RM. Sutari Megah selalu sama. Menjelang siang, kira-kira jam sepuluh lewat, dua orang petugas parkir di halaman depannya sudah sibuk bukan main. Dengan rompi oranye yang melambai-lambai dipermainkan angin, mereka mondar-mandir mengatur dan merapikan kendaraan-kendaraan yang masuk. Peluit mereka melengking-lengking membelah udara dan menggertak kendaraan-kendaraan yang sulit diatur. Pemandangan itu akan kontras dengan beberapa rumah makan dan warung-warung kecil di sekitarnya yang masih adem-ayem saja, bahkan ada yang belum buka. Kalau pun ada yang terlihat ramai, itu adalah gerobak batagor yang tampak melayani enam atau tujuh pembeli yang berebutan mendapat giliran.
Di dalam keadaan lebih ramai lagi. Para waitress dengan seragam hijau emerald tidak berhenti datang dan pergi melayani tamu. Di depan meja kasir tampak antrean orang-orang yang baru saja menuntaskan makannya dan berbaris hendak membayar. Para kru wahana di sisi kanan tidak kalah sibuknya mengatur orang-orang dan anak-anak yang ingin bersantai sambil menunggu pesanan. Terlihat dua orang dengan seragam hijau emerald yang sama sedang membawa gawai dan mengarahkannya ke beberapa sudut untuk mengambil gambar. Mereka dua kru media sosial yang bertugas mempublikasi kesibukan, adegan, dan spot-spot menarik di dalam rumah makan itu. Betapa rumah makan yang memiliki manajemen yang tertata rapi. Sutari, sang owner, memang seorang yang visioner dan perfeksionis.
Namun, tidak semua bergerak dalam irama yang sama. Di jantung rumah makan itu, sedang terjadi anomali yang begitu langka. Sang kepala dapur, Ali, berperilaku tidak seperti biasanya. Sejak pagi ia memang berhasil memimpin para kru dapurnya menyelesaikan pesanan-pesanan, tapi tampak betul ia tidak dalam keadaan yang prima. Tampak betul pikirannya sedang tidak berada di dapur itu. Tampak betul pikirannya sedang tidak diisi masakan-masakan yang diraciknya.
Tidak ada pidato pembuka seperti biasanya. Tidak ada kalimat-kalimat motivasi yang membakar semangat para krunya. Tidak ada pengecekan alat tulis-menulis yang biasanya ia instruksikan kepada para krunya untuk disiapkan. Lebih-lebih tidak pernah terdengar Ali memerintah salah seorang krunya untuk mencatat keperluannya di dapur.
Di antara banyak menu yang tersaji sampai detik itu, tidak satu pun yang melalui pengujiannya. Padahal biasanya ia adalah orang pertama yang memvalidasi setiap cita rasa makanan yang dihasilkan para krunya. Kalau ada rasa yang kurang pas, ia akan turun tangan sendiri memperbaikinya. Tetapi hari itu, ia tidak melakukannya. Ia enggan dan mengatakan semua makanan yang telah dimasak, punya hak yang sama untuk disajikan. Sebuah pernyataan dan kebiasaan yang sangat bukan ‘Ali’. Ia bahkan tidak pernah terlihat mengkoordinir setiap agenda dapur hari itu.
Tampaknya perilaku aneh Ali tidak luput dari perhatian Sutari. Tentu ia memantaunya dari CCTV di ruang dapur. Kepada salah seorang staf manejemennya, Sutari meminta agar dipanggilkan Ali masuk ke ruang pribadinya.
“Li, saya perhatikan kau kurang sehat hari ini, ya,” buka Sutari begitu Ali duduk di depannya. Mereka hanya dipisahkan meja berukuran sedang. Di atas meja itu secangkir kopi arabika masih mengepulkan uapnya. Berikut sebuah buku catatan yang entah isinya apa. “Saya dengar krumu bergunjing tentang kau. Katanya, kau tidak seperti biasanya hari ini.”
“Aku tidak kenapa-kenapa, Pak.”
“Di CCTV saya juga tidak melihatmu pernah bicara dengan krumu, Li.”
“Cuma malas saja.”
“Ada apa?”
Ali tidak menyahut.
“Saya tidak perlu mengingatkanmu tentang visi restoran ini kan, Li?”
“Kepuasan pelanggan adalah segalanya. Aku ingat, Pak.”
“Dengan keadaanmu ini, masakanmu tidak goyang?”
“Anak-anak sudah hapal mati semua resep kita.”
“Ya, tapi mereka seperti anak ayam kehilangan induk. Mereka hapal mati resepmu, tapi mereka juga bisa error.”
Ali tidak menyahut.
“Kau istirahat saja hari ini, Li. Masih ada wakilmu yang bisa memimpin dapur kita hari ini. Saya tidak ingin menu kita dipimpin oleh orang yang tidak siap. Itu sama saja mempertaruhkan kepuasan pelanggan.”
Setelah jeda yang sebentar, Ali menghela napas panjang. Ia mematuhi saran bosnya itu. Ia bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu keluar. Sesaat sebelum melewati ambang pintu, ia berhenti dan menengok ke arah Sutari. Ia berpesan bahwa apabila ada masalah di dapur, ia tetap bisa dihubungi kapan saja. Sutari tersenyum seraya mengangkat jempol.