Jarak di Ujung Nozzle

Amrullah Ibrahim
Chapter #2

Dunia Bara

Pagi di sudut kota selalu datang dengan ritme yang terburu-buru. Suara deru knalpot, klakson kendaraan yang bersahut-sahutan, serta kepulan asap tipis dari knalpot dingin membentuk sebuah simfoni bising yang menyambut hari baru. Di tengah hiruk-pikuk tersebut, sebuah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) berdiri sebagai oase bagi para pelintas jalan. Di sinilah denyut nadi kehidupan Bara berdetak setiap hari.

Bara berdiri di samping mesin pompa bahan bakar nomor tiga, mengenakan seragam merah khas petugas SPBU yang sudah sedikit pudar di bagian kerahnya. Rambutnya agak berantakan terkena terpaan angin pagi, namun senyumnya tetap merekah ramah menyambut pengendara sepeda motor pertama yang mampir ke jalurnya.

"Pagi, Mas. Pertalite penuh, ya?" sapa Bara dengan suara hangat, berusaha meredam bising kendaraan di belakang pelanggannya.

Pengendara pria paruh baya di atas motor bebek tua itu mengangguk singkat sambil membuka dompetnya. "Iah, Dek. Tolong diisi penuh, ya. Mau buru-buru ke pasar."

"Baik, Mas. Siap!" jawab Bara cekatan.

Tangan kanannya menggenggam selang nosel bensin dengan mantap, sementara mata kirinya mengawasi angka digital pada layar mesin pompa yang mulai berputar naik. Bagi kebanyakan orang, pekerjaan sebagai operator SPBU adalah rutinitas yang monoton, melelahkan, dan penuh dengan aroma bensin yang menyengat. Namun, bagi Bara, tempat ini menyimpan dunianya sendiri. Di balik lelahnya berdiri berjam-jam di bawah terik matahari, ada sebuah kehangatan sederhana yang selalu berhasil membuatnya bersyukur.

Beberapa menit kemudian, pengisian selesai. Bara menutup tangki motor dengan hati-hati lalu menerima selembar uang pecahan lima puluh ribuan dari tangan pelanggannya.

"Ini kembaliannya, Mas. Terima kasih banyak, hati-hati di jalan!" ujar Bara ramah seraya menyerahkan uang kembalian dan struk pembelian.

"Makasih ya, Dek. Rajin bener pagi-pagi," puji pengendara itu sebelum akhirnya menarik gas dan meluncur pergi meninggalkan kepulan asap tipis.

Bara menarik napas panjang, menghirup udara pagi yang bercampur aroma bensin dan embun sisa semalam. Ia melangkah kecil ke dekat meja pos penjagaan tempat rekannya, Tono, sedang duduk sambil menyeruput kopi hangat dari gelas plastik.

"Sepi amat jalur lo, Bar? Tadi tumben cepet banget ngelayaninnya," celetuk Tono tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel di tangan.

Bara tersenyum kecil, lalu mengambil botol air mineral miliknya dari atas meja. "Namanya juga pagi, Ton. Orang-orang kan masih pada siap-siap mau cari nafkah. Biarin aja cepet, biar rezekinya lancar."

"Lu mah selalu positif mulu, Bar. Kaki udah pegel gini masih aja senyum-senyum kaya menang doorprize," ledek Tono sambil tertawa kecil.

"Pegel mah urusan nanti, Ton. Yang penting perut kenyang, hati tenang, keluarga di rumah bisa senyum. Itu udah lebih dari cukup buat gue," balas Bara santai, meneguk air mineralnya hingga tandas setengah.

Tono menggelengkan kepala pelan. "Iya deh, si paling bijak. Eh, nanti siang shift kita agak panjang lho. Katanya mau ada pengiriman tangki besar dari Pertamina."

"Oh, siap. Nanti gue bantu arahin truknya ke belakang," kata Bara menyanggupi.

Obrolan singkat mereka terhenti ketika sebuah mobil sedan hitam berhenti tepat di jalur Bara. Seorang wanita berkacamata hitam menurunkan kaca jendela mobilnya, menatap Bara dengan tatapan datar.

"Pertalite tiga ratus ribu, Mas," ucap wanita itu singkat, terkesan terburu-buru.

"Baik, Bu. Tiga ratus ribu, ya," balas Bara tetap dengan senyum ramah yang sama, tidak membiarkan sikap dingin sang pelanggan merusak suasana hatinya pagi itu.

Bagi Bara, kebahagiaan sejati bukanlah tentang seberapa banyak harta yang ia miliki, melainkan bagaimana ia bisa menikmati hal-hal kecil di sekitarnya. Secangkir kopi saset di pagi hari, candaan ringan dengan Tono di sela-sela kesibukan, serta sapaan hangat dari para pelanggan yang lewat adalah bahan bakar sesungguhnya bagi jiwa Bara untuk terus melangkah menghadapi hari esok.

❖ ❖ ❖

Matahari perlahan bergeser ke puncak langit, memancarkan terik yang menyengat dan membuat aspal di area SPBU terasa mengepulkan hawa panas. Jam menunjukkan pukul sebelas siang, waktu di mana arus kendaraan mulai padat karena jam istirahat kantor dan sekolah. Bara menyeka keringat di keningnya dengan lengan baju seragamnya, sementara deru mesin pompa bahan bakar terus berdengung tanpa henti.

