“Aku bawa air hangat, Nek. Apa aku bisa masuk?” tanya Megita dari luar pintu di salah satu kamar di rumah Dr. Nawang. Ia membawa sebaskom air hangat untuk Amanda yang kini menggigil demam. Ia mencoba memisahkan diri dari keributan-keributan kecil di ruang tamu antara Dr. Nawang, Daniel, Arif, Manto, dan juga Ali yang belakangan bergabung. Ia ingin memberikan sedikit perhatian kepada anaknya Ali yang tampaknya digigilkan oleh perjalanan panjang dan hujan yang menderas.
Pintu terbuka.
Tanpa dipersilakan, Megita memasuki kamar itu. Sebaskom air hangat dan sebuah handuk bersih diberikannya kepada Nek Wa. “Kita harus mengompresnya, Nek. Sambil kita menunggu dokter yang sudah dipanggil Dr. Nawang ke sini.”
Nek Wa mengambil handuk dan segera merendamnya ke dalam air hangat, lalu menempelkannya di kening Amanda.
Semalam saat berhasil melarikan diri dari orang-orang yang memasuki rumah mereka, Ali dan keluarganya diperhadapkan pada perjalanan yang berat. Hujan mengguyur sungai. Volume air perlahan naik dan tentu akan merendam ceruk berongga itu. Apabila sudah direndam air, tempat itu tidak lagi nyaman dan aman untuk bersembunyi. Maka, mereka harus keluar.
Ali sempat kepikiran untuk pulang. Tapi, dari jauh, ia melihat siluet orang-orang dari balik jendela kaca. Pertanda rumahnya belum ditinggalkan orang-orang itu. Rumahnya bukan tempat yang aman untuk pulang.
Orang-orang itu mengingatkan Ali perihal ke catatan ke-7 yang di buku yang ditulis Yunus Rakka. Di catatan ke-7 itu diceritakan bagaimana kakek dan neneknya berjuang melepaskan diri dari kejaran tentara hanya karena mereka seorang juru masak yang hebat. Kakek dan neneknya bahkan dituduh sebagai komunis dan musuh negara. Keduanya ditangkap dan dieksekusi oleh tentara negara.
Semalam, saat memastikan diri lolos dari buruan orang-orang itu, Ali langsung memutuskan mendatangi rumah Dr. Nawang. Ia yakin doktor sejarah itu tahu sesuatu. Saat tiba di jalan raya yang lebih ramai, ia memesan taksi dan langsung minta diantarkan ke rumah Dr. Nawang. Kini, Ali berada di antara tim ekspedisi yang lebih dulu terbentuk guna membicarakan orang-orang itu dan juga catatan Jannang: Ditumbuhkan Meneer, Dihabisi Belanda.
“Kalau ada yang Nenek butuhkan, Amanda butuhkan, bilang sama aku ya, Nek.”
Nek Wa mengangguk. “Terima kasih, Nak.”
Megita tersenyum kecil lantas berjalan meninggalkan Nek Wa dan Amanda berdua saja di kamar itu. Ia bergabung dalam keributan kecil di ruang tamu.
“Mereka seperti orang-orang yang diceritakan di catatan ke-7, Doktor,” sahut Ali. “Apa mereka ini tentara pemerintah?”
Megita menunda merapatkan duduknya di sofa demi mendengarkan ucapan Ali. Catatan ke-7, apa yang terjadi di catatan itu? Ia belum membaca sampai ke sana.
“Bisa jadi ya, bisa jadi tidak,” jawab Dr. Nawang.
“Kalau iya, apa kepentingan mereka mencariku, Doktor?”
“Sejujurnya saya pun tidak memiliki jawabannya. Apalagi kalau kita mengambil dasar kejadian pada catatan ke-7 itu, jawabannya semakin tidak sesuai dengan kondisi saat ini. Catatan ke-7 itu linimasa waktunya ada di tahun 1965. Kita semua tahu apa yang terjadi saat itu. Kita semua tahu bagaimana tentara mengejar orang-orang yang dianggap komunis waktu itu. Nah, sekarang ini negara kita aman-aman saja. Tidak ada alasan bagi tentara untuk bersikap represif kepada siapa pun, termasuk kepadamu, Ali. Saya kira begitu.”
“Mereka bukan tentara maksudmu, Doktor?”
“Saya kira begitu.”
“Lalu siapa yang punya kepentingan untuk mengganggu keluargaku? Sampai datang beramai-ramai begitu.”
“Kau pernah bertemu siapa belakangan ini?” celetuk Daniel.
“Tidak siapa pun.”
“Tempat yang kau datangi?”
“Rumah kursus tata bogaku dulu.”
“Ada yang mengikutimu?”
“Aku tidak tahu.”
“Untuk apa kau datang ke sana?”
Ali tidak langsung menjawab pertanyaan Daniel yang terakhir itu. Ia bangkit dan meninggalkan ruang tamu. Di dalam kamar tempat Amanda terbaring, ia mengambil ponselnya dan membawanya keluar.
“Karena pesan-pesan anonim ini. Pengirim pesan itu menyebut-nyebut dapur tempatku bekerja dan jati diriku. Aku tak mengerti maksudnya,” Ali menyerahkan ponselnya kepada Daniel.
“Jati diri katamu?” kali ini Megita yang menyahut. Ia yang dari tadi berdiri, langsung beringsut mendekati Daniel. Ia ikut membaca pesan-pesan itu.
“Dia tahu kau seorang chef. Dia bahkan tahu tempatmu bekerja,” sahut Daniel selepas membaca pesan-pesan itu. “Dia juga memintamu datang ke sebuah rumah. Siapa orang ini?”