Tidak ada cara apapun untuk menelusuri jejak rumah tua Rakka dan Raiya selain menjelajahi Borong. Satu-satunya petunjuk yang dimiliki Daniel dan Arif hanyalah penggambaran tempat rumah itu dibangun seperti yang dibacanya di catatan yang dibuat Yunus Rakka.
:Ada sepasang tebing batu yang dipisahkan jalan berbatu. Jalan itu cukup lebar. Bisa dilewati dua puluhan kuda yang melintas bersamaan. Apabila sudah melewati sepasang tebing itu, menengoklah ke arah barat laut. Kira-kira dua ratus langkah lagi, di situlah rumah itu. Menjorok ke tepi hutan. Tepat di samping di rumah itu, terbentang tebing batu yang lain—panjang dan tinggi menjulang. Tanahnya merah dan lengket.
Selain petunjuk singkat itu, tidak ada lagi catatan lain yang menjelaskan apapun. Dan petunjuk itu baru akan berguna kalau Daniel dan Arif sudah berada begitu dekat dengan tebing batu itu. Tidak ada petunjuk tambahan apapun perihal jalan, lokasi, atau cara menemukan tebing itu.
Kalau perjalanan Daniel dan Arif dilakukannya puluhan tahun lalu, tentulah teramat mudah menemukan sepasang tebing itu. Namun, kini tentu banyak yang berubah, sehingga menemukannya tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Arif yang menghabiskan masa kecil hingga awal remaja di Borong, juga tidak tahu pasti di mana letak sepasang tebing itu. Ia bahkan sempat meragukan keakuratan catatan yang ditulis Yunus Rakka itu karena merasa tidak pernah menemukan sepasang tebing seperti yang disebutkan Daniel.
“Catatan itu tidak mungkin salah, Rif. Kita hanya perlu mencarinya,” tepis Daniel.
“Tidak ada tebing kembar di sini, Kak.”
“Sepasang belum tentu kembar.”
“Aku pun tidak pernah melihat yang sepasang.”
“Kalau begitu kita akan mencarinya.”
“Menurutmu itu cara terbaik menemukan mereka?”
“Kita tidak punya panduan apa-apa selain itu, Rif. Koki-koki itu menginginkan ritual di sumur tua itu. Pasti ke sana tujuan mereka membawa Nek Wa dan Amanda.”
“Apakah Nek Wa masih mengingat jalan ke sana?”
“Itu jalan ke rumah masa kecilnya. Kemungkinan itu masih ada.”
“Kau terlalu yakin.”
“Kampung ini seluas apa, Rif? Butuh berapa hari untuk menjelajahinya?”
“Tak sampai dua hari kalau kita tidak istirahat.”
“Kita akan memutarinya sampai besok subuh.”
“Ini jam satu lewat, Kak.”
“Empat jam cukup, bukan?”
“Serius, hah?” Arif terbengong-bengong. Kalau perhitungannya, setidaknya butuh waktu dua hari berjalan untuk menjangkau seluruh bagian kampung ini. Satu hari lebih beberapa jam masih mungkin asal tidak ada kendala. Tapi, melakukannya dalam empat jam, itu sungguh gila. Arif ingin melancarkan protesnya bahwa rencana Daniel tidaklah masuk akal, tapi detektif itu kadung melesat di depan meninggalkannya—yang membuatnya terpaksa harus bangkit dari duduk dan segera menguntit dari belakang. Ia berpikir menawarkan ide lain untuk mendatangi lebih dahulu rumahnya dan bertanya kepada bapaknya perihal sepasang tebing itu, tapi ide itu belum tentu disukai Daniel karena akan memakan waktu yang tidak sedikit. Lagipula jarak rumahnya dari tempatnya sekarang bukanlah jarak yang bisa ditempuh dengan jalan kaki barang beberapa menit. “Aku bisa menelpon Bapak,” serunya dari belakang seraya merogoh saku celananya.
“Silakan saja.”
Sambil berjalan, Arif mencari kontak bapaknya dan menelponnya. Tidak ada suara panggilan menunggu, apalagi suara seseorang yang menjawab telpon itu. “Sial, tak ada jawaban,” pekik Arif.
“Kau lupa ini jam berapa?” teriak Daniel dari depan sana sesaat sebelum tubuhnya menyelinap masuk di antara tanaman-tanaman perdu.
Arif menyentak lututnya dan tergagap memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya. Ia berlari-lari kecil mengikuti Daniel sampai kemudian tubuhnya pun lenyap ditelan tanaman-tanaman perdu yang rupanya bergerombol banyak itu.
Langkah kaki Daniel terdengar nyaring mematah-matahkan dahan-dahan kering yang terjatuh ke tanah. Lebih sering juga terdengar sibakan daun-daun yang dilaluinya. Suara-suara itu yang diikuti Arif agar tak tertinggal jauh darinya. Beruntung perdu itu tak luas sehingga tak butuh waktu banyak bagi Daniel untuk lepas dan Arif yang menyusulnya.
Di ujung semak perdu, Daniel mengambil arah kanan. Ia berjalan cepat seolah-olah tahu jalan yang ditujunya.
Di belakangnya Arif berlari-lari kecil menyusul. “Kau yakin, Kak?”
“Tentu saja tidak,” jawab Daniel yang terus berjalan menapaki jalan keras dan kering itu. Tampaknya kampung itu sudah lama tidak diguyur hujan. Permukaan tanahnya mengeluarkan suara berdebum yang cukup nyaring setiap kali bersentuhan dengan telapak kaki Daniel dan Arif.
Sesekali pula terdengar Arif meringis kesakitan karena sebutir kerikil kecil atau sebutir tanah yang sudah mengeras, masuk terselip di antara kaki dan sepatunya. Ia bahkan mengumpat sesaat sebelum menuruni bukit kecil karena kaki kanannya terbentur patok ikatan kambing. Ia ingin duduk dan mengadu sekejap, tetapi sialnya, Daniel tidak peduli. Detektif itu terus berjalan dan tidak mengacuhkannya.
“Jangan cengeng,” teriak Daniel sambil tertawa. “Nyalakan lampu HP-mu.”
Arif menyalakan senter ponselnya. Sambil menahan sakit, ia berlari ke bawah menyusul Daniel yang sudah berada di kaki bukit. Arif semakin lekas saat melihat bayangan tubuh Daniel mengambil jalur baru yang kira-kira mengarah ke dinding batu keriting. Batu-batu keriting seukuran kepala orang dewasa itu disusun menyerupai dinding sampai kira-kira dua meter dan memanjang entah sampai ke mana. Digunakan sebagai penghalau hama babi atau pembatas antara ladang.