Matahari sore di jalur lintas Sumatra membias membentuk garis-garis emas kemerahan yang menembus celah kanopi pohon karet tua di pinggir jalan. Udara beraroma basah sisa hujan kemarin sore masih tertinggal, berpadu dengan aroma bensin RON 92 yang khas dari stasiun pengisian bahan bakar umum tempat Aryo bekerja. Pom bensin mini bergaya modern itu tampak lengang menjelang magrib. Hanya ada satu dua kendaraan yang singgah, mengisi bahan bakar sebelum melanjutkan perjalanan panjang menuju pelabuhan atau kota kabupaten tetangga.
Aryo berdiri di dekat mesin dispenser, mengelap tangannya yang sedikit berminyak menggunakan sehelai kain majun usang. Pikirannya melayang pada kejadian beberapa hari lalu, saat seorang perempuan misterius datang dengan mobil sedan tua yang tangki bahan bakarnya penuh, namun bersikeras ingin mengisi bensin hanya untuk memulai percakapan yang penuh teka-teki. Perempuan itu bernama Samaira. Nama yang asing namun terasa memiliki resonansi ganjil di ingatan Aryo, seolah nama itu terkunci di balik pintu gudang memori yang sudah lama tidak dibuka.
"Aryo, di depan ada mobil masuk. Cek dulu, jangan ngelamun terus kayak orang kehabisan bensin," tegur Pak Darma, pemilik SPBU sekaligus paman angkat Aryo yang muncul dari balik pintu kantor kecil sambil membawa secangkir kopi hitam.
"Eh, iya, Paman. Ini mau dicek," jawab Aryo sambil merapikan topi hitamnya dan melangkah cepat menyambut kendaraan yang baru saja berbelok pelan memasuki area pengisian.
Sebuah sedan hitam keluaran lama dengan cat yang mulai pudar di bagian kap mesin berhenti tepat di samping pulau pompa nomor dua. Mesinnya dimatikan, menyisakan dengung halus kipas radiator sebelum akhirnya benar-benar sunyi. Pintu kemudi terbuka perlahan. Sesosok perempuan berbalut jaket denim usang dengan syal abu-abu melilit di lehernya melangkah turun. Cahaya lampu sorot SPBU yang kekuningan menyorot wajahnya yang tirus, mempertegas garis rahang yang tegas dan sepasang mata tajam yang langsung menatap lurus ke arah Aryo.
Jantung Aryo berdegup sedikit lebih cepat. Itu bukan pelanggan biasa yang berniat mengisi bahan bakar untuk perjalanan jauh. Itu Samaira.
"Sore, Mas Aryo. Kita ketemu lagi," sapa Samaira dengan suara tenang, hampir berbisik, namun terdengar jelas di tengah keheningan senja.
"Sore, Mbak Samaira. Saya kira... ah, silakan. Mau isi bensin atau ada hal lain yang tertinggal?" tanya Aryo, berusaha menjaga nada suaranya tetap profesional meski ada rasa penasaran yang mendesak didadanya.
Samaira melangkah mendekat, berdiri tepat di hadapan Aryo tanpa memedulikan jarak aman profesional. Ia tidak membawa dompet, tidak pula memegang kunci tangki bensin. Tangannya dimasukkan ke dalam saku jaket, sementara pandangannya menyapu sekeliling area SPBU sebelum kembali menatap mata Aryo lekat-lekat.
"Aku tidak datang untuk isi bensin, Aryo. Kali ini, aku datang untuk memastikan sesuatu. Sesuatu yang selama ini kau coba kubur dalam-dalam di balik rutinitas mesin pompa dan hitungan liter minyak," ucap Samaira dengan intonasi yang menusuk kesadaran.
"Memastikan apa, Mbak? Kita baru bertemu sekali kemarin lusa. Saya hanya penjaga pompa di sini, hidup saya lurus-lurus saja, tidak ada rahasia besar yang perlu dicari," tangkis Aryo, mencoba tersenyum, meski senyumannya terasa kaku di bibirnya.
