Jannang

Andim Raja
Chapter #19

Catatan Aroma 6, Agresi Militer Belanda II

Catatan 6:

Borong, Tahun 1947

Kabar kembalinya Belanda, sempat membuat dada Rakka dan Raiya terasa bungah. Mereka merasa ada harapan lagi untuk berkumpul dengan keluarga Tuan Jaap setelah berpisah lima tahun lalu. Mereka membayangkan Tuan Jaap akan memboyong keluarganya lengkap kembali ke Hindia Belanda—yang kini bernama Indonesia.

Namun, yang terjadi rupanya jauh panggang dari api.

Belanda memang kembali, tapi tak ada Tuan Jaap dan keluarganya yang ikut serta. Yang ada justru pasukan Koninklijk Nederlands-Indish Ledger (KNIL) pimpinan Westerling. Mereka kembali demi membangun lagi kekuasaaan di Indonesia.

Dan kini mereka mengancam kepala Raiya dan kepala pribumi lainnya di Borong yang dituding menyembunyikan para gerilya republik.

Subuh tadi pasukan KNIL tiba-tiba mengepung Borong, memaksa semua orang keluar dari rumah, dan menggiring mereka ke sebuah tanah lapang layaknya menghalau sekawanan domba ke tengah sabana. Termasuk pula Raiya yang dituding memiliki suami seorang gerilya republik.

Subuh yang mencekam. Raiya melihat satu demi satu laki-laki kampung dipanggil ke depan, mendekat kepada senjata para jagal itu. Mereka ditanyai bermacam-macam, tapi yang paling sering adalah keberadaan para gerilya republik yang gencar menentang mereka dengan bermacam cara; merusak jalan yang biasa dilalui truk-truk KNIL itu atau melakukan penyerangan kepada tentara-tentara agresi itu. Tidak ada jawaban yang mampu memuaskan, sehingga mudah saja menebak yang terjadi kemudian; semua yang dipanggil ke depan akan meregang nyawa dengan tembakan-tembakan yang menembus tubuh mereka.

Lihat selengkapnya