Jannang

Andim Raja
Chapter #17

Catatan Aroma 4

Megita tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya saat tahu bahwa Ali tiba-tiba menghubungi Dr. Nawang. Tidak hanya itu, Ali bahkan berjanji akan secepatnya datang menemui Dr. Nawang. Di saat tim yang sudah mereka bentuk sedang bingung mencari cara merekrut Ali, tak disangka-sangka orang yang disasar itu yang akan datang sendiri. Begitu telpon ditutup, Megita terlonjak girang dan datang menghambur ke arah Dr. Nawang. Terbayang-bayang di kepalanya bahwa ia akan berhasil dalam ekspedisi kali ini. Alam semesta seakan mendukungnya penuh-penuh. Ia tidak dapat menepis bayangan wajah Rion yang tiba-tiba datang di benaknya. Bayangan rumah mereka yang akan kembali menghangat karena pernikahan mereka, kembali memenuhi isi kepala Megita.

“Bagaimana mungkin, Doktor? Ali menelponmu? Bagaimana mungkin?” Megita memberondong Dr. Nawang dengan pertanyaan super antusias itu.

 “Ya, saya juga terkejut.”

 “Ya, bagaimana ini bisa terjadi, Doktor?”

 Dr. Nawang tidak segera menjawab. Ia malah menunjuk bundelan catatan yang terletak sendirian di atas meja dan sedang dianggurkan Megita.

  “Catatan-catatan itu jawabannya. Sudah berapa jauh kau membacanya?”

   “Apa? Ali mau datang karena catatan itu?”

   “Ya, dia baru saja membaca catatan yang sama dan dia mau tahu banyak.”

   “Kita bisa menggunakan catatan itu untuk membuat dia benar-benar masuk tim kita,” celetuk Daniel. “Dia pasti tidak akan menolak kalau kita mengajaknya untuk menelusuri isi catatan itu sampai ke pedalaman sana.”

      “Kau benar. Saya akan menawarkan itu kepadanya,” sambung Dr. Nawang.

      “Kapan dia akan datang, Doktor?” balas Megita.

      “Dua hari lagi.”

      Dua hari, waktu yang lebih dari cukup bagi Megita untuk menyelesaikan catatan-catatan itu. Sekaligus mencari tahu apa gerangan isi catatan itu yang membuat Ali tiba-tiba saja menawarkan dirinya untuk menemui Dr. Nawang.

 

 

Catatan 4:

Tahun 1942

Rakka tidak menempati salah satu kamar di rumah Tuan Jaap. Ia tinggal di pondok kecil samping istal yang dulunya ditempati Gau. Setiap selesai makan malam, berbincang sebentar dengan Tuan Jaap dan menghabiskan segelas kopi dan sebatang cerutu, Rakka akan selalu langsung pulang ke sana.

Sebelum masuk ke pondok, ia akan selalu datang lebih dahulu ke istal memberi makan kuda-kudanya. Selepas itu, barulah ia akan masuk ke dalam pondoknya. Melepaskan dan menggantung baju sebelum kemudian merebahkan tubuhnya di kasur. Tapi, ia tidak tidur. Ia tidak pernah langsung tertidur apabila sudah begitu. Ia menunggu seseorang datang mengetuk pintu pondoknya. Raiya, istrinya.

Lihat selengkapnya