Jarak di Ujung Nozzle

Amrullah Ibrahim
Chapter #6

Pelanggan yang Aneh

Matahari sore di kawasan Cikini menyisakan bias jingga yang pucat di antara rimbunnya kanopi pohon angsana. Di dalam kedai kopi kecil bernama Kopi Roda Dua yang dipenuhi aroma biji kopi Flores dan oli mesin motor tua, suara gesekan ampelas dan denting kunci pas berpadu harmonis.

Bara Danendra, seorang mekanik berusia 34 tahun dengan tato samar di lengan kiri dan kaus hitam belel yang melekat pas di tubuhnya, sedang menyeka tangannya yang berlumuran oli menggunakan kain majun kotor. Dahinya berkeringat, rambut ikalnya berantakan dibiarkan jatuh menutupi kening, dan ia terlihat sangat menikmati ketenangan dunianya yang sederhana—jauh dari hiruk-pikuk gedung pencakar langit dan intrik korporat.

"Bara! Ada kiriman lagi nih buat lo!" teriak Jono, asisten bengkelnya yang berusia dua puluhan, sambil meletakkan sebuah kotak kardus kecil di atas meja kerja yang penuh dengan baut dan obeng.

Bara menghentikan kegiatannya. Ia menaikkan sebelah alisnya, menatap kotak berukuran sedang itu dengan curiga. "Kiriman apa lagi, Jon? Gue kan nggak pernah pesan onderdil online minggu ini."

"Mana gue tahu, Bang. Kurirnya tadi buru-buru banget, cuma bilang ini buat 'Bara sang Penguasa Bengkel' sambil nyengir, terus langsung ngibrit," jawab Jono polos sambil kembali menyambung kabel lampu sein motor vespa klasik yang sedang ia perbaiki.

Bara mendengus pelan, lalu melangkah mendekati meja kerjanya. Dengan ujung pisau lipat kecil, ia merobek lakban cokelat yang merekat kuat di tutup kardus tersebut. Di dalam kardus itu, terbungkus rapi dalam kertas tisu hitam dan selembar pita perak, terdapat sebuah termos kopi stainless steel berwarna hitam matte berukuran eksklusif, lengkap dengan ukiran inisial nama kecil di permukaannya: B.D.

Bukan itu saja yang membuatnya terpaku. Di bawah termos tersebut, terdapat secarik kartu kecil bertekstur tebal dengan tulisan tangan yang sangat rapi dan tegas:

Bara terdiam, menatap kartu itu selama beberapa detik sebelum akhirnya mendengus tawa kecil yang terdengar sinis namun geli.

Samaira Danendra. Nama itu kembali menghantui hari-harinya dalam seminggu terakhir. Sejak insiden pertemuan tak terduga di lobi gedung pencakar langit beberapa waktu lalu—di mana wanita berdarah dingin itu mendadak muncul di bengkel kumuhnya dengan alasan mobil mewahnya mogok, padahal tidak ada kerusakan sama sekali—Samaira seolah menjadikan kedai kecilnya sebagai pos pengamatan pribadi.

Hampir setiap hari, selalu ada hal aneh yang datang. Kemarin, sebuah kursi kerja ergonomis seharga puluhan juta dikirim ke bengkelnya dengan alasan "kursi kayu lamamu merusak postur tulang belakang." Dua hari sebelumnya, Samaira datang sendiri mengenakan setelan jas formal mahal hanya untuk memesan segelas kopi hitam pahit tanpa gula, duduk di bangku kayu reyot di sudut bengkel sambil membaca laporan keuangan perusahaan di tablet mahalnya, tanpa peduli pada debu mesin yang beterbangan.

"Wah, gila sih ini, Bang," panggil Jono sambil melongok dari balik jok vespa, matanya membelalak melihat termos mewah tersebut. "Pelanggan lo yang kemarin itu beneran niat banget. Dia bos besar korporasi properti, kan? Kenapa betah banget nongkrong di bengkel kita yang bau bensin ini?"

Bara menutup kembali kardus itu dengan kasar, lalu mendengus. "Dia bukan sekadar nongkrong, Jon. Dia lagi ngajak perang saraf."

"Perang saraf macam apa yang ngasih hadiah termos kopi seharga motor matic bekas?" protes Jono cengengesan.

Sebelum Bara sempat membalas ucapan asistennya, suara decitan ban mobil mewah yang mengerem halus terdengar dari depan pintu bengkel. Sebuah sedan hitam legam berpenampilan futuristik berhenti tepat di ambang pintu geser bengkel yang terbuka lebar.

Pintu belakang mobil terbuka. Sosok wanita berpostur tinggi dengan setelan blazer charcoal dan kacamata hitam berbingkai tipis melangkah keluar. Langkah kakinya tegas, menapaki lantai semen bengkel yang kotor tanpa sedikit pun keraguan di wajahnya.

Semua pekerja di bengkel seketika terdiam. Suara benturan kunci pas dan deru mesin mendadak senyap.

Samaira Danendra berdiri di hadapan meja kerja Bara, melepas kacamata hitamnya, lalu menatap mekanik itu dengan sorot mata abu-abu yang tajam namun menyembunyikan sesuatu yang sulit diartikan.

