Matahari sore di Kota Bara memantulkan cahaya keemasan yang menyilaukan dari aspal yang baru saja disiram sisa hujan siang hari. Uap panas mengepul tipis, menciptakan kabut tipis di atas permukaan jalan raya yang mulai padat oleh kendaraan pulang kerja. Di tengah kemacetan merayap itu, sebuah sedan hitam buatan tahun lama milik Samaira melaju dengan deru mesin yang terdengar tidak biasa. Suara batuk-batuk kecil dari knalpotnya menandakan ada sesuatu yang tidak beres di balik kap mesin yang tertutup rapat.
Samaira menggenggam kemudi dengan sebelah tangan, sementara tangan kanannya mengetuk-ngetuk setir gelisah. Ia melirik jarum penunjuk suhu mesin yang sudah merayap mendekati zona merah.
"Jangan sekarang, kumohon. Jangan mogok di sini," gumamnya pelan, matanya menyapu spion tengah untuk memastikan tidak ada truk besar yang terlalu dekat di belakangnya.
"Kak, rasanya mesinnya makin panas. Bau hangus juga makin menyengat dari tadi," kata Maya, adiknya yang duduk di kursi penumpang depan, sambil merapikan jilbabnya yang sedikit basah karena keringat dingin.
"Aku tahu, May. Aku juga merasakannya. Tapi kita terjebak di jalur lambat, tidak bisa belok ke mana-mana sebelum lampu merah depan," balas Samaira, berusaha menjaga suaranya tetap tenang meski jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya.
Bau sengit karet terbakar bercampur dengan aroma oli lama mulai merasuki kabin mobil. Samaira menyalakan lampu hazard, berharap pengemudi di belakangnya memberikan ruang untuk menepi. Namun, padatnya arus kendaraan membuat laju mobilnya semakin tersendat-sendat hingga akhirnya mesin itu tersendak hebat, mengeluarkan satu kepulan asap tipis dari celah kap, lalu mati total tepat di mulut pintu masuk sebuah SPBU tua berlogo merah-biru yang catnya sudah mulai mengelupas.
"Nah, kan. Mati total," keluh Maya sambil menghela napas panjang dan menyandarkan punggungnya ke kursi.
"Untung pas di depan SPBU. Kalau di tengah jalan tol, bisa gawat urusannya," jawab Samaira mencoba menghibur diri, meskipun ia tahu dompetnya sedang menipis dan bengkel di area ini terkenal mahal bagi mobil tua.
Mereka berdua turun dari mobil di tengah deru angin sore yang mulai mendingin. Samaira segera membuka kap mesin, mendapati uap panas mengepul keluar dari radiator yang tampaknya mengalami kebocoran parah. Ia mengibaskan tangan di depan wajahnya, mencoba menghalau hawa panas yang menyengat.
"Wah, parah ini, Kak. Airnya habis sama sekali," ujar Maya yang ikut turun dan berdiri di samping kap mobil yang terbuka.
"Radiatornya pasti retak lagi. Kemarin sudah ditambal, rupanya tidak bertahan lama," sahut Samaira dengan nada frustrasi, jemarinya meremas ujung jaketnya.
Seorang petugas SPBU berseragam kusam mendekati mereka dengan membawa sebotol air mineral besar. "Kendaraannya kenapa, Mbak? Mogok ya?" tanya petugas itu ramah namun kelelahan.
"Iya, Mas. Radiatornya sepertinya bocor dan mesinnya overheat," jelas Samaira.
"Wah, kalau kayak gitu tidak bisa langsung dinyalakan lagi, Mbak. Harus didinginkan dulu, terus dibawa ke bengkel di ujung jalan sana. Tapi jam segini biasanya bengkelnya sudah mau tutup," kata petugas itu sambil menunjuk ke arah deretan ruko yang berjarak sekitar dua ratus meter.
"Ada kenalan mekanik yang bisa dipanggil ke sini, Mas?" tanya Maya penuh harap.
"Biasanya ada anak muda langganan sini yang suka bantu-bantu, namanya Arya. Tapi dia lagi di bagian belakang, nanti coba saya panggilkan ya," jawab petugas itu sebelum berlalu menuju kantor kecil di samping mesin pompa bensin.