Di tengah kesibukan melayani antrean panjang kendaraan roda dua, sebuah motor matik berwarna hitam merapat ke sisi jalurnya. Pengendaranya adalah Rani, adik perempuan Bara yang masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Rani mengenakan seragam putih abu-abu dengan jilbab yang sedikit rapi, membawa sebuah tas ransel besar di punggungnya.

Bara yang sedang memegang nosel bensin langsung menghentikan kegiatannya sejenak ketika melihat wajah adiknya yang tampak murung.

"Ran? Kok tumben jam segini udah mampir ke sini? Belum pulang sekolah?" tanya Bara heran, mematikan mesin pompa dan meletakkan nosel pada tempatnya.

Rani melepas helm bogo putihnya, lalu mengusap wajahnya yang kusam karena debu jalanan. Ia menunduk, memainkan ujung jaketnya dengan gelisah. "Udah pulang, Mas... Tapi..."

"Tapi kenapa? Ada masalah di sekolah?" selidik Bara dengan nada suara yang mulai diliputi kekhawatiran. Ia tahu betul watak adiknya yang jarang sekali mau mengeluh kecuali jika situasinya benar-benar mendesak.

"Tadi pihak tata usaha manggil Rani, Mas," jawab Rani pelan, hampir tak terdengar di antara bisingnya suara knalpot truk yang melintas di jalan raya utama. "Soal... soal pembayaran SPP yang nunggak tiga bulan itu. Kepala sekolah tadi bilang, kalau minggu ini nggak dilunasin, Rani nggak boleh ikut ujian tengah semester minggu depan."

Mendengar kata-kata itu, senyum ramah yang sedari tadi menghiasi wajah Bara mendadak memudar seketika. Hawa panas terik matahari mendadak terasa menusuk kulitnya dengan lebih tajam. Ia terdiam sejenak, menatap mata adiknya yang mulai berkaca-kaca menahan tangis.

"Kenapa baru bilang sekarang, Ran?" tanya Bara lembut, berusaha menjaga agar suaranya tidak bergetar di hadapan sang adik.

"Rani nggak enak sama Mas Bara... Rani tahu Mas Bara banting tulang tiap hari di SPBU ini buat kebutuhan sehari-hari sama biaya kontrakan kita. Rani nggak mau nambah beban pikiran Mas," ucap Rani lirih, bulir air mata akhirnya menetes di pipinya yang kemerahan akibat terik matahari.

Bara menghela napas panjang, mencoba menelan ludahnya yang terasa kelat. Ia merogoh saku celananya, mengambil selembar tisu lalu mengulurkannya kepada Rani. Tangannya yang kasar bekas terkena tumpahan bensin dan cuaca panas terulur untuk menepuk pundak adiknya dengan penuh kelembutan.

"Dengerin Mas, ya," kata Bara menatap lurus ke mata Rani. "Kamu itu bukan beban. Kamu tanggung jawab Mas satu-satunya semenjak bapak sama ibu nggak ada. Soal biaya sekolah kamu, itu udah kewajiban Mas buat nyelesaiin. Jangan pernah ngerasa nggak enak, paham?"

Rani mengangguk pelan, menyeka air matanya dengan tisu pemberian sang kakak. "Tapi uang tabungan kita kemarin kan udah kepakai buat bayar sewa kontrakan bulan lalu, Mas..."

"Tenang aja. Mas masih punya tabungan sedikit dari hasil lembur minggu kemarin, ditambah nanti ada bonus mingguan dari kantor. Nanti sore, abis shift selesai, Mas langsung urus ke sekolah kamu, ya?" ujar Bara meyakinkan, meskipun jauh di lubuk hatinya ia sendiri sedang meraba-raba dompetnya yang isinya sudah sangat tipis.

"Beneran nggak apa-apa, Mas?" tanya Rani memastikan.

"Pande banget nanya gitu. Udah, sekarang kamu pulang dulu ke rumah, istirahat, makan yang benar. Jangan dipikirin terus, ya. Biar Mas yang pusingin urusan itu," balas Bara sambil tersenyum kecil, berusaha kembali menampakkan ketenangan demi menguatkan adiknya.

Rani akhirnya mengangguk lagi, mengenakan helmnya kembali, lalu menyalakan mesin motornya. "Yaudah, Mas. Rani pulang duluan, ya. Semangat kerjanya..."

"Iya, hati-hati di jalan. Jangan ngebut!" pesan Bara melambaikan tangan hingga motor matik adiknya menghilang di antara padatnya arus lalu lintas siang itu.

❖ ❖ ❖

Kebahagiaan sederhana yang dirasakan Bara sejak pagi tadi mendadak terasa menguap, tergantikan oleh beban berat yang menghimpit dadanya. Bayangan wajah Rani yang sedih di area SPBU terus berputar-putar di kepalanya, membuat konsentrasinya sedikit buyar saat kembali melayani para pengendara yang antre.

"Mas! Ini kembaliannya kurang dua ribu!" protes seorang pengendara motor matik berbadan tegap dengan nada suara tinggi.

Lihat selengkapnya