Jannang

Andim Raja
Chapter #27

Puangang: Hutan Terlarang

“Di sini memang selalu terasa mistis,” Manto yang berdiri paling depan merasakan betul ketegangan rombongannya sejak mereka menginjakkan kaki di depan gerbang yang akan mengantarkan mereka memasuki hutan larangan yang orang-orang Borong sebut sebagai puangang. Sebetulnya tidak terlalu tepat menyebut tempat itu sebagai gerbang sebab di situ tak ada gapura, tugu, candi, atau paduraksa yang bisa menjadi jalan masuk. Di situ hanya ada dua pohon yang ukurannya timpang dan konon usianya juga terpaut jauh. Satu berukuran besar dan diyakini sudah berumur ratusan tahun. Satunya lagi ukurannya lebih kecil dan tidak ada yang tahu berapa umurnya, tetapi yang jelas tak sampai ratusan tahun. Kendati demikian, semua pemburu babi akan menahan kaki atau kaki anjing-anjing mereka untuk tidak melewati kedua pohon itu. Mereka percaya melewatinya sama saja akan membawa mereka kepada tempat yang mereka tidak ingin datangi.

“Ini saatnya meneguhkan keyakinan apakah akan tetap masuk atau pulang,” Manto berbicara lagi. Ucapan-ucapannya itu lahir dari apa yang diamatinya pada rombongannya yang seketika menguarkan aura berbeda tepat di depan gerbang itu.

Pagi tadi, saat mereka berlima meninggalkan pondok bambunya Hamidah, semuanya terasa optimis. Langkah-langkah kaki mereka memasuki hutan begitu teguh dan mantap. Manto senantiasa mencari jalan yang mudah, cepat, dan lapang, tapi saat mereka terpaksa harus melewati medan yang menantang, tidak ada yang keberatan. Lebatnya hutan, jalanan yang curam, tebing-tebing batu keriting, aliran anak sungai yang menderas—semuanya dilalui dengan percaya diri. Beberapa kali mereka bertemu rombongan monyet dan babi hutan yang sedang mencari makan, tapi tidak ada yang merasa takut, bahkan Megita yang baru kali ini masuk hutan sepanjang hidupnya.

Semua berbeda di depan kedua pohon timpang itu. Manto memandangi satu-satu wajah rombongannya. Megita kali ini tampak jelas keraguannya. Begitu pun Daniel yang sepertinya kehilangan sebagian keberaniannya di depan kedua pohon itu. Tidak terkecuali Ali yang sebetulnya punya hubungan spiritualitas dengan tempat itu. Di momen itu, Manto merasa menyesal terlambat menjelaskan tentang tempat seperti apa yang sebenarnya mereka akan datangi. Kalau ada yang bisa membuatnya mengenyahkan rasa sesal itu, mungkin itu hanya Nek Wa yang tampak tidak terganggu dengan kedua pohon itu. Muka tuanya datar dan biasa saja.

 “Sudah terlalu terlambat untuk mundur, tapi ya ini aneh,” Daniel berbisik walaupun sejujurnya tempat itu sungguh membuatnya gentar. Aura keganjilan yang dirasakannya begitu nyata, padahal ia bukanlah tipe orang yang gampang menangkap aura gaib dan mistis, tapi di tempat itu ia merasakannya.

  “Di dalam ada keluarganya Ali kan?” tanya Megita.

  “Bukan cuma itu, Kak.”

  “Ada apa lagi, To?”

 “Sejujurnya belum ada yang pernah masuk ke sana, Kak. Kami semua takut. Kalau berburu babi dan babinya masuk ke sana, kami lepaskan saja. Tapi, kau tahu sendiri kan bagaimana rasanya berdiri di sini? Coba bayangkan, seperti apa rasanya kalau benar-benar berada di dalam.”

 Baru saja Manto usai mengucapkan kata-kata panjang lebarnya, lalu dilihatnya Nek Wa berjalan sendirian melewati kedua pohon itu. Manto hampir terpekik hendak menahan sebab ia masih ingat keraguan yang dilihatnya beberapa detik lalu di wajah tua Nek Wa. Namun, Nek Wa sudah terlanjur melintas dan bahkan kini sudah sempurna melewati kedua pohon itu.

 “Kalau memang anak keturunan jannang tinggal di dalam, mereka semua pasti mengenaliku. Tidak ada yang perlu ditakutkan,” Nek Wa berteriak seraya terus berjalan.

  Yang lain saling pandang.

Lalu satu per satu mengikuti Nek Wa. Dimulai dari Ali yang tentu tidak akan membiarkan ibunya memasuki hutan larangan itu sendirian. Diikuti Megita dan Daniel yang merasa memang momen inilah yang mereka cari-cari, terutama Megita yang merasa harapan kembalinya rumah tangganya semakin dekat. Tapi, Manto tidak ikut. Ia tinggal di depan gerbang dan akan menunggu di situ.

 Sekilas tampak, bagian hutan di balik kedua gerbang pohon itu tidak ada yang berbeda dengan yang ada di luar. Pohon-pohonnya sama belaka. Begitu pun dengan rumput-rumput liarnya. Serangga-serangga kecil yang beterbangan sama dengan jenis serangga yang lalu-lalang di luar. Nek Wa terus berjalan. Ali, Megita, dan Daniel menguntit di belakangnya.

  “Kau tahu harus ke mana, Bu?” Ali menyusul dan meningkahi langkah kaki ibunya.

  “Kita akan ditemukan mereka.”

  “Mereka?”

  “Saudaramu.”

  “Ini tempat seperti apa? Yunus tidak menulisnya.”

  “Pamanmu sengaja merahasiakan tempat ini.”

  “Memangnya ini tempat seperti apa?”

  “Tempat yang disukai sanak kerabat kita. Tempat yang disukai leluhurmu.”

  “Ibu tahu maksud Manto tadi?”

  Nek Wa memandangi wajah Ali, lalu mengangguk.

  “Apa maksud ibu?”

  “Kau akan tahu.”

Di belakang, Megita berhenti berjalan. Sesuatu menarik perhatiannya. Sesuatu yang tak dilihatnya di hutan luar. Di tempat kini ia berdiri, ia menyadari ada sesuatu yang tidak sewajarnya.

  “Kau lihat, Niel? Ini banyak sekali. Kau tahu ini apa?” tanya Megita.

  Daniel berdiri diam lalu mengedarkan pandangannya mengelilingi hutan itu. Di mana-mana ia melihat dedaunan, ranting-ranting kecil, dan kayu-kayu kecil yang seperti sengaja ditumpuk melingkar di atas tanah. “Sarang babi.”

  “Sarang babi yang banyak.”

  “Sarang babi yang banyak, terlalu banyak.”

   “Ada yang aneh, Niel.”

  “Kita sudah dekat,” Nek Wa membuyarkan percakapan Megita dan Daniel seraya tetap berjalan maju. Dibiarkannya kedua anak muda itu mendebatkan hal yang sudah pasti tidak akan mereka mengerti, termasuk juga Ali yang berhenti berjalan dan ikut melihat sarang-sarang babi itu.

  “Dekat ke mana, Nek?” Apa maksudmu kita sudah dekat?” Megita buru-buru menyusul Nek Wa. “Kenapa sarang-sarang itu membuat kita sudah dekat?”

Lihat selengkapnya