"Hidup yang lurus katamu?" Samaira mendengus pelan, sebuah senyum tipis tersungging di sudut bibirnya yang pucat. "Orang yang hidupnya lurus tidak akan menyimpan liontin perak berbentuk jangkar patah di laci meja kerjanya, apalagi menyembunyikan masa lalu di balik nama samaran."
Aryo tertegun. Napasnya seakan tertahan di tenggorokan. Liontin itu—barang peninggalan masa kecil yang ia simpan rapat-rapat di dalam kotak kayu di laci kamarnya di belakang kantor—tidak pernah ia perlihatkan kepada siapa pun, bahkan kepada Pak Darma sekalipun. Bagaimana mungkin perempuan di hadapannya ini bisa tahu?
"Dari mana... dari mana Mbak tahu soal itu?" suara Aryo berubah parau, pertahanan tenangnya runtuh seketika.
"Karena aku adalah bagian dari masa lalu yang kau coba lupakan, Aryo. Atau lebih tepatnya, orang yang selama ini mencarimu ketika kau memilih menghilang," jawab Samaira tegas, melangkah lebih dekat hingga aroma parfum lavender bercampur udara senja tercium oleh Aryo.
Pak Darma yang melihat interaksi tegang dari kejauhan mulai melangkah mendekat, namun Samaira melirik sekilas ke arah lelaki paruh baya itu dengan tatapan yang menyuruhnya untuk tidak ikut campur. Pak Darma menghentikan langkahnya, mengerutkan kening, lalu memilih berdiri di dekat pintu kantor sambil mengawasi.
"Duduklah sebentar di bangku kayu itu, Aryo. Giliranmu istirahat kan? Mari kita bicara sebagai dua orang dewasa yang lelah berlari dari kenyataan," ajak Samaira sambil menunjuk bangku panjang di bawah lampu taman SPBU yang temaram.
Aryo menatap Samaira, lalu menoleh sekilas ke arah Pak Darma yang memberi gestur anggukan kecil seolah mengizinkan. Dengan langkah berat, Aryo menuruti ajakan tersebut. Udara malam mulai merayap naik, membawa kesejukan pegunungan yang berpadu dengan ketegangan yang kian pekat di antara mereka berdua.
❖ ❖ ❖
Mereka duduk berdampingan di atas bangku kayu panjang yang catnya sudah mengelupas di beberapa bagian. Di kejauhan, deru truk fuso yang melintas di jalan raya utama terdengar seperti ombak monoton yang memecah karang. Samaira mengeluarkan sebuah benda kecil dari dalam sakunya dan meletakkannya perlahan di atas bilah kayu di antara mereka.
Sebuah benda logam kusam berbentuk jangkar dengan ujung yang patah.
Aryo menatap benda itu dengan napas tertahan. Matanya membelalak. Itu bukan sekadar mirip; itu adalah separuh bagian dari liontin kembar yang ia miliki sejak kecil—liontin yang ia yakini telah hilang bersama tenggelamnya kapal kayu di dermaga pelabuhan lama dua belas tahun silam.
"Kau... kau dapat dari mana ini?" tanya Aryo, jemarinya bergetar saat mencoba menyentuh logam dingin tersebut, namun urung.
"Aku tidak menemukannya, Aryo. Aku menyimpannya," jawab Samaira lirih. Ia menoleh, menatap lurus ke dalam bola mata Aryo yang memantulkan cahaya lampu taman. "Dan bagian pasangannya ada di tanganmu, tersimpan di laci kamarmu. Kau pikir aku tidak tahu kebiasaan lamamu? Menyembunyikan barang-barang berharga di tempat paling gelap karena takut kehilangan lagi."
"Jangan bicara seolah-olah kau mengenaliku, Samaira!" suara Aryo meninggi, meski ia segera meredamnya agar tidak terdengar oleh Pak Darma. "Aku kehilangan segalanya malam itu! Ayahku, dermaga itu, masa kecilku! Dan tiba-tiba kau datang, membawa potongan besi berkarat ini, dan berkata seolah-olah kau tahu segalanya tentang luka yang ku alami?"
