Petang baru saja malih rupa menjadi malam, saat suara sepasang kucing berahi begitu nyaring menembus kisi-kisi jendela. Megita berada di dalam salah satu kamar di rumah Dr. Nawang, mencoba tak acuh kepada suara sepasang kucing tak tahu malu itu, dan membuka sebundel catatan yang ditaruhnya di atas meja. Di luar, Daniel sedang berdebat dengan Dr. Nawang, Arif, dan Manto perihal cara-cara paling damai, manusiawi, aman, dan bersahabat untuk melibatkan Ali dalam ekspedisi. Tentu saja Daniel yang paling bising berbicara sebab dirinyalah yang paling tahu banyak tentang Ali. Tiga yang lain berperan sebagai penimpal bicara Ali sekaligus pendebat yang serius.
Di dalam kamar, Megita mulai membaca:
Catatan 2:
Namun, Gau tak terima begitu saja. Di hari yang sama, matahari baru saja condong ke barat saat Tuan Jaap dan Nyonya Helena sedang menyantap makan siang. Gau muncul di sana dan mengutarakan keberatannya atas keputusan semena-mena dan cepat yang dibuat Tuan Jaap.
“Tidak adil, Tuan. Ini tidak adil. Tuan terlalu cepat memutuskan,” Gau setengah membungkuk saat mengatakannya. Betapa pun kemarahan bergulung di dadanya, ia tidak lupa untuk tetap memberikan penghormatan. Gau sedang mempertontonkan nasib pribumi di tanah sendiri. Begitulah yang terjadi secara umum. Inlander sejati yang mesti tetap dan harus selalu membungkuk kepada para kompeni.
Sekali pun begitu, keputusan Gau datang di saat jam makan siang adalah kesalahan senyata-nyatanya. Nyonya Helena adalah perempuan Belanda yang selalu memberi hormat kepada meja makan dan segala rupa makanan yang tersaji di atasnya. Baginya, di meja makan tiada lain yang boleh dilakukan hanyalah makan dan sesekali mengobrol. Kebiasaan itu bahkan sudah lama dilakukannya sejak di Belanda. Saat masih kanak, remaja, dan sampai Tuan Jaap mempersuntingnya.
“Kau tidak melihat kami?” Nyonya Helena menimpali ketus. Terang saja ia akan bereaksi, alih-alih Tuan Jaap.
“Maaf, Nyonya. Tapi, sulit menemui Tuan Jaap kalau bukan di waktu-waktu meja makan sedang terisi.”
“Kau bisa menunggu.”
“Maaf, Nyonya.”
“Kau akan terus di situ?”
“Tuan harus memberiku kepastian, Nyonya.”
Melihat mata istrinya sudah dikilati api amarah, Tuan Jaap buru-buru mengambil tindakan sebelum justru istrinya itu yang bertindak. Ia hapal betul bahwa apabila sedang di meja makan dan menghadapi makanan, istrinya tidak boleh diganggu hal-hal lain. Membiarkan itu terjadi sama saja memancing perempuan itu menjadi macan betina yang susah dikendalikan. Bagi Nyonya Helena meja makan adalah tempat yang suci—kalau tidak boleh mengatakan ia mengultuskannya. Sejak masih di Belanda, sampai kini hidup bersama di Hindia Belanda, Tuan Jaap dan Nyonya Helena tidak pernah tidak makan bersama di meja makan yang sama, kecuali kalau salah seorang atau dua-duanya sedang ada kesibukan yang genting di luar yang membuat ritual makan bersama keluarga mereka mustahil digelar. Maka, sesungguhnya Gau sedang menyulut api. Tololnya, laki-laki pribumi itu tentu tahu perangai nyonyanya dan ia mencoba tidak memedulikan itu. Tuan Jaap meloloskan tiga tegukan air putih ke kerongkongannya sebelum berdiri dan memberi isyarat kepada Gau untuk mengikutinya keluar.
“Katakan kenapa aku tidak adil?” sekonyong Tuan Jaap melanjutkan ketegangan itu begitu tiba di ruang tamu. Ia mengeluarkan cerutunya untuk mengusir sisa-sisa sambal pedas buatan Raiya yang masih menempel di bibirnya. Ia sesap cerutunya dan menunggu Gau menjawab pertanyaannya. “Jangan buang waktuku untuk urusan setidak penting ini, Inlander. Bicara cepat.”
Tidak penting? Londo brengsek. Ini menyangkut masalah hidupku dan ia malah bicara sekurang ajar itu. Gerutu Gau dalam hatinya.
“Keputusan Tuan terlalu cepat. Tuan seharusnya menunggu Rakka memperlihatkan dulu kerjanya. Bagus atau tidak, barulah Tuan seharusnya memutuskan.”
“Jangan mengajariku.”
“Tidak, Tuan, tapi ….”
“Berapa kali dia mengalahkanmu?”
Gau tidak menjawab.