Jannang

Andim Raja
Chapter #7

Catatan Aroma 1

Megita pulang dengan setumpuk tanya di kepalanya. Ada apa dengan sebundel catatan yang diberikan Daniel? Apa kaitan catatan itu dengan dua keluarga jannang yang pindah ke dalam hutan? Trauma apa yang menghantui mereka selama ini? Sungguh, Megita merasa bersalah memulai ekspedisinya dua tahun lalu tanpa banyak persiapan. Kesemboronoan itu mengakibatkan orang-orang yang tak tahu apa-apa itu mesti menanggung akibatnya.

Sesudah menenggak koktailnya, Megita mulai membaca.

 

Catatan 1:

Suatu pagi di tahun 1936, pagi-pagi Rakka merentangkan kedua tangannya menghadap istal milik Tuan Jaap yang di dua bagian sisinya berkibar bendera merah-putih-biru milik Belanda. Rakka merentangkan tangan sambil mengisi rongga dadanya dengan udara segar pagi yang berembus dari bebukitan kecil di depan sana. Ia seperti tahanan penjara yang baru saja lepas setelah hukuman lima belas tahun. Atau, ia bagai seorang pemalas yang senantiasa bangun kesiangan dan melewatkan 10.227 pagi sepanjang hidupnya lantas tak tahu bagaimana segarnya hawa pagi. Sungguh-sungguh ia memejamkan mata dan menghirup penuh-penuh udara pagi di sekitar hidung besarnya bagai baru dirasakan seumur hidupnya. Selagi adegan picisan itu dilakukannya, ia bersyukur mengambil keputusan tepat untuk menawarkan dirinya menjadi joki bagi Tuan Jaap.

Tuan Jaap yang mengintip dari balik gorden jendela, membiarkannya begitu saja. Belanda bongsor yang bekerja sebagai administratur di loji pemerintah Hindia Belanda di afdelling Bulukumba itu mafhum bahwa selama ini Rakka hanya melihat tembok loji selama bekerja sebagai jongos di sana. Tentu pemuda pribumi macam Rakka merindukan pekerjaan lain yang bisa membebaskan jiwa raganya dan bukannya seumur hidup hanya mengurusi pekerjaan-pekerjaan domestik di dalam loji atau melayani banyak orang Belanda yang lain. Ketika Rakka datang kepadanya dua hari lalu untuk meminta pekerjaan sebagai joki pacu kuda, ia menerimanya karena Rakka memang menjanjikan. Setahu Tuan Jaap, sudah tujuh kali Rakka menang pacuan kuda. Ia mengingat-ingat, catatan itu salah satu catatan terbaik yang pernah diraih joki yang pernah bertanding di lintasan pacunya—atau jangan-jangan yang terbaik.

Tuan Jaap melepaskan gorden dan datang duduk ke meja sarapan. Di situ sudah mengepul kopi hitam panas, roti panggang, dan empat butir telur rebus. Tuan Jaap ingin memanggil Rakka untuk menyantap sarapan, tapi urung ia lakukan.

“Biar saja anak muda itu bermain-main dulu,” gumamnya.

Rakka memang bermain-main. Ia masih melanjutkan adegan picisannya. Selagi kedua tangannya masih terentang di udara, ia lantas berlari berkeliling dan berputar-putar seperti pesawat tempur.

Ah, itu membuat Tuan Jaap tak tahan. Ia memang tak suka dan tak sering melihat kekonyolan. Dan pemuda pribumi di hadapannya langsung memberinya kekonyolan yang teramat di hari pertama bekerja di rumahnya. Ia bangkit, berjalan empat atau lima langkah, dan hendak berteriak memanggil Rakka masuk duduk dan menikmati sarapan bersamanya. Itu akan serta-merta menghentikan kekonyolan Rakka. Tapi, pemuda yang seperti kasmaran itu malah menghilang di balik pokok cempedak dan berlari menuju istal.

“Dasar anak muda,” teriakan Tuan Jaap seketika malih rupa menjadi gumaman. Ya, gumaman. Sampai pukul enam lewat pagi itu, entah kenapa ia sering sekali bergumam. Sebelum dua gumamannya yang ia tujukan kepada Rakka barusan, pagi itu ia sudah bergumam lebih sering kepada jongosnya yang lain, kepada istrinya Nyonya Helena. Termasuk pula kepada Raiya, jongos istimewanya. Kalau bukan karena senyum yang tetap merekah dan aura wajah yang masih positif, tentu orang-orang akan menduga ia sedang dalam masalah berat. Ia menggumam semata-mata karena sedang ingin irit bicara saja.

Sementara itu, tanpa tahu apa yang dipikirkan Tuan Jaap, Rakka kini sudah berada di dekat istal milik tuannya itu. Matanya berbinar-binar penuh melihat lintasan pacu kuda di sebelah istal itu sekali lagi, juga kuda-kuda sehat dan berotot milik Tuan Jaap di dalam kandangnya. Ia tahu lintasan pacu kuda itu tidak semegah lintasan di Batavia, Bandung, atau Makassar seperti yang seringkali didengarkannya dari orang-orang Belanda. Tuan Jaap juga membuatnya ala kadarnya sekadar sebagai tempat hiburan, tapi Rakka selalu suka berada di tempat itu.

Rakka bahkan merasa candu mendengar ringkikan dan dengkuran kuda-kuda itu. Sampai akhirnya ia ikut meringkik-ringkik dan mendengkur-dengkur menirukan suara kuda-kuda. Ia sama sekali tidak peduli dengan pribumi lain bernama Gau yang kebetulan ada di istal dan sedang menatapnya sambil menggeleng-gelengkan kepala. Sudah cukup lama Gau bertugas di istal itu, tapi ia tidak pernah menyaksikan kekonyolan seperti apa yang sedang dilihatnya dari Rakka. Sudah cukup sering juga ia beradu cepat dengan Rakka di atas lintasan pacu kuda, tapi ia tidak menyangka orang itu sungguh konyol.

“Peduli setan kau,” umpat Rakka berbisik. Masih dengan ketidakpedulian yang sama, ia membuka pintu kandang.

Lihat selengkapnya