Jannang

Andim Raja
Chapter #24

Ular Sanca Kembang

Rumah Doktor Nawang berantakan tak keruan saat Ali dan yang lain tiba di rumah itu. Sisa-sisa pertarungan antara Arif dan Manto melawan seseorang yang entah siapa, begitu nyata terlihat. Seisi ruang tamu itu hancur bagai kapal pecah. Puing-puing vas bunga, beling gelas, dan kursi yang jumpalitan terlihat di mana-mana.

Ali buru-buru berlari ke dalam kamar mencari Amanda. Namun, anaknya itu tidak lagi dilihatnya berbaring di atas ranjang seperti saat kali terakhir dilihatnya pagi tadi. Nek Wa juga tidak ada di mana pun. Hanya ada sisa makanan dan setengah gelas air putih di atas meja nakas.

“Orang itu membawa mereka, Kak,” lenguh Manto dari luar kamar.

“Orang itu siapa?” pekik Ali. Ia berlari keluar mendekati Manto.

Sayangnya Manto menggeleng sambil meringis menahan sakit. Begitu juga dengan Arif yang memegangi perutnya dan berusaha dibantu berdiri oleh Megita. Doktor Nawang dan Daniel terlihat bingung bukan main. Mereka tak tahu harus berbuat apa demi menanggapi situasi tak terduga itu.

“Mungkinkah orang ini komplotan orang-orang yang kau lumpuhkan tadi, Niel?” tanya Megita.

“Melihat rentang waktunya yang nyaris bersamaan, kemungkinan itu ada, Meg,” jawab Daniel.

“HP-mu mana?” Megita memalingkan wajah kepada Ali.

Ali yang masih terguncang tidak menjawab. Ia hanya mengarahkan telunjuknya ke dalam kamar. Megita masuk dan menemukan ponsel itu di dalam laci meja nakas. “Kalau kau benar, Niel, maka ini semua perbuatan Erlina,” lirih Megita seraya memencet-mencet ponsel di tangannya. Nama Erlina muncul dalam perbincangan itu karena laki-laki terakhir yang dilumpuhkan Daniel dan diinterogasinya di rumah Ali, mengatakan bahwa seorang koki perempuan bernama Erlina yang menyewa ia dan teman-teman premannya untuk mendapatkan Ali. Melalui ponsel Ali, Megita ingin berbicara dengan Erlina.

Selang beberapa detik kemudian terdengar bunyi telpon menunggu yang segera disusul suara seorang perempuan.

“Apa yang kau inginkan, Erlina?” sergah Megita tanpa basa-basi.

Wah, wah, wah, chef Prancis kita punya tebakan yang bagus, balas suara dari ujung telpon.

“Apa yang kau inginkan?”

Kau bisa menebak aku yang menculik keluarga jannang itu, tapi kau tidak cukup pintar menebak apa mauku. Menurutmu, kenapa aku melakukan ini?

Megita diam beberapa saat, sebelum menjawab, “Rion?”

Alasan yang sama kenapa kau melakukan perjalanan ke Borong, bukan? Dua kali kau melakukannya demi Rion, bukan?

“Dua kali?”

Ya. Hari ini dan dua tahun lalu.

“Kau tahu?”

Tentu saja aku tahu.

“Sekarang aku tahu alasan kenapa orang-orang itu tidak mau menemuiku.”

Kali ini kau juga akan kugagalkan. Kita akan lihat siapa yang bersungguh-sungguh ingin memiliki Rion.

“Kau perempuan sundal.”

Kau sundal dan memalukan. Rion sudah tidak menginginkanmu. Kau lupa?

“Kau yakin Rion memilihmu karena benar-benar menginginkanmu atau dia hanya merasa menemukan perempuan yang bisa paham dunianya? Jangan-jangan dia cuma peduli pada dunianya, bukan padamu, bukan pada siapa yang bersamanya.”

Itu tidak mengubah apapun. Aku tetap bersamanya.

“Nikmatilah waktumu.”

Lihat selengkapnya