Jannang

Andim Raja
Chapter #22

Penculikan

Arif dan Manto meringis kesakitan sambil memegangi bibir yang pecah dan perut yang terasa keram sehabis dihajar berkali-kali. Mereka bersandar lemas di dinding. Tidak ada lagi daya upaya mereka untuk melakukan perlawanan kepada orang asing yang masuk ke rumah Doktor Nawang.

Kurang dari setengah jam yang lalu, orang itu tiba-tiba masuk dan menanyakan keberadaan keluarga Ali. Tidak ada cara untuk berbohong. Rumah Doktor Nawang bukanlah rumah yang luas dan memungkinkan untuk Nek Wa dan Amanda bersembunyi. Arif dan Manto bisa saja berbohong, tapi tetap saja orang asing itu akan menemukan apa yang ia cari. Itu tidak sulit baginya.

Satu-satunya yang bisa dilakukan Arif dan Manto adalah melawan. Dengan kekuatan dan keahlian seadanya, kedua mahasiswa itu nekat mengajak gelut orang asing itu. Perkelahian tak seimbang itu berlangsung hanya sebentar. Arif dan Manto dibuat bersimbah darah di wajah sampai mereka kehabisan tenaga untuk melawan lagi walaupun mereka unggul jumlah. Kini mereka hanya bisa bersandar lemas di dinding tanpa bisa berbuat apa-apa lagi. Saat Nek Wa dan Amanda diambil oleh kedua orang asing itu, membawanya keluar rumah, dan menaikkannya ke atas mobil—Arif dan Manto hanya bisa pasrah.

Upaya terakhir mereka adalah menelpon Daniel.


Lihat selengkapnya