Hari ini adalah hari kedua Megita berada di Makassar. Ia belum melakukan apa-apa, kecuali bersantai. Pagi-pagi datang ke jendela apartemennya seraya menenggak koktail dan melihat-melihat jalan-jalan Makassar yang sibuk. Sesekali ia datang berjalan di kawasan pantai Losari dan mencari kuliner khas Makassar. Hampir di sepanjang garis pantai itu, makanan-makanan yang dicarinya tersedia. Ia akan mencoba dua atau tiga menu makanan sebelum kembali ke apartemennya. Sampai hari kedua itu, ia dan Daniel belum juga memulai ekspedisi. Daniel bilang masih ada yang mesti dipersiapkan sebelum memulai ekspedisi yang kedua itu.
“Kalau kau bosan, coba baca buku catatan itu, atau jalan-jalanlah di sekitar pantai. Kau bisa juga belanja keperluan-keperluan kita saat mulai jalan nanti. Makanan, pakaian, perlengkapan keamanan, atau apapun itu. Yang jelas, kita belum akan bergerak. Tunggu isyaratku, oke?” Begitu pesan Daniel saat kali terakhir mereka berjumpa kemarin. Dua dari tiga saran Daniel di pesannya itu, sudah dilakukan Megita. Ia mengitari pantai Losari yang hawanya segar di pagi hari. Ia juga sudah berbelanja beberapa hal yang kiranya memang akan ia perlukan saat dalam perjalanan kelak. Semua belanjaannya itu kini ditumpuknya di atas sofa berwarna kelabu itu. Satu lagi yang belum dilakukannya adalah membaca catatan berjudul ‘Jannang: Ditumbuhkan Meneer, Dihabisi Tentara’. Bukan karena ia malas melihat bundelan yang semi tebal itu, tapi ia belum siap menemukan fakta-fakta mengejutkan di dalamnya.
Sekali lagi Megita menenggak koktailnya. Begitu bibir gelas itu terlepas dari bibirnya, wajah Rion tiba-tiba terlintas di pikirannya. Di dapur mana atau di ranjang mana lelakinya itu kini menghabiskan waktu bersama Erlina? Rahang Megita mengeras membayangkan itu. Ia mencengkeram gelas koktailnya dengan lebih kuat.
Selama empat tahun ia dan Rion tidak pernah saling berkabar walau sekadar chattingan. Laki-laki yang secara administrasi hukum negara dan hukum agama itu masihlah suaminya, tidak pernah pulang juga ke rumah mereka. Apakah pertengkaran mereka empat tahun lalu begitu membekas di hati Rion sampai ia tidak juga memaafkan Megita? Atau, apakah perlakuan-perlakuan Megita kepada masakan-masakannya bukanlah sesuatu yang bisa dimaafkan? Atau, jangan-jangan Rion sudah tenggelam dan larut dalam cita rasa masakan yang dibuat Erlina? Mungkinkah laki-laki itu sungguh tenggelam dalam pelukan dan rengkuhan Erlina?
Saat Megita memutuskan berhenti dari pekerjaannya sebagai bankir dan berangkat ke Paris untuk belajar memasak di Le Cordon Blue, ia sempat datang ke restoran tempat Rion bekerja. Ia ingin berpamitan sekaligus menunjukkan tekadnya betapa ia ingin berubah menjadi seorang perempuan yang serius menghormati masakan. Namun, belumlah ia sempat masuk ke dapur, langkahnya terhenti oleh suara cekikikan dua orang yang dikenalinya. Itu suara Rion dan Erlina yang sedang memasak bersama di dapur. Ia bahkan mendengar Rion memuji Erlina sebagai perempuan terbaik yang pernah ditemuinya. Erlina pandai memasak dan paham perihal aroma dan cita rasa.
Langkah Megita surut mendengar itu. Ia pulang. Sampai ia bersekolah di Paris, tinggal dan kerja di Paris, melakukan ekspedisi ke pedalaman Sulawesi Selatan dua tahun lalu, dan kini ia datang lagi ke Makassar untuk tujuan yang sama—semuanya tak satu pun ia kabarkan kepada Rion. Dalam hatinya betapa ia selalu ingin memberi tahu Rion tentang apa yang ia lakukan demi pernikahan mereka, tapi ia menahannya. Ia menahan diri sampai ia bisa menjadi perempuan juru masak yang melebihi Erlina. Itulah saat yang tepat untuk merebut kembali lelakinya dan membawanya kembali ke dalam rumah mereka.
Megita meletakkan cangkir koktail yang telah kosong. Salinan lontara pohon silsilah yang tertele di sisi cangkir kosong itu, menarik perhatiannya. Ia meraihnya.
Dua hari ini, Megita merasa salinan lontara itulah hal terbaik yang terjadi kepadanya. Betapa lembaran naskah kuno itu akan menjadi dokumen penting baginya untuk menelusuri anak keturunan keluarga jannang. Ia memulainya dari Ali Rakka, sang kepala dapur itu. Ia merasa harus mengucapkan segunung kata terima kasih untuk Daniel yang sudah menyelamatkan salinan naskah kuno itu.
