Jarak di Ujung Nozzle

Amrullah Ibrahim
Chapter #4

Kilasan 18 Tahun Lalu

Malam di Kota Senja tidak pernah benar-benar sunyi. Di sudut lantai tiga gedung arsip pusat kota, suara derit kipas angin tua berputar malas di langit-langit, memecah keheningan yang menyesakkan. Bau debu tua, kertas kusam, dan tinta cetak lawas menguap di udara, bercampur dengan aroma kopi hitam dingin yang sudah dibiarkan di atas meja kayu berpelitur kelam sejak tiga jam lalu.

Bara duduk membungkuk di hadapan sebuah lemari besi berkarat. Jemarinya yang kokoh membolak-balik lembaran demi lembaran dokumen arsip tahun-tahun awal milenium. Di bawah lampu meja bercahaya kuning temaram, wajahnya tampak tirus, menyisakan guratan lelah yang teramat sangat di sekitar pelipis dan sudut matanya. Dua puluh delapan tahun usianya, namun beban hidup yang dipikulnya seolah mencuri separuh dari masa mudanya.

"Kau masih di sini, Bara?"

Suara itu datang dari ambang pintu. Samaira berdiri di sana, mengenakan mantel wol tipis berwarna abu-abu gelap dengan syal rajut melingkar di leher jenjangnya. Rambut sebahunya tergerai sedikit berantakan, menandakan ia baru saja menerpa angin dingin malam di luar. Di tangan kanannya, sebuah termos kecil dan dua cangkir kertas beruap tipis menyembulkan aroma jahe hangat.

Bara tidak langsung mendongak. Ia menarik napas panjang, meresapi derit kertas yang bergesekan sebelum akhirnya mengalihkan pandangan ke arah Samaira.

"Aku tidak bisa tidur, Sam," jawab Bara dengan suara berat dan serak. "Setiap kali aku memejamkan mata, bayangan malam delapan belas tahun lalu itu selalu berputar di kepala. Suara sirene, bau bensin yang menyengat, dan kilatan cahaya merah-biru dari mobil pemadam... semuanya terasa begitu nyata. Seolah-olah kejadian itu baru saja terjadi kemarin sore."

Samaira melangkah masuk. Langkah kakinya pelan, berderap tipis di atas lantai ubin keramik putih yang sudah menguning. Ia meletakkan cangkir termos di atas tumpukan arsip yang tidak terpakai, lalu menarik kursi kayu di seberang Bara.

"Kau terlalu memaksakan diri, Bara. Arsip-arsip lama itu tidak akan lari ke mana-mana," ucap Samaira lembut. Ia menatap mata Bara lekat-lekat, mencari sisa-sisa kewarasan di balik sorot mata pria itu yang kerap menyala oleh amarah dan rasa penasaran yang membara.

"Bagaimana aku bisa berhenti, Sam?" Bara mendengus pelan, separuh mengejek dirinya sendiri. "Ayahku menghabiskan separuh hidupnya di tempat ini, mencari kebenaran yang disembunyikan rapat-rapat oleh orang-orang berjas rapi di balik gedung pemerintahan. Dan sekarang, setelah dia tiada, beban itu jatuh begitu saja di pundakku. Aku harus tahu apa yang terjadi pada malam tanggal 14 Agustus delapan belas tahun lalu."

Samaira terdiam sejenak. Ia meraih cangkir kertas, meniup permukaannya yang panas sebelum menyodorkannya kepada Bara. "Minumlah dulu. Tenggorokanmu kering."

Bara menerima cangkir itu. Sentuhan jemari mereka bersentuhan sekilas; dingin tangan Bara beradu dengan kehangatan kulit Samaira. Ada getaran kecil yang merambat di antara keduanya, sesuatu yang tidak pernah diucapkan dengan kata-kata namun selalu hadir di setiap ruang sempit tempat mereka berbagi rahasia.

"Terima kasih," gumam Bara lirih. Ia meneguk air jahe itu pelan-pelan, merasakan sengatan hangat yang meluncur ke tenggorokannya. "Tapi ada sesuatu yang janggal dalam berkas-berkas ini, Sam. Sesuatu yang baru kusadari tadi."

"Apa itu?" Samaira mencondongkan tubuhnya ke depan, serius.

"Laporan penyelidikan awal dari kepolisian menyebutkan bahwa kebakaran di gudang logistik pelabuhan utara itu murni akibat korsleting listrik," kata Bara, jarinya menunjuk sebuah lembar kertas kuning yang sudah rapuh di pinggirannya. "Tapi di halaman berikutnya, laporan forensik yang ditandatangani oleh seorang dokter senior mencatat adanya residu bahan kimia tertentu—sesuatu yang biasa digunakan untuk mempercepat pembakaran terkontrol."

Samaira mengerutkan keningnya. "Itu berarti..."

