Catatan 3:
Di suatu pagi, setahun sesudah Rakka tinggal di istal itu, Tuan Jaap datang dengan sepasang pakaian khakinya. Ia datang ke istal menengok Rakka. Saat ia tiba, Rakka sedang menyiapkan kudanya. Memberi makan kuda itu dan terdengar Rakka mengajaknya dalam percakapan yang tentu berlangsung satu arah. Di sebuah bale-bale, Tuan Jaap melihat dua atau tiga piring kosong bekas sarapan jokinya itu.
“Aman, Tuan,” sahut Rakka yang paham arti tatapan tuannya. “Aku dan si hitam ini siap jiwa raga. Tubuhku sudah diisi makanan-makanan lezat jannangmu.”
Tuan Jaap mengangguk lantas berbasa-basi sebentar sebelum kemudian datang ke lintasan pacu yang sudah ramai. Di sana ia melihat sudah ada beberapa orang Belanda duduk di atas tribun sembari melihat joki-joki mereka yang berlatih atau menyiapkan kuda masing-masing. Ia juga melihat beberapa bangsawan pribumi bergabung dalam perbincangan bersama Belanda-belanda itu. Saat ia tiba, pembicaraan berhenti dan semua kemudian sibuk memasang taruhan.
Begitu pemasangan taruhan judi selesai, seorang pribumi ringkih datang ke dekat garis mulai. Ia memberi aba-aba agar kedua belas joki mengambil posisi mulai masing-masing. Ia berteriak lantang dan dimulailah lomba. Lintasan pacu di atas tanah kering berdebu itu segera berubah menjadi kepulan asap tebal bagai ada ratusan cerobong asap di sana dan berlomba menyemburkan asap masing-masing. Begitu tebal, begitu gemuruh, begitu mengaburkan pandangan.
Untunglah pemandangan itu tidak berlangsung lama. Segera debu-debu asap itu terurai di udara sehingga yang tampak kini hanyalah belasan ekor kuda dan joki masing-masing yang sedang berlomba menjadi yang paling depan. Suara gedebuk kaki kuda yang bergerak luar biasa lincah, bersatu-padu dengan hentakan aba-aba para joki. Ditambah lagi sorak-sorai riuh para pemasang taruhan dan penonton, menciptakan keseruan yang mendebarkan.
Namun, Tuan Jaap bukanlah termasuk yang berdebar-debar. Sampai ia meninggalkan kursinya dan datang ke tepi tribun, Rakka masih memimpin pacuan. Itu memberikannya kelegaan. Ketika para Belanda lain mulai memisuh karena kuda-kuda mereka terus tertinggal, Tuan Jaap tetap tenang berdiri di tepi tribun. Saat memasuki dua putaran terakhir dan Rakka tetap menjadi yang paling depan, Tuan Jaap menarik diri dari tepi tribun dan kembali ke kursinya. Ia semakin tenang dan yakin akan kembali memenangkan pacuan kuda hari itu. Begitulah pemandangan yang berkali-kali terjadi sejak Rakka menjadi jokinya. Berkat Rakka, ia selalu mendapatkan prestise dan kebanggaan yang sudah lama ia damba-dambakan.