Jannang

Andim Raja
Chapter #23

Jannang Dua Tahun Lalu

Belumlah terlalu lama sejak Nek Wa dan Amanda diturunkan dari mobil lantas dibawa ke dalam rumah untuk bertemu tiga orang yang mengaku chef dari Jakarta, kini mereka kembali digiring menaiki mobil yang sama. Seorang bernama Jafar yang mengambil mereka dari rumah Doktor Nawang, yang kini menggiring mereka kembali ke dalam mobil itu. Bersama Jafar, ketiga chef yang tadi menginterogasi Nek Wa, juga ada bersama mereka.

Mobil yang dikemudikan laki-laki bernama Jafar itu mulai melaju. Di sampingnya duduk Herman. Di belakang Erlina dan Anwar duduk mengapit Nek Wa dan Amanda. Apa urusan para juru masak dari Jakarta itu dengan sepasang nenek cucu itu? Mengapa mereka menginginkan ritual di sumur tujuh rempah? Nek Wa merapatkan tubuh kepada Amanda. Ia memeluk dan menenangkan cucunya yang terlihat kebingungan. Tampaknya hari itu akan terasa rumit dan panjang.

 “Kau harus membawaku ke sumur itu. Setelah itu kau akan kukembalikan kepada Ali,” sahut Erlina kepada Nek Wa. Ia berbisik tapi suaranya tegas. Menculik Nek Wa dan Amanda tidak pernah ada dalam rencananya. Erlina hanya menginginkan Ali dan menyewa Jafar serta anak buahnya untuk mendapatkan laki-laki itu. Tetapi rupanya Jafar mendapatkan anak keturunan jannang yang lain dengan mudah.

  Nek Wa tahu belaka apa yang diinginkan perempuan muda di sampingnya. Namun, sejak mulai ia diinterogasi olehnya di dalam rumah tadi perihal sumur tujuh rempah itu, Nek Wa tak juga membuka mulut. Kali terakhir ia melihat sumur itu, tentu saja waktu ia masih tinggal di Borong. Itu puluhan tahun yang lalu. Ia kini tak tahu apa sumur itu masih ada atau sekarang tertimbun puing-puing reruntuhan rumah atau yang lebih parah, tertimbun tanah sehingga tidak mungkin untuk mengenalinya.

 Kalau pun sumur itu masih ada, ia tidak tahu bagaimana cara mengabulkan permintaan perempuan muda di sampingnya. Ritual di sumur tujuh rempah memang bisa dilakukan oleh anak keturunan jannang, tapi tak semua anak keturunan jannang bisa melakukannya.

  “Dua tahun lalu aku bertemu kerabatmu di kampung itu. Aku menyesal melewatkan pertemuan itu tanpa melakukan apa-apa. Aku menyesal baru tahu tentang sumur tujuh rempah itu,” Erlina mengingat kembali kejadian dua tahun lalu sewaktu ia berada di Borong untuk menghasut anak keturunan jannang menjauh dari kampung itu. Itu dilakukannya agar mereka tidak bertemu dengan Megita. Ia membohongi mereka bahwa Megita adalah tentara yang akan mencelakai mereka. Ia berhasil melakukannya, tapi ia melewatkan kesempatan besar untuk mendapatkan ritual di sumur tujuh rempah. Kalau saja catatan yang diambilnya dari rumah Ali, sudah dibacanya sejak dua tahun lalu itu, tentu ia akan tahu tentang sumur itu dan akan meminta anak keturunan jannang untuk memberikannya ritual itu. Kalau saja itu terjadi, maka ia akan menjadi juru masak yang tidak akan pernah dilampaui siapa pun. Maka, ia tak perlu lagi repot-repot terbang dari Jakarta dan kembali ke kampung leluhurnya seperti yang kini dilakukannya. Ia tak perlu repot-repot mengajak Herman dan Anwar dalam perjalanannya kali ini. Ia tak perlu repot-repot lagi menyewa preman untuk mengejar Ali. Paling penting, ia tak perlu lagi mengkhawatirkan Megita akan mengambil Rion darinya. Semuanya sudah jadi bubur. Sekarang kesempatan itu datang lagi dengan Nek Wa dalam penguasaannya. Ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi. Dengan Nek Wa, ritual itu harus didapatkannya.

***

Dua Tahun Lalu

  Erlina terbangun pagi-pagi sekali dan meninggalkan Rion seorang diri yang masih terlelap di atas ranjang. Di wajah tunangannya itu masih tampak jelas sisa-sisa lelah sehabis menempuh perjalanan jauh dari Jakarta ke Makassar, yang kemudian dilanjutkan perjalanan darat selama lebih kurang enam jam ke Bulukumba, sampai akhirnya tiba di Borong. Walaupun sudah berlalu empat hari sejak perjalanan panjang melelahkan itu, Rion masihlah menyimpan tanda-tanda kelelahan. Karenanya, keputusan untuk menunda kepulangan ke Jakarta barang dua hari lagi, dianggap Erlina sebagai keputusan yang tak perlu terlalu disesali.

  Saat melewati dapur sederhana di rumah masa kecilnya itu, Erlina tertegun. Perasaan yang sama seperti yang dirasakannya sejak berada di Borong, kini terulang lagi. Ia merasakan nostalgia masa remaja yang penuh dengan perasaan gamang.

Dapur itu menyimpan banyak kenangan masa kecilnya. Di dapur itu ia kerap kali diam-diam datang meracik rempah dan memasak. Hanya akan dilakukannya kalau ia seorang diri saja di rumahnya. Ia tidak pernah melakukannya kalau bapak dan ibunya ada di rumah. Walaupun Erlina lahir sebagai anak perempuan, tapi kedua orang tuanya itu tidak pernah suka ia berlama-lama di dapur, apalagi diam di sana dan memasak. Sangat berbeda dengan anak perempuan yang lahir di keluarga lain yang diharuskan pandai memasak. Bapak dan ibunya justru menyewa budak untuk memasakkan mereka makanan setiap hari.

Lihat selengkapnya