"Artinya, kebakaran itu bukan kecelakaan," potong Bara tegas, matanya menatap tajam ke arah Samaira. "Itu adalah sabotase. Dan seseorang di kepolisian sengaja mengubah kesimpulan akhir agar kasus itu ditutup secepat mungkin."

Suasana di dalam ruangan mendadak terasa semakin dingin. Hembusan angin malam dari ventilasi atas mendesirkan tirai kain kusam yang menutupi jendela besar di sudut ruangan. Samaira merapatkan mantelnya, bukan karena suhu udara, melainkan karena beban dari kenyataan yang perlahan-lahan mulai terkuak di hadapan mereka.

"Jika apa yang kau katakan benar, Bara... berarti orang-orang yang bertanggung jawab atas kematian ayahmu bukanlah penjahat jalanan biasa," ujar Samaira dengan suara berbisik, seolah takut dinding-dinding arsip tua itu mendengarkan pembicaraan mereka. "Melainkan seseorang yang memiliki pengaruh besar. Seseorang yang bisa mengatur laporan kepolisian dalam satu malam."

"Aku tahu," balas Bara dingin. Ia menegakkan punggungnya, menatap lurus ke arah jendela yang memperlihatkan kerlip lampu kota di kejauhan. "Dan aku siap menghadapi siapa pun itu, meskipun aku harus membongkar seluruh kuburan rahasia di kota ini."

Samaira menatap profil wajah Bara dari samping. Di bawah temaram cahaya lampu meja, garis rahang pria itu mengeras, menciptakan bayangan tegas yang mengingatkannya pada sesuatu—atau seseorang. Sebuah memori samar, kabur dan terbungkus kabut masa kecil, tiba-tiba melintas di benaknya.

Delapan belas tahun lalu... di tempat yang jauh dari sini, di tengah hiruk-pikuk evakuasi yang kacau... aku pernah melihat mata itu.

Samaira menggelengkan kepalanya pelan, mencoba menepis bayangan masa lalu yang mendadak muncul tanpa diundang. Namun debar di dadanya tidak bisa berbohong. Ada sebuah kaitan tak kasat mata yang selama ini menghubungkan takdir mereka berdua, sebuah benang merah yang ditenun oleh tragedi di malam kelam masa silam.

❖ ❖ ❖

Keesokan paginya, matahari pagi gagal menembus lapisan kabut tebal yang menggelayut di atas distrik pelabuhan lama. Udara berbau asin laut dan solar terbakar melekat di kulit. Bara dan Samaira berdiri di depan gerbang besi berkarat dari bekas gudang logistik yang kini telah berubah menjadi reruntuhan tertutup ilalang tinggi.

"Tempat ini benar-benar sudah mati," gumam Samaira sambil melangkah hati-hati menghindari pecahan beton dan kawat berduri yang berserakan di tanah.

"Tidak sepenuhnya mati," balas Bara. Ia berjongkok di dekat sebuah fondasi beton yang gosong di bagian dasarnya. "Bekas-bekas panas itu masih bisa dirasakan jika kau tahu apa yang harus dicari. Ayahku sering bilang, api yang membakar dengan bahan kimia khusus meninggalkan noda warna kebiruan pada batu-batu karang di sekitarnya."

Samaira ikut berjongkok di samping Bara. Ia mengamati permukaan beton yang ditunjuk oleh pria itu. Di sana, di bawah lapisan debu tebal, tampak semburat warna kebiruan yang memudar, nyaris tak terlihat oleh mata awam.

"Kau benar," bisik Samaira. Ia mendongak menatap Bara. "Tapi untuk apa seseorang membakar gudang ini delapan belas tahun lalu? Apa yang sebenarnya disimpan di dalamnya?"

"Dokumen," jawab Bara tanpa ragu. "Bukan sekadar barang dagangan. Ayahku menemukan catatan pengiriman ilegal yang melibatkan perusahaan logistik milik konglomerat lokal—PT Cakrawala Samudera. Dan malam sebelum dokumen itu diserahkan ke komisi antikorupsi, gudang ini terbakar habis bersama seluruh isinya... termasuk rekan kerja ayahku yang tinggal di pos jaga."

Tiba-tiba, suara derit ban mobil yang mengerem mendadak di jalan berbatu di luar gerbang memecah keheningan pagi.

Bara langsung berdiri, menarik tangan Samaira untuk bersembunyi di balik dinding beton reruntuhan yang masih agak tinggi. Jantung mereka berdetak kencang seiring suara pintu mobil dibanting keras.

"Tetap di sini," bisik Bara tajam, sementara tangannya merogoh saku jaketnya, memastikan sebilah pisau lipat kecil bersarang di sana.

"Jangan bodoh, Bara!" Samaira mencengkeram lengan jaket Bara. "Kita tidak tahu siapa mereka!"

"Justru karena kita tidak tahu, kita harus tetap waspada."

Lihat selengkapnya