Di bawah langit Paris yang beku, seorang perempuan dari negeri tropis berhasil menyelinap masuk ke apartemen Megita. Apartemen itu sudah tiga hari kosong, sehingga perempuan itu bisa melakukan apapun sebebas-bebasnya di dalam.
Namun, ia tak hendak mencuri. Juga tidak sedang ingin mengacak-acak dan mengobrak-abrik tempat itu. Ia bahkan berencana keluar dari tempat itu tanpa jejak apapun. Ia hanya mencari sesuatu untuk menguatkan dugaannya; bahwa Megita akan mengulang kembali ekspedisinya dua tahun lalu yang pernah berhasil digagalkannya.
Perempuan negeri tropis itu tidak pernah mau melihat Megita menjadi chef yang lebih baik darinya. Membiarkannya terjadi sama saja membiarkan posisinya sebagai chef terhormat di Jakarta berada dalam ancaman. Itu juga akan mempertaruhkan nasib hubungannya dengan laki-laki yang dicintainya. Sehingga dua tahun lalu, ia lebih dulu berangkat ke pedalaman yang akan dituju Megita. Di sana ia melakukan siasat agar Megita tidak bisa menemukan apa yang dicarinya. Dan ia berhasil melakukannya.
Kini setelah dua tahun berlalu, perempuan negeri tropis itu tahu bahwa Megita kembali mengulang ekspedisi itu. Ia yakin di ekspedisi Megita yang kedua kalinya itu tentu tidak mungkin dilakukannya tanpa persiapan yang lebih matang. Perempuan negeri tropis itu tak ingin kalah langkah, maka ia berangkat ke Paris. Tak ada pilihan lain. Jejak rencana Megita hanya bisa diendusnya dari kota itu.
Rupanya semua mudah saja. Apa yang dicarinya tertele begitu saja di atas meja yang tampaknya ditinggalkan dengan terburu-buru. Selembar kertas hasil cetakan print out yang tidak presisi di segala sisi, tapi isinya teramat penting; sebuah pohon silsilah keluarga. Temuannya itu sungguh-sungguh menguatkan dugaannya; rencana Megita memang tidak main-main kali ini.
Perempuan negeri tropis itu mengeluarkan ponsel dan memfoto kertas itu. Ia lalu mengirimkannya kepada seseorang di Jakarta. Berikut dengan pesan peringatannya; perempuan sialan itu sudah mengambil langkahnya, kalian bersiaplah.
Masuk balasan: Wah, wah, wah, detektif dadakan kita. Kau memang lebih cocok jadi detektif daripada chef, Erlina.
Sialan kau, Man, balasnya.
Sesudahnya ia pergi tanpa meninggalkan jejak apapun. Tapi, kemarahan sungguh bergulung di dadanya. Cepat-cepat ia ingin pulang ke Indonesia. Ia harus mencegah Megita melangkahinya terlalu jauh.
***
Dua hari kemudian, Erlina yang masih diganggu jetlag, sudah berada di sebuah ruangan kecil bersama Anwar dan Herman. Dua chef laki-laki yang sedang berada di puncak ketenaran itu menunggu Erlina menyampaikan hasil pencariannya di Paris. Sebuah proyektor memancarkan cahayanya ke dinding. Di ujung cahaya itu tampak sebuah pohon silsilah keluarga.
“Aku mau mengulang pengakuanku dua tahun lalu,” Erlina mengambil jeda. Membiarkan pengar di kepalanya berlalu lebih dahulu, sebelum ia melanjutkan, “Sama seperti kalian, aku menikmati karir sebagai chef. Satu Indonesia mengenal kita. Para pemilik siaran TV itu menginginkan kita selalu masuk di siaran mereka. Acara benefit mereka butuh kita. Di media sosial wajah kita berseliweran. Orang-orang memuji-muji kita. Mengatakan kita sebagai standar tertinggi chef di negara ini. Tapi Megita, dia ancaman. Selalu jadi ancaman kita.”
“Kita katamu? Lin, jujur ya, aku masih tidak tahu kenapa Megita itu bisa mengancam karirku. Ya, kalau ancamannya dia mengambil kembali Rion darimu, itu sudah jelas. Tapi, buat aku dan Anwar, aku masih belum tahu,” Herman menjentikkan ujung telunjuknya ke arah ujung rokoknya.
“Kau pikir seberapa lama kau bisa bertahan di posisimu sekarang, Man?”
“Hanya kau, Anwar, dan Rion yang bisa mengancamku. Tapi siapa kalian sekarang? Kita di tempat yang sama dan bersama-sama menikmati posisi ini. Rion malah lebih peduli dengan restorannya, dia tidak peduli popularitas. So, aku melihat tidak ada yang bisa mengancamku lagi. Oh, Megita orangnya? Kenapa dia orangnya?” Herman membawa rokok setengah isapnya ke dalam bibirnya. Ia menyesapnya dan membiarkan ruangan kecil itu dipenuhi asap rokoknya. “Sekarang aku ingin tahu. Aku tidak mau ikut urusanmu tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.”
“Benar kata Herman, Lin,” Anwar menyahut. “Jadi, apa yang ada di dinding itu? Pastikan kami terlibat bukan sekadar untuk mencegah Megita mengambil kembali Rion darimu. Rion urusanmu. Urusan kita karir kita.”