Jannang

Andim Raja
Chapter #21

Kembali ke Rumah Bintang

Ali menggeliat di kursi rotan tempat ia tidur semalaman. Cahaya matahari pagi yang masuk melalui mulut jendela sempat menjerang kakinya hingga betis. Rasa panasnya itulah yang membangunkannya. Ia membuka mata dan menatap langit-langit sebentar, sebelum menoleh ke arah Amanda. Anaknya itu kini duduk sambil menyandar pada bantal yang ditumpuk-tumpuk. Nek Wa menyuapinya bubur.

“Anak gadis Papa sudah bangun,” sahut Ali dengan suara yang terdengar serak. Tenggorokannya kering. Ia bangun dan menenggak segelas air yang ditaruhnya di sisinya, kemudian menghampiri anaknya. Ditempelkannya telapak tangannya pada kening Amanda dan mendapati suhu badan anaknya itu tidak lagi setinggi semalam. Terlihat juga nafsu makannya membaik.

“Kita kapan pulang, Pa? Aku kangen Mama Kinari,” sahut Amanda. Suaranya pelan dan masih terdengar lemah.

Ali tersenyum. “Di sini kan Amanda bisa lihat bintang juga kalau kangen sama Mama. Amanda bisa datang ke jendela dan melihat bintang dari situ. Di rumah kita masih ada orang-orang jahat itu.”

“Orang-orang jahat itu siapa sih, Pa?”

“Papa belum tahu, Nak. Mungkin mereka mau dibuatkan masakan saja sama Papa.”

“Rumah Bintang tidak mereka ganggu kan, Pa?”

“Ya, tidak dong,” jawab Ali seraya mengusap-usap kepala anaknya. “Papa mau ngusir orang-orang jahat itu dari rumah kita. Nanti kalau mereka sudah pergi, kita bisa pulang lagi, Nak.”

“Iya, Pa?”

Ali mengangguk. “Sekarang Amanda makan dulu ya. Nanti Mama Kinari tidak datang lagi ke langit malam kalau tahu Amanda malas makan.”

  Amanda terlihat bersemangat. Anak itu buru-buru membuka mulut saat Nek Wa mengarahkan sesendok bubur ke arahnya. Ia melahap bubur dengan ceria seraya berceloteh bahwa ia akan makan lebih banyak asalkan bisa bertemu bintang Mama Kinari.

“Ada kopi dan pisang goreng di meja, Nak. Diantar Nak Megita,” beritahu Nek Wa.

Ali berjalan mendekati meja yang di atasnya terletak segelas kopi dan sepiring pisang goreng yang sudah sama-sama dingin. Ali menyeruput kopi itu sambil menyuapkan pisang goreng ke dalam mulutnya.

“Sudah kukasih kunci rumah kita sama Nak Megita. Mereka akan berangkat pagi ini,” lanjut Nek Wa selagi Ali masih meneruskan aktivitas sarapannya.

   “Mereka?”

   “Megita dan Doktor Nawang.”

   “Mereka sungguhan mau mencari bungkusan itu rupanya,” gumam Ali.

  Percakapan ibu dan anak itu terjeda oleh suara gerengan mesin mobil tua dari luar. Ali beranjak dan mengintip lewat mulut jendela. Di dekat mobil yang sedang dipanasi, Megita dan Doktor Nawang sedang mengobrol. Tampaknya mereka menyusun rencana untuk mendapatkan bungkusan rempah tujuh rupa itu. Rencana tertata yang barangkali mereka butuhkan kalau-kalau di rumah itu mereka bertemu para penyusup yang diceritakan Ali.

 “Jangan terlalu lama berpikir, Nak. Mereka membutuhkan kamu untuk tahu tempat bungkusan itu tersembunyi,” ujar Nek Wa.

 Ali paham yang dimaksud Nek Wa tentang ‘ jangan terlalu lama berpikir’.

Semalam Megita berterus-terang bahwa ia menginginkan ritual di sumur tujuh rempah. Untuk itu ia membutuhkan bantuan Ali untuk menghubungkannya dengan anak-keturunan jannang yang bisa membantunya mendapatkan ritual itu. Megita bahkan berjanji akan membiayai pengobatan Amanda sepenuhnya, sekaligus memasukkannya ke Le Cordon Blue, kalau Ali bersedia membantu Megita.

Ali tidak, tepatnya belum memberikan jawaban. Jawaban itu tak juga kunjung diberikannya juga sampai pagi ini. Ali menyeruput kopinya lalu menyandarkan kepalanya ke dinding kayu kamar itu. Ucapan Megita bahwa perempuan itu menempuh perjalanan panjang dari Paris ke Jakarta, lalu ke Makassar, bahkan sampai ingin melakukan ekspedisi ke pedalaman Sulawesi demi mendapatkan kembali suaminya, kembali membuat rumah tangganya utuh, dan mengisi kembali rumah tangga mereka dengan cinta, pelan-pelan menyentuh nurani Ali. Semalam ia tidak berkata jujur bahwa pengakuan Megita itu menyentuhnya lebih karena ia tidak ingin terjebak dalam suasana melankoli dengan perempuan yang baru dikenalnya kurang dari 24 jam. Tapi, ia memikirkannya—sejak saat itu hingga pagi ini. Ia membayangkan kalau ia berada di posisi Megita. Ia mungkin saja akan melakukan hal gila yang sama, bahkan lebih, demi rumah tangganya.

Ali menyeruput lagi kopinya. Matanya menerawang entah kepada apa.

“Aku mau keluar, Bu,” beritahu Ali kepada Nek Wa sesaat kemudian. Ia kini tahu apa yang harus dilakukannya. “Aku ikut,” ucapnya saat sudah berada di luar.

“Nah gitu dong,” sambung Daniel yang baru saja selesai menyelipkan sangkur di pinggang kanan Megita dan Doktor Nawang. Ia mengambil sebuah sangkur lagi beserta sarungnya kemudian melingkarkannya di pinggang Ali. “Ini cuma bentuk bela diri sederhana. Hanya akan kita gunakan kalau perlu. Caranya sama saja kalau kau gunakan pisau dapur untuk menyayat daging ikan.”

“Kau menyuruhku menusuk orang-orang itu? Tidak bisakah melakukan ini dengan damai?” timpal Ali.

“Kita tidak tahu siapa yang kita hadapi. Jangan berpikir mereka akan bersikap bersahabat. Itu naif, Li,” Daniel tertawa.

Lihat selengkapnya