Kira-kira lima menit yang lalu, Ali baru saja selesai menceritakan kisah tentang Mama Kinari yang mengalahkan monster pencuri bintang di angkasa raya. Bersamaan dengan berakhirnya cerita itu, Amanda kini tertidur pulas dengan kepala yang tertele di atas paha Ali. Hati-hati Ali mengangkat kepala anaknya dan memindahkannya ke atas bantal. Amanda sempat menggeliat sebentar dan mengubah posisi tidurnya, tapi ia tidak bangun. Ali menarik selimut dan meletakkannya di atas tubuh Amanda. Setelah mengecup pelan pipi anak itu, Ali datang ke dekat mulut jendela dan segera membuka kembali pesan-pesan di ponselnya. Saat itu waktu baru saja melewati pukul dua belas malam.
Ali melihat-lihat laporan keadaan dapur di RM. Sutari Megah yang dikirimkan wakilnya, Sam. Ia senang dengan kenyataan bahwa foto-foto di dapur di rumah makan itu menunjukkan bahwa semuanya berjalan normal dan wajar walau sudah ditinggalkannya selama beberapa hari ini. Sam bisa menggantikannya dengan baik. Ia pun merasa tidak masalah kalau ditinggalkannya barang beberapa hari ke depan lagi. Mungkin dua atau tiga hari. Waktu itu rencananya akan digunakannya untuk mencari alamat rumah Dr. Nawang. Ada banyak hal yang mesti ditanyakannya kepada doktor itu yang diduganya bisa saja bersangkut-paut dengan keamanan dan keselamatan keluarganya. Toh, ia sudah meminta izin kepada Bos Sutari untuk tidak masuk dapur selama berhari-hari.
Ali merogoh saku belakang celananya. Ia mengambil dompetnya dan menarik keluar kartu nama milik Dr. Nawang. Ia membolak-baliknya dan baru sadar di situ tertera pula sebuah nomor telpon. Ia melirik jam tangannya. Waktu sudah lewat tengah malam. Tentu bukan waktu yang sopan untuk menelpon, tapi entah mengapa jari-jemari Ali begitu saja bergerak-gerak memencet serangkaian angka di layar ponselnya. Terdengar bunyi telpon menunggu, lalu terdengar suara seseorang berbicara dari seberang sana. Rasa tidak enak Ali langsung sirna begitu mendengar suara yang segar—alih-alih berat dan terdengar mengantuk.
Lalu terjadi percakapan yang bersahabat. Ali memperkenalkan diri. Yang dibalas Dr. Nawang dengan perkenalan diri pula. Ali mengutarakan niatnya menemui Dr. Nawang untuk menanyakan sesuatu yang berkaitan dengan sebundel tulisan yang ditinggalkan Yunus Rakka. Dr. Nawang menyambut niatan itu dengan antusias. Mereka mengatur janji ketemu, dua hari dari sekarang. Ali menghela napas lega mengetahui bahwa ternyata Dr. Nawang orangnya sebersahabat itu. Tawarannya disambut baik. Ali menutup telpon dan mencoba tidak acuh dengan suara-suara yang seperti sorakan gembira di sekeliling Dr. Nawang.
Selepas menyelesaikan percakapan dengan Dr. Nawang, Ali hendak menuju kamarnya untuk beristirahat. Lagipula Amanda sudah tidur begitu pulas. Ia menutup kembali jendela kamar Amanda. Tapi belum sempat jendela itu tertutup sempurna, sesuatu di seberang jalan tiba-tiba menarik perhatiannya. Sebuah mobil berhenti di sana. Ali mengintip dari balik jendela.
Serombongan laki-laki turun dari kedua mobil itu. Mereka tampak berbincang sebentar lantas kemudian toleh kanan dan kiri bagai memeriksa keadaan sekitar. Gerak-gerik aneh yang mencurigakan. Saat silau cahaya lampu jalan menyorot wajah-wajah mereka, Ali mencoba mengenali mereka. Tapi, tampaknya orang-orang itu baru dilihatnya kali ini. Ali langsung teringat kembali pesan-pesan anonim yang pernah ia dapatkan.
“Apakah yang mengirim pesan-pesan anonim itu?” tanya Ali. Dadanya berdebar-debar. “Apa yang mereka lakukan di sini?”
Pertanyaan Ali menggantung. Namun, siapa pun mereka dan apa tujuannya, jelas bukanlah sesuatu yang baik. Menyambangi rumah seseorang secara beramai-ramai di tengah malam dan tak seorang pun dikenali oleh si punya rumah, jelas sama sekali tidak menunjukkan hal baik.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Ali lekas meraih tubuh Amanda dari kasur. Ia menggendong anaknya yang masih tertidur dan membawanya ke lantai satu. Di dekat dasar tangga, Nek Wa sudah menunggu. Raut wajahnya kelihatan lesu, tampak betul baru bangun tidur.
“Mereka siapa, Nak?” tanya Nek Wa.