Ali.

 “Apa Amanda sudah tidur, Bu?”

 “Sudah. Baru saja.”

 “Rewel tidak dia sebelum tidur?”

 “Begitulah, Nak.”

 Ali melihat keluar sebelum menyahut. Bintang tak satu pun yang muncul dan ia tahu drama apa yang terjadi sebelum Amanda tertidur. Ia membayangkan anaknya itu datang ke mulut jendela kamarnya, bertopang dagu seperti kebiasaannya, dan menunggui bintang datang di langit sambil menyebut-nyebut nama Mama Kinari. Karena bintang tak juga kunjung muncul, panggilan pelan kepada Mama Kinari akan berubah menjadi isak tangis yang panjang. Ya, pasti Amanda membawa tangisnya itu ke dalam alam tidurnya karena merasa tidak dikunjungi Mamanya malam ini.

   “Tapi, dia makan sebelum tidur kan, Bu?”

   “Tidak.”

   “Obatnya bagaimana? Di minum kan?”

    “Kupaksa lagi.”

  “Ya sudah tidak apa-apa, Bu. Yang penting dia minum. Sekarang Ibu istirahat ya. Kalau Amanda bangun, coba-coba ditawari makan.”

     “Mau ke mana, Nak? Kau tidak langsung pulang?”

      “Aku tidak lama, Bu.”

      Telpon dimatikan.

Lihat selengkapnya