Pagi baru saja merangkak naik ketika Ali berada di dalam Jimnynya dan melajukannya menembus sisa-sisa kabut pagi. Tempat yang ditujunya adalah sekolah tata boga tempat ia dulu belajar memasak, sekaligus menjadi pengajar sebelum Sutari menjadikannya kepala dapur di RM. Sutari Megah. Semalam Ali menceritakan kepada Nek Wa tentang pesan-pesan anonim bernada ancaman yang diterimanya. Pesan-pesan anonim yang juga berulang kali mempertanyakan jati dirinya. Secara mengejutkan, Nek Wa malah menyebutkan sekolah tata boga itu sebagai tempat satu-satunya yang mesti ia tuju apabila ingin mencari tahu jati dirinya yang sebenarnya.
Kata-kata Nek Wa mengubah pandangan Ali kepada sekolah tata boga itu. Sejak dulu, baginya sekolah itu adalah tempat ia menemukan cinta sejatinya. Di sanalah kali pertama ia bertemu dengan Kinari. Mereka sama-sama peserta kursus memasak di tempat itu, lalu sama-sama jatuh cinta, dan di suatu hari yang bahagia mereka memutuskan menikah. Namun, siapa duga, tempat itu rupanya menyimpan misteri yang tak diketahui Ali tentang siapa ia sebenarnya.
Matahari masih tampak rendah di ufuk timur saat Ali menyetop mobilnya. Seberkas cahaya matahari yang teriknya tak menyengat langsung menyentuh kulitnya begitu ia menurunkan kaca mobil. Tampak jalan masuk ke sekolah tata boga itu mulai ada kehidupan. Empat atau lima orang yang mungkin saja peserta kursus tampak berjalan memasuki area depan sekolah tata boga itu. Muda-mudi itu begitu semringah dan dipenuhi semangat. Mereka membuat Ali teringat masa bertahun-tahun lalu saat ia hampir tiap pagi melewati jalan yang sama untuk datang belajar memasak di tempat itu.
Dan tentu saja, ia pun teringat Kinarinya. Obrolan-obrolannya bersama Kinari sepanjang berjalan memasuki halaman depan sekolah tata boga itu. Kebiasaan mereka menunggu pete-pete pulang di bawah pohon ketapang. Resep-resep makanan yang mereka bahas. Senyum Kinari. Mata Kinari. Aroma tubuh Kinari. Kebiasaan berpakaian Kinari. Semuanya kembali terkenang-kenang di benak Ali.
Ali tidak ingin terlalu lama melankoli, jadi ia berhenti memandangi muda-muda itu. Lagipula tujuannya datang kembali ke sana bukanlah untuk mengenang Kinari, tetapi demi menguak jati dirinya sendiri dan mencari tahu sumber pesan anonim yang diterimanya beberapa hari ini. Ia ingin bertemu seseorang yang selama ini dikiranya sekadar pemilik tempat kursus itu, tetapi ternyata tahu banyak tentang kehidupannya—setidaknya begitulah yang dikatakan Nek Wa. Orang itu adalah Pak Yunus, yang baru semalam ia tahu bernama lengkap Yunus Rakka. Bukannya Yunus Ramli seperti yang dipercayainya selama ini. Yang adalah saudara kembar Nek Wa. Betapa naif Ali tidak pernah mempertanyakan kemiripan wajah Yunus dan Nek Wa. Selama ini ia mengira kemiripan yang begitu identik itu hanyalah kebetulan belaka.
Ia membuka pintu mobil dan mulai melangkah masuk melewati pagar.
Di balik pagar, Ali langsung menemukan jalan berkerikil yang dikenalinya. Itu satu-satunya akses menuju gedung tempat dulunya ia belajar memasak. Hampir sepuluh tahun lamanya ia tidak menginjak jalan selebar dua kali bahu orang dewasa itu, tapi tidak ada yang berubah di sana. Kerikil-kerikil kecil itu masih belum berganti dengan beton atau pun paving blok.
Ali berhenti dan mengedarkan pandangan ke sekeliling jalan itu. Bebungaan, pohon-pohon kersen kecil, dan palem-palem berukuran sedang masih setia menjadi penghiasnya. Tidak ada yang berubah seolah-olah pohon-pohon yang dulu kali terakhir dilihatnya itu tidak pernah mati atau tidak pernah berganti ukuran. Padahal tentu saja semuanya adalah bunga-bunga dan pohon-pohon yang baru yang susul-menyusul dan ganti-berganti ditanam di tempat itu.
Namun, sepuluh tahun adalah waktu yang lama dan mustahil untuk mempertahankan semuanya seperti sedia kala. Dalam waktu selama itu, tentu ada pula perubahan yang terjadi. Di dekat pagar beton yang mengelilingi hampir seluruh area gedung tempat kursus, di salah satu sisinya terparkir dua mobil Avanza. Di kaca depan kedua mobil itu sama-sama ada tulisan ‘Kursus Kemudi Mobil’. Pemandangan yang dahulu tidak pernah dilihat Ali.
Semakin Ali berjalan masuk, semakin ia menemukan perubahan-perubahan lain. Teras gedung kursus yang dulunya hanya diisi meja-meja dan kursi-kursi untuk bersantai, kini diisi dengan belasan muda-mudi yang menghadap serius ke mesin-mesin jahit yang bising. Di antara mereka ada seorang perempuan yang berjalan mondar-mandir sambil terus berbicara. Ali menduga kalau perempuan yang tak dikenalinya itu adalah seorang guru kursus menjahit.
Saat Ali melewati ambang pintu, ia menemukan seorang perempuan lain sedang berbicara kepada empat atau lima muda-mudi lain. Di depan mereka ada komputer-komputer yang sedang hidup. Dengan mereka semua, tempat itu menjadi lebih hidup dan semarak. Tidak seperti dahulu yang tanda-tanda kehidupan hanya bisa ditemukan di dapur. Yunus berhasil mengubah banyak tempat itu.
Ali tidak mengacuhkan mereka semua. Sama seperti mereka yang tidak merasa aneh dengan kemunculan Ali. Laki-laki itu terus berjalan masuk, menuju bagian belakang. Rencananya datang ke dapur tempat dulu ia sering bertungkus-lumus seharian. Tempat dulu ia menghabiskan banyak waktu dengan Kinari. Ia yakin, Pak Yunus bisa ditemuinya di sana.
Dari tempat yang masih cukup berjarak, suara dan aroma khas dapur sudah terasa. Bunyi wajan yang beradu dengan spatula. Piring-piring yang berdenting. Suara deru kompor gas. Dan orang-orang yang sedang belajar memasak sambil saling beradu bicara. Ali berdiri di mulut pintu dan menengok ragu-ragu ke dalam.
Sama dengan orang-orang sibuk yang tak mengacuhkannya di depan, di dapur itu juga ia mendapatkan ketidakpedulian yang sama. Kecuali, seorang pemuda pertengahan umur dua puluhan yang tampak memiliki minat dengan kehadirannya di ambang pintu itu. Pemuda itu beranjak dari dapur dan mendekati Ali.
“Ada yang bisa aku bantu, Pak? Atau, Anda mau daftar kursus di sini?” tanya pemuda itu setengah berteriak agar suaranya tidak disamarkan kebisingan-kebisingan dapur.
“Tidak. Aku cuma mau ketemu seseorang.”
“Anda mencari siapa?”
“Pamanku. Yunus.”
Pemuda itu tidak segera menyahut. Ia menatap wajah Ali lebih lekat, sebelum kemudian kembali membuka mulut. “Apakah Anda belum tahu kabar terakhir Bapak?”
Ali menggeleng.