Jannang

Andim Raja
Chapter #26

Rencana Ekspedisi

Borong sudah menggeliat di pagi buta. Matahari di timur sedang malu-malu menampakkan sinarnya, tapi tetap perlahan merangkak naik. Ayam-ayam jago saling sahut memamerkan keindahan suaranya. Penduduk Borong yang kebanyakan bekerja sebagai petani, mulai mengisi pagi dengan sarapan segelas kopi dan sepiring pisang goreng sebelum datang ke ladang-ladang dan sawah-sawah mereka. Beberapa laki-laki yang bertubuh kekar, tampak sedang mengasah tombak dan memberi makan anjing-anjing pemburu mereka. Seperti biasa di hari Minggu, mereka akan masuk hutan berburu hama babi.

Sebuah pondok kecil di ujung kampung terdengar bising oleh suara isak tangis seorang anak perempuan yang kepalanya disandarkannya di atas bahu ayahnya yang berguncang. Mereka sama-sama menangis oleh pertemuan setelah perpisahan yang dipaksakan oleh sekelompok orang-orang jahat. Di pondok kecil itu, tidak terjadi kesibukan sebagaimana yang terjadi di bagian lain Borong.

“Amanda tidak apa-apa kan?” tanya Ali seraya memeluk erat dan menciumi pipi anaknya itu. Anaknya mengangguk-ngangguk dengan air mata yang berlinangan.

“Orang-orang itu jahat, Pa. Mereka mau mengambil Amanda dari Papa. Mereka memukul Nek Wa. Orang-orang itu jahat, Pa,” Amanda terisak-isak. Suaranya tertahan-tahan.

 “Iya. Mereka sudah dihukum sama Om Daniel.”

 Sesudah memeluk, menciumi, menenangkan, dan memastikan Amanda dalam keadaan baik-baik saja, Ali bergeser memeluk ibunya. Memandangi wajah ibunya dari dekat, dada Ali disesaki rasa bersalah. Di antara gurat wajah yang sudah menua itu, Ali menemukan kelelahan dan kesedihan yang tak dapat disembunyikan ibunya, sekalipun segaris senyum tetap tersungging di wajah tua itu.

 “Aku minta maaf, Bu. Ibu sudah sejauh ini terlibat urusan ini,” kata Ali sendu.

 “Yang penting saya dan Amanda sekarang baik-baik saja, Nak,” balas Nek Wa.

“Iya, Bu. Sekarang Ibu dan Amanda ada di sini,” Ali mundur sampai punggungnya hampir merapat ke dinding bambu pondok itu. Ia duduk bersisian dengan Daniel. Ia menepuk halus lututnya seraya mengucapkan banyak terima kasih. “Sekarang giliranku, Bro. Apa rencana kita?”

  Daniel tidak menjawab. Ia menengok kepada Megita.

Lihat selengkapnya