Dr. Nawang sedang merapikan buku-buku di raknya, saat terdengar suara klakson dari luar. Ia meninggalkan rak itu kemudian berjalan tersurut-surut membuka gerbang pagar yang menjadi pintu pertama untuk masuk ke rumahnya. Tadi sebelum berjalan untuk datang membuka pagar itu, dari balik jendela ia memindai dengan mata tuanya mobil siapa gerangan yang menggerung-gerung di depan rumahnya. Karena dua tahun ini Daniel terlalu sering datang ke rumahnya, bahkan lebih sering dari siapa pun, lebih sering dari mahasiswa-mahasiswanya, ia tidak perlu memicingkan mata terlalu lama untuk tahu siapa yang datang.
“Selamat pagi, Doktor,” Megita mendahului Daniel menyapa Dr. Nawang. Ia membuka kaca mobil dan mengeluarkan kepalanya. Megita menyunggingkan senyum yang ditimpali Dr. Nawang dengan senyum pula. Itu pertemuan mereka setelah dua tahun. Megita turun dan buru-buru menyalami Dr. Nawang.
“Saya pikir cuma Daniel yang datang,” timpal Dr. Nawang seraya menyambut tangan Megita. “Apa kabar, Nak? Kita baru ketemu lagi ya.”
“Ya, seperti inilah, Doktor. Aku baik-baik saja untuk tetap memperjuangkan kebahagiaan rumah.”
“Kau di jalan yang benar, Nak,” Dr. Nawang menatap Megita.
Sementara Daniel mendorong pagar, Megita dan Dr. Nawang berjalan beriringan menuju teras rumah itu. Mereka melanjutkan basa-basi dengan saling menanyakan kabar, kesibukan dua tahun terakhir, dan perihal sejak kapan Megita berada di Indonesia. Percakapan itu bergulir dengan hangat bagai teman lama yang baru bertemu lagi.
Megita melihat tidak ada yang berubah dengan rumah itu. Sunyi sepi, cahaya matahari yang temaram, debu yang menyelinap di antara sela-sela perabotan rumah, dan bertumpuk-tumpuk buku di mana-mana.
Di dalam, Megita sempat berkeliling. Ia mencari kalau-kalau di salah satu sudut dinding rumah itu ada pemandangan yang berbeda. Mungkin foto Dr. Nawang bersama seorang perempuan yang mengenakan gaun pengantin.
“Saya pasti mengabarimu, Nak. Lagipula saya sudah tua. Mana ada perempuan yang mau menikah dengan orang tua seperti saya,” Dr. Nawang mengagetkan Megita.
Megita tersipu. “Doktor tahu pikiran aku?”
“Kau melakukan ini dua tahun lalu.”
“Meg, kau mau kopi atau teh?” tawar Daniel yang baru saja memarkirkan mobil. Kini ujug-ujug berlagak seperti tuan rumah dan memotong percakapan Megita dan Dr. Nawang.
“Uhm iya, teh saja. Sedikit gula.”
Daniel berlalu ke belakang tanpa memberikan tawaran yang sama kepada Dr. Nawang. Ia sudah menghapal selera doktor sejarah itu, kopi hitam pahit. Sejak ekspedisi mereka gagal dua tahun lalu, Daniel lebih sering bersama Doktor Nawang. Ia tinggal di rumah doktor sejarah itu. Sekali-kali saja ia pulang ke Jakarta. Dari rumah itu, Daniel mengatur strategi. Mencari cara memata-matai Ali. Mengumpulkan informasi yang penting perihal kepala dapur itu. Dan membaca tulisan-tulisan yang bersangkut-paut dengan kepentingannya di Makassar. Ia tidak perlu untuk menikah lebih dahulu untuk tahu seberapa penting urusan ekspedisi ini untuk Megita. Ia tidak perlu berumah tangga lebih dahulu untuk tahu seberapa penting mengembalikan kehangatan rumah tangga seperti yang diperjuangkan Megita. Ia bersimpati dan berempati kepada sahabatnya itu.