Jannang

Andim Raja
Chapter #28

Epilog

Dua hari kemudian,

Mata Megita sembap. Itu pagi ketiga yang ia lalui dengan mata yang bengkak, memerah, dan masih menyimpan sisa-sisa tangisnya. Kematian tragis Ali dan Nek Wa membuatnya tidak bisa memaafkan dirinya sendiri, setidaknya sampai saat ini atau barangkali memang tidak akan pernah. Setiap kali ia mendengar Amanda mencari papa dan neneknya, rasa bersalah itu semakin menghantuinya. Ia tidak tahu harus mengatakan apa. Semua tidak tahu harus mengatakan apa. Menjawabnya jujur, tentu akan menghancurkan hatinya. Berbohong selalu jadi jalan terakhir, tapi sampai kapan mereka semua akan melakukan itu kepada Amanda.

 Suatu kelak, cepat atau lambat, Amanda akan menyadari bahwa papa dan neneknya tidaklah datang ke sebuah tempat untuk belajar memasak seperti cerita bohong yang mereka sepakati. Melainkan keduanya mati tanpa sempat mengambil dan mengubur jasadnya. Ketika saat itu tiba, mereka harus bersiap menghadapi kebencian yang besar dari Amanda. Kebencian itu mesti terjadi dan tumbuh di dada Amanda manakala ia sudah pandai menyadari segalanya. Dan Megita, akan semakin hancur menghadapi kebencian itu.

“Kau yakin akan membawanya, Meg?” Doktor Nawang muncul dari balik pintu kamar Megita.

Buru-buru Megita menghapus air matanya sekalipun Doktor Nawang sudah terlanjur memergokinya.

“Saya masih kuat mengasuhnya kalau kau ada rencana mengurungkan niatmu,” imbuh Doktor Nawang.

“Aku akan membawanya, Doktor.”

“Kau siap? Dia kelak akan dewasa. Dua hari ini betapa repot menyembunyikan cerita yang sebenarnya darinya. Saya tidak bisa membayangkan kau bisa menyembunyikannya lebih lama lagi.”

“Aku tidak perlu menyembunyikannya, Doktor. Dia akan tahu kalau sudah waktunya dan kita semua harus siap apabila waktu itu sudah tiba,” Megita bangkit dan menengok keluar. Di depan, di balik jendela, Daniel sedang berkemas di dekat mobil yang akan membawa mereka menuju bandara. “Aku akan memasukkannya ke Le Cordon Blue. Itu sama sekali tidak bisa menebus kesalahanku yang sudah mengorbankan keluarganya demi mengembalikan keluargaku sendiri, tapi paling tidak, aku berbuat sesuatu untuk hidupnya.”

 “Terserah kamu, Nak.”

Megita membalik badan. Ia melangkah masuk ke dalam kamar kecil. Membasuh mukanya dan kembali dengan wajah yang sedikit lebih segar. Ia tetap tidak bisa mengusir sisa tangis di wajahnya, tapi kali ini ia tampak lebih siap bertemu Amanda. Ia menarik napas dalam-dalam.

 Sebelum keluar menyusul Doktor Nawang, Megita mengambil kardigan kelabu yang tersampir di belakang pintu dan mengenakannya. Seperempat botol koktail masih tersisa di atas meja. Ia datang ke sana. Mengambil botol itu dan menenggaknya. Tiga hari ini entah sudah berapa botol koktail dihabiskannya hanya demi menenangkan dirinya dari rasa bersalah. Percuma. Alih-alih tenang, air mata dan penyesalan di dadanya sama sekali tidak dapat diusirnya.

“Tante Megita, sini,” begitu ia melewati ambang pintu kamar, Amanda tiba-tiba datang bergelayut di tangannya. “Lihat deh, Om Daniel sudah menaikkan barang-barang Amanda di mobil. Kita mau pergi sekarang ya, Tante? Tidak tunggu Papa dan Nek Wa dulu?”

 Baru saja Megita bertekad menguatkan diri di depan Amanda, tapi pertanyaan anak itu barusan, begitu saja meruntuhkan pertahanan yang baru ingin dibangunnya. Ia terdiam, terpaku. Matanya kembali berkaca-kaca. Sesak di dadanya kembali menyeruak.

Lihat selengkapnya