Samaira menghela napas berat, bersandar pada bodi mobilnya yang masih mengepulkan sisa panas. Di sekeliling mereka, suasana SPBU mulai lengang menjelang magrib. Lampu-lampu neon mulai dinyalakan, memancarkan cahaya putih kebiruan yang kontras dengan langit senja yang mulai jingga.
"Bagaimana kalau kita tinggal saja mobilnya sampai besok pagi, Kak?" usul Maya sambil melipat tangan di dada untuk menghalau angin malam yang mulai bertiup.
"Jangan, barang-barang di bagasi kan banyak, belum lagi dokumen kantor yang tertinggal di jok belakang. Aku tidak tenang kalau harus ditinggal di tempat terbuka begini," sangkal Samaira tegas.
"Tapi kita tidak punya uang cash banyak buat bayar derek malam-malam gini, Sam. ATM di seberang jalan rusak dari kemarin," ingatkan Maya dengan suara pelan agar tidak didengar orang lain.
Samaira terdiam. Kata-kata adiknya itu menohok kenyataan pahit yang sedang mereka hadapi. Gaji bulan ini baru akan cair tiga hari lagi, sementara tabungan daruratnya sudah terkuras untuk biaya pengobatan bibi mereka minggu lalu.
"Nanti kita cari jalan keluarnya. Yang penting mesinnya dingin dulu," ucap Samaira datar, mencoba menutupi kecemasannya.
Tidak lama kemudian, suara langkah kaki mendekat dari arah belakang mobil. Seorang pemuda berpostur tinggi dengan kaus hitam belel dan celana jins berlumur noda oli tampak berjalan santai sambil membawa kotak perkakas berkarat di tangan kanannya. Rambutnya agak berantakan, tertiup angin senja, namun sorot matanya tajam dan penuh percaya diri.
"Siapa yang bilang mobilnya mogok? Coba saya lihat dulu bagian mana yang kena," sapa pemuda itu tanpa basa-basi begitu sampai di depan kap mesin yang terbuka.
❖ ❖ ❖
Pemuda yang memperkenalkan diri sebagai Arya itu langsung membungkuk di atas mesin mobil Samaira tanpa banyak bicara. Ia mengambil senter kecil dari kantong celananya dan mengarahkan cahayanya ke celah-celah mesin yang sempit. Dahinya berkerut dalam, mengamati setiap selang dan sambungan radiator dengan teliti.
"Ini sih selang bypass-nya lepas, terus klep radiatornya sudah aus total," kata Arya tanpa mengalihkan pandangannya dari mesin. "Pantas saja airnya langsung habis dalam hitungan kilometer."
"Bisa diperbaiki malam ini juga, Mas?" tanya Samaira langsung, nada suaranya menyiratkan urgensi yang tinggi.
Arya menegakkan tubuhnya, lalu menatap Samaira sekilas dengan tatapan menilai. "Bisa saja, tapi masalahnya suku cadang pengganti untuk tipe mobil tua seperti ini tidak ada di warung sebelah. Harus diambil di gudang saya yang agak jauh ke dalam kota."
"Berapa lama kira-kira?" tanya Maya menyela dengan cemas.
"Kalau jalanan lancar dan saya naik motor cepat, mungkin sekitar empat puluh menit pulang pergi. Tapi masalahnya, sebentar lagi azan magrib, dan bengkel kecil saya tutup kalau sudah malam," jawab Arya sambil menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan yang kotor oleh oli.
Samaira melirik jam tangannya. Pukul 18.15 WIB. Waktu terasa berjalan begitu cepat, sementara posisi mereka terjebak di tempat antah berantah dengan mobil yang tidak bisa bergerak.
"Tolonglah, Mas Arya. Kami harus sampai di rumah sebelum jam delapan malam karena ada urusan penting," mohon Samaira dengan suara yang mulai melunak, menunjukkan sisi rentannya yang selama ini ia sembunyikan di balik sikap keras kepalanya.
Arya terdiam sejenak, menatap mata Samaira yang memantulkan cahaya lampu neon SPBU. Ada keraguan sejenak di wajah pemuda itu sebelum akhirnya ia menghela napas panjang.