"Karena aku ada di sana, Aryo!" seru Samaira dengan nada yang tak kalah tajam, namun penuh emosi yang tertahan. Air mata tiba-tiba menggenang di pelupuk matanya, membuat kilau cahaya lampu jalan berpendar di sana. "Aku anak kecil yang duduk di dek kapal sebelah, yang melihat ayahmu berteriak menyuruh kita melompat sebelum tiang utama kapal itu patah menimpa buritan! Aku adalah orang yang menunggumu di posko pencarian selama tiga hari tiga malam, sementara keluargamu membawamu pergi tanpa jejak!"
Keheningan mendadak menyergap di antara keduanya. Angin malam berhembus kencang, menggoyangkan daun-daun karet dan menerbangkan debu jalanan. Aryo terpaku. Puing-puing ingatan masa kecil yang selama ini terkubur dalam kabut amnesia traumatis mendadak berhamburan ke permukaan. Wajah-wajah asing, suara benturan kayu yang keras, air laut yang gelap dan dingin, serta seorang anak perempuan berambut pendek yang menangis tersedu di pelukan petugas penyelamat.
Anak perempuan itu... adalah Samaira.
"Samaira..." bisik Aryo, nama itu keluar begitu saja dari bibirnya dengan kesadaran penuh untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun. "Jadi... kau benar-benar gadis di pelabuhan itu."
"Ya, Aryo. Aku mencarimu ke mana-mana setelah dewasa. Aku menelusuri setiap catatan dermaga, setiap arsip kecelakaan laut, hingga akhirnya aku melihat wajahmu di balik seragam petugas SPBU ini minggu lalu," kata Samaira sambil menyeka air mata di pipinya dengan ujung jemarinya. "Aku datang bukan untuk menyakitimu, tapi untuk menagih janji kecil yang kita buat di atas geladak kapal sesaat sebelum musibah itu terjadi."
"Janji?" Aryo mengerutkan kening, mencoba menggali kembali memori masa kecilnya yang compang-camping. "Janji apa yang bisa dibuat oleh anak-anak berusia sepuluh tahun di tengah malapetaka?"
"Bahwa siapa pun di antara kita yang selamat, kita harus kembali ke tempat ini setelah dewasa untuk menceritakan kisah yang sebenarnya—bukan versi yang ditutup-tutupi oleh orang dewasa," ucap Samaira tegas. Ia meraih kembali potongan jangkar perak itu dan menggenggamnya erat di telapak tangannya. "Dan sekarang, aku di sini. Menagih janji itu."
Aryo menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering. Pertemuan yang ia kira sekadar kebetulan remeh kini berubah menjadi pusaran masa lalu yang siap menyeretnya kembali ke dasar laut yang gelap.
❖ ❖ ❖
Suasana di sekitar bangku panjang itu terasa semakin senyap, terisolasi dari kebisingan kendaraan yang melintas di jalan raya Sumatra. Aryo menundukkan kepalanya, menatap kedua tangannya sendiri yang kini tampak begitu asing. Bayangan kecelakaan dua belas tahun lalu berputar kembali di kepalanya seperti film bisu yang diputar dalam kecepatan tinggi.
"Kenapa baru sekarang, Samaira?" tanya Aryo dengan suara parau, jari-jarinya mencengkeram erat tepi bangku kayu. "Kenapa setelah aku mencoba membangun hidup baru di tempat antah berantah ini, kau datang dan membongkar semuanya? Kau tidak tahu betapa sulitnya melupakan bau solar, suara hantaman ombak, dan rasa bersalah karena gagal menyelamatkan ayahku?"
Samaira menghela napas panjang, merapatkan jaket denimnya untuk menahan angin malam yang mulai menusuk tulang. Ia menatap Aryo dengan tatapan penuh pengertian, namun ada ketegasan yang tidak bisa ditawar di dalamnya.