“Nek Wa, malam ini Mama Kinari pindah lagi? Terakhir kan Mama Kinari ada di utara ya? Dekat rasi ursa itu kan?” Amanda bertopang dagu di mulut jendela kamarnya. Kedua sikunya bertumpu pada kuseng jendela. Kepalanya tengadah. Matanya berbinar-binar penuh memandangi hamparan kerlipan bintang di angkasa raya. Ia menunggu Nek Wa membuka mulut dan menjawab pertanyaannya.
Langit sungguh cerah malam itu. Bintang-bintang yang gemerlapan bertebaran di langit malam. Di sisi lain, bulan sedang menampakkan penuh-penuh wajahnya yang purnama. Pantulan cahaya kuningnya mengguyur apa-apa yang ada di bawahnya. Membuat malam kian terlihat cerah. Pantulan cahaya itu sampai pula ke mulut jendela Amanda. Membuat wajahnya dan wajah Nek Wa tampak seperti donat bulan yang kerap kali dibelikan Papa untuknya. Kuning keemasan dan cerah.
“Uhm, sebentar. Nek Wa cari dulu,” Nek Wa lalu memutar telunjuknya dari utara kemudian mengarah ke kiri. Berputar-putar di sana sebelum akhirnya berhenti di barat. Di sana rasi Orion sedang menampakkan dirinya yang gagah perkasa bagai sedang mengencangkan tali busurnya. “Nah, Mama Kinari di sana. Dekat sama Orion.”
Amanda terlonjak girang.
“Mama Kinari lagi menemani Orion memanah Monster Malam ya, Nek Wa?”
Nek Wa mengangguk. Tersenyum.
“Mama Kinari hebat,” gumamnya pelan kepada dirinya sendiri. Hampir-hampir Nek Wa tidak mendengar suaranya. Ia lantas menggumamkan nama mamanya berulang-ulang sambil terus mengembangkan senyumnya yang masih ditopang sepasang telapak tangannya. Ia tetap bertopang dagu di mulut jendela itu. Ia membayangkan gerakan-gerakan filmis Mama Kinari-nya bersama Rasi Orion yang melawan Monster Malam. Nek Wa mengusap-usap kepalanya penuh kasih sayang.
“Sejak kapan, Nek Wa?”
“Kapan apanya, Nak?”
“Mama jadi pahlawan malam.”
Nek Wa tercenung. Pertanyaan Amanda yang itu baru kali ini muncul dalam semesta cerita Mama Kinari jadi Bintang. Sepersekian detik, Nek Wa gelagapan mencari jawaban. Ia tidak punya rencana apa-apa untuk merangkai dan melanjutkan cerita kemunculan Mama Kinari di dekat rasi bintang pemanah itu. Lagipula, cerita Mama Kinari jadi Bintang adalah karangan Ali untuk menenangkan pertanyaan Amanda perihal ke mana mamanya pergi. Nek Wa sendiri bukan pencerita dan hingga berlalu beberapa detik ia tidak bisa menjawab pertanyaan Amanda.
Anak itu masih diam. Menunggu dengan mata penuh penasaran.
“Sekarang Mama Kinari sudah jadi pahlawan ya, Nek Wa?”
“Semua orang bisa menjadi pahlawan kapan saja, Amanda.” Suara itu datangnya dari arah pintu. Amanda menoleh. Ali berdiri di sana seraya membuka sekotak donat bulan. “Kalau ada yang jahat atau ada yang mengancam orang-orang yang disayanginya, semua bisa menjadi pahlawan kapan pun dia mau.”
“Papaaaaa….!” Amanda berseru dan berlari ke arah papanya.
Ali menjongkok untuk menyambut serbuan pelukan dari anaknya.
“Jadi mau makan donat bulan dulu atau lihat bintang sama-sama dulu?”
“Lihat bintang dulu, Pa. Mama Kinari sekarang jadi pahlawan, Pa.”
“Oh ya? Mana Mama Kinarinya?”
Amanda menarik tangan papanya ke mulut jendela. Setibanya, telunjuk mungilnya langsung mengarah ke barat. “Di sana, Pa. Nek Wa bilang Mama Kinari pindah ke sana. Dekat sama bintang orion karena Mama sekarang jadi pahlawan.” Ia kini duduk berpangku di kedua paha Papanya.
“Uhm, benar, Nak. Malam ini Mama Kinari jadi pahlawan.”
“Memangnya ada apa, Pa?”
“Ada Monster Malam yang jahaaaaat sekali. Monster itu mau menangkap semua bintang.”