Jannang

Andim Raja
Chapter #18

Catatan Aroma 5, Sumur Rempah Tujuh Rupa

Megita menaruh bundelan yang tetap terbuka itu di atas kasur. Tenggorokannya tiba-tiba terasa kering. Ia butuh menenggak koktail untuk membasuh lehernya. Ia bangkit, meninggalkan kamar, menuju dapur. Dari dalam kulkas ia mengeluarkan sebotol koktail dan melenggang kembali ke dalam kamarnya. Ia melewati Daniel dan Arif yang masih berbincang-bincang entah tentang apa. Manto sendiri tampak terlelap sendiri di atas sofa. Sementara itu, Dr. Nawang dilihatnya berada sendirian di teras menyesap kopinya.

 Sambil membuka tutup botol itu, ia melirik ke arah bundelan yang tetap terbuka. Ia baru saja menyelesaikan membaca catatan keempat. Sampai di catatan keempat itu, ia sudah bisa menarik benang merah peristiwa yang terjadi dan menghubungkannya dengan pohon silsilah keluarga jannang. Semua berawal di rumah meneer Belanda itu. Rakka dan Raiya bertemu di rumah Tuan Jaap, saling jatuh cinta, dan memutuskan menikah. Meskipun ada lompatan peristiwa yang tak terceritakan tentang bagaimana awal mula Rakka dan Raiya saling menaruh perasaan, tapi Megita sudah cukup tahu apa yang terjadi di antara keduanya.

  Megita menuang koktail ke dalam gelas kaca dan menenggaknya. Dua sampai tiga kali ia menenggak segelas koktail itu sebelum kemudian meletakkannya di atas meja. Ia merasa kini tenggorokannya lebih lega. Bundelan itu diraihnya kembali.

   Terbit semangat di wajahnya manakala membaca linimasa di bagian judul catatan kelima itu. Di situ tertera Februari, 1946. Ia langsung mengaitkan dengan peristiwa pembacaan proklamasi kemerdekaan Indonesia yang hanya terpaut enam bulan sebelumnya. Lalu di bawah tulisan lini masa itu, tertulis judul yang lumayan mistis tapi disukainya; Sumur Rempah Tujuh Rupa.

            

Catatan 5:

Borong, Februari 1946

17 Agustus 1945, di rumahnya di Jalan Pegangsaan Timur No.56 Jakarta, Bung Karno membacakan naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia. Peristiwa itu menyusul kekalahan Jepang di perang pasifik yang bisa dimanfaatkan dengan baik untuk merebut kembali kedaulatan bangsa. Peristiwa penting itu juga menjadi penanda momentum berdirinya Indonesia sebagai negara yang merdeka dan berdaulat. Segala bentuk kolonialisme lenyap dari bumi nusantara setelah bertahan lebih dari 3 abad lamanya.

Meskipun terlambat, kabar itu sampai juga ke Borong. Rakka dan Raiya yang selama lebih dari tiga tahun bersembunyi di dalam hutan, menyambut kabar itu dengan dada bungah. Dua hari kemudian, mereka keluar dari hutan dan bergegas menuju Borong. Tempat yang mereka tuju adalah rumah Tuan Jaap. Mereka percaya bahwa Tuan Jaap dan Nyonya Helena tentu tidak luput mendengar kekalahan Jepang. Dan seperti janjinya, kedua majikan mereka itu akan datang kembali apabila keadaan sudah membaik.

Namun, yang mereka temukan hanyalah keheningan, rumah yang tak terawat, dan puing-puing yang barangkali sisa-sisa kerusakaan yang diperbuat tentara Jepang. Tidak ada Tuan Jaap dan Nyonya Helena di meja makan suci mereka. Tak ada aroma rempah apapun yang menguar dari balik dinding dapur. Tidak ada kuda-kuda yang memamah rumput di dalam istal. Tidak ada teriakan memberi semangat di dalam arena pacuan kuda. Tidak ada kapas-kapas yang memutih di dekat kaki lereng bukit.

“Mungkin mereka masih menunggu waktu yang paling tepat untuk datang,” sahut Rakka seraya mengusap lembut bahu istrinya. “Kita harus tetap menunggu mereka.”

“Ya, kau benar,” balas Raiya.

Kunjungan yang hening itu mereka tutup dengan membersihkan rumah itu agar tampak lebih mendingan. Rumput-rumput tinggi mereka babat. Semak-semak yang mengganggu mereka habiskan. Beberapa lembar dinding yang terkulai, mereka betulkan kembali. Kayu-kayu yang dihabisi rayap mereka ganti dengan yang baru. Genteng yang bolong mereka benahi. Kayu palang istal yang terlepas, mereka pasang kembali. Tanah tempat kuda-kuda biasanya meringkuk, mereka bersihkan kembali. Dedaunan yang berserakan di dalam arena pacu kuda, mereka bakar sampai habis tak bersisa. Pondok dekat istal tempat yang dulunya Rakka dan Raiya jadikan tempat memadu kasih, mereka bersihkan kembali.

Lebih kurang empat hari mereka mengerjakan semua itu.

Di lain sisi, kehidupan di Borong rupanya juga sudah kembali seperti dulu lagi. Tidak semuanya, tapi Raiya melihat orang-orang Borong mulai senang berkumpul lagi. Empat hari bolak-balik hutan dan Borong, Raiya melihat sebuah hajatan digelar. Tak ramai tapi banyak orang yang berkumpul.

“Sambil menunggu Tuan, aku mau jadi jannang lagi,” beri tahu Raiya kepada suaminya di jalan pulang menuju hutan. “Jadi kita akan tinggal lagi di rumah lama kita di sini. Sementara ini kita harus tinggalkan hutan dulu.”

Ada sepasang tebing batu yang dipisahkan jalan berbatu. Jalan itu cukup lebar. Bisa dilewati dua puluhan kuda yang melintas bersamaan. Apabila sudah melewati sepasang tebing itu, menengoklah ke arah barat laut. Kira-kira dua ratus langkah lagi, di situlah rumah itu. Menjorok ke tepi hutan. Tepat di samping di rumah itu, terbentang tebing batu yang lain—panjang dan tinggi menjulang. Tanahnya merah dan lengket.

Lihat selengkapnya