Dr. Nawang Maccarita, darinyalah ia mendapatkan salinan lontara silsilah itu. Ia berkenalan dengan doktor ahli sejarah sekaligus ahli naskah kuno itu secara tidak sengaja di Paris dua tahun lalu. Itu bulan-bulan pertama ia menyelesaikan sekolahnya di Le Cordon Blue dan memilih magang sebagai kru dapur di salah satu restoran dekat Eiffel.
Laki-laki bertampan necis dan klimis itu yang kali pertama menyapanya. Dr. Nawang mengaku melihatnya memasak dengan sangat menarik dari balik dinding setengah terbuka yang memisahkan dapur dengan ruang makan utama. Dari postur tubuh Megita yang cenderung lebih mungil daripada kru dapur lainnya, kulitnya yang sedikit lebih coklat daripada yang lainnya, hidungnya yang setengah bangir, dan rambutnya yang hitam legam, Dr. Nawang langsung menebaknya kalau ia berasal dari salah satu negara tropis di Asia Tenggara. Dr. Nawang tidak langsung pulang selepas menyelesaikan makannya. Ia sengaja berlama-lama di pelataran restoran itu hanya untuk menunggu Megita keluar dari dapur.
Di jalan Dr. Nawang mencegat Megita dan memperkenalkan dirinya bahwa ia dosen sekaligus ahli sejarah dari Indonesia. Dr. Nawang senang sekaligus terkejut saat mendengar pengakuan Megita bahwa ia pun dari Indonesia. Maka, dimulailah perkenalan itu.
Selama dua pekan sisa kunjungan Dr. Nawang di Paris, selama itu pula ia kerap kali bertemu dengan Megita. Lebih sering di restoran tempat Megita bekerja. Sekali-kali mereka jalan-jalan bersama mengelilingi taman di sekitaran Eiffel, menjelajahi Palace of Versailles, mendebatkan lukisan Monalisa di dalam Alieum Louvre, atau kalau sedang bosan mereka akan berlayar di atas Sungai Seine yang mempesona. Barangkali begitulah dua perantau yang bertemu di tanah rantauan. Tanpa terencana akan terjalin kedekatan yang penuh kekeluargaan dan solidaritas.
Dalam kedekatan yang intim, hangat, dan sangat kekeluargaan itu, berkali-kali pulalah cerita di antara mereka bergulir.
Dr. Nawang bercerita bahwa sekalipun memiliki segalanya, ia hampir menjadi sebatang kara. Ia tidak menikah, tidak punya anak. Hidupnya didedikasikan sepenuhnya untuk belajar sejarah dan lebih fokus mempelajari naskah-naskah kuno. Orang tuanya sudah lama meninggal. Ia pernah punya seorang saudara perempuan sebelum kemudian menyusul kedua orang tuanya. Meninggalkannya dalam kesendirian dan hanya dikelilingi naskah-naskah kuno di rumahnya di Makassar.
Setali tiga uang dengan Dr. Nawang, Megita juga membagi tentang hidupnya kepada doktor sejarah itu. Dan itulah hari pertama ia menceritakan tentang seorang Rion dan Erlina yang membawanya datang ke Paris untuk belajar memasak. Tentang dirinya yang mengorbankan karir sebagai bankir penting di Jakarta dan datang ke Paris untuk mengejar karir lain yang sangat bertolak belakang dengan dunia lamanya.
Hingga pada suatu hari, sesaat sebelum Dr. Nawang berpamitan untuk pulang ke Indonesia, ia mengejutkan Megita dengan pengakuannya yang tiba-tiba; kau kembali ke Indonesia dan saya punya selembar naskah kuno yang akan membuat dunia memuja masakanmu. Saya menunggumu di sini, Nak. Dan kedatanganmu tidak akan sia-sia, kata Dr. Nawang seraya memberikan kartu namanya kepada Megita sesaat sebelum berangkat ke bandara Charles de Gaulle.
Aku meragukannya, Doktor, balas Megita.
Jangan lupa. Saya ahli naskah kuno, Nak.
Megita tidak pernah mengacuhkan semua yang dikatakan Dr. Nawang di hari terakhir mereka bertemu itu. Sampai suatu ketika, Dr. Nawang kembali mengontaknya dari Indonesia.
Di dalam trem yang mengantarnya meninggalkan apartemennya dan menuju restoran tempat ia bekerja, ponsel Megita berdenting-denting. Ia mengecek dan melihat bahwa rupanya bunyi notifikasinya berasal dari aplikasi Instagramnya. Ada pesan masuk dari sebuah akun bernama @nawangcarita. Selepas kepulangan Dr. Nawang ke Indonesia, itu adalah pesan pertama yang diterima Megita darinya.