"Sore, Bara," sapa Samaira tenang, suaranya terdengar sangat kontras dengan suasana bising bengkel. "Kelihatannya kau belum menyentuh termos kopi yang kukirimkan."

Bara menegakkan tubuhnya, melepas sarung tangan kerjanya yang kotor, lalu melipat tangan di depan dada. Ia menatap wanita di depannya dengan tatapan kikuk yang mati-matian ia sembunyikan di balik ekspresi datarnya.

"Nona Samaira," ucap Bara dengan nada suara yang sedikit tertahan. "Ini sudah yang kelima kalinya minggu ini kau datang ke tempat kumuh ini. Apa direksi Danendra Group sudah bangkrut sampai-sampai kau tidak punya pekerjaan lain selain mengawasi tukang bengkel?"

Samaira tidak tersinggung. Ia justru melangkah lebih dekat, mengabaikan noda oli yang hampir mengenai ujung jas mahalnya, lalu menatap kotak kardus di atas meja.

"Pekerjaanku berjalan dengan sangat baik, Bara," balas Samaira pelan, menatap lurus ke dalam manik mata Bara. "Justru karena segala sesuatunya sudah berjalan sesuai rencana... aku memiliki waktu luang untuk memastikan bahwa orang yang menyelamatkanku dari badai masa lalu tidak mati kelaparan karena terlalu sibuk bekerja."

Bara merasa tenggorokannya mendadak kering. Kehadiran Samaira yang begitu intens, penuh kontrol, dan terlampau dekat membuat benteng pertahanan mental yang biasa ia pasang di hadapan orang lain runtuh seketika.

❖ ❖ ❖

Suasana di dalam sudut bengkel mendadak terasa begitu sempit bagi Bara. Ia mengalihkan pandangannya ke arah lain, berusaha menghindari tatapan intens dari wanita yang kini berdiri hanya berjarak satu langkah darinya.

"Dengar, Samaira," ujar Bara dengan suara yang sengaja dilembutkan, mencoba menegaskan batasan. "Apa yang terjadi minggu lalu di gedungmu itu murni kebetulan. Aku tidak minta dibalas budi, dan aku sama sekali tidak butuh termos mahal atau kursi ergonomis."

Samaira merapatkan bibirnya sejenak, lalu mendengus pelan—sebuah reaksi langka yang menunjukkan sedikit emosi di balik topeng esnya.

"Kau menganggap ini sebagai balas budi?" tanya Samaira tajam, suaranya merendah. "Bukan, Bara. Ini bukan tentang utang budi."

Bara mengerutkan keningnya, kembali menatap wanita itu. "Lalu apa namanya kalau kau terus meneror bengkel kecilku dengan barang-barang mewah dan kunjungan mendadak setiap sore?"

"Namanya adalah kehadiran," jawab Samaira tanpa ragu, membuat Bara tertegun. "Di dunia yang kutinggali, semua orang mendekatiku karena mereka butuh perlindungan, butuh jabatan, atau ingin mengambil keuntungan dari Danendra Group. Tidak ada satupun orang yang benar-benar melihatku sebagai manusia."

Samaira melangkah lebih dekat lagi, hingga aroma parfum eau de parfum beraroma cedarwood dan lavender yang lembut menguar di antara bau oli dan bensin.

"Dan ketika aku berada di dekatmu, di tempat yang kotor dan bising ini..." lanjut Samaira lirih, matanya menatap lekat-lekat bahu bidang Bara, "untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, aku tidak perlu mengenakan baju besi korporatku."

Bara merasakan degup jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya—bukan karena ancaman bahaya seperti musuh bisnis atau sabotase, melainkan karena kejujuran yang telanjang dari seorang perempuan es yang selama ini dikenal paling ditakuti di ibu kota.

Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, merasa salah tingkah luar biasa. Sebagai seorang mekanik yang terbiasa menghadapi mesin rusak dan komponen yang rumit, menghadapi kerentanan emosional seorang Samaira Danendra adalah jenis kerusakan yang tidak memiliki buku manual panduannya.

"Kau... kau tidak seharusnya bicara seperti itu di tempat terbuka seperti ini, Samaira," gumam Bara kikuk, melirik ke arah Jono dan beberapa mekanik lain yang pura-pura sibuk membongkar ban sambil mencuri-curi pandang ke arah mereka.

Samaira menoleh sekilas ke arah para pekerja bengkel, lalu kembali menatap Bara dengan senyuman tipis yang hampir tidak terlihat di sudut bibirnya.

"Biarkan mereka melihat," kata Samaira santai. "Biar seluruh kota tahu bahwa CEO Danendra Group sedang menghabiskan sorenya di bengkel motor tua."

"Bukan masalah apa kata orang kota, tapi... astaga, lihat bajumu," protes Bara sambil menunjuk ujung jas charcoal Samaira yang terkena sedikit cipratan debu hitam dari lantai bengkel.

Samaira menunduk melihat bajunya, lalu mendengus kecil. "Harganya tidak seberapa dibandingkan dengan waktu yang kuhabiskan di sini."

Bara menghela napas panjang, menyerah pada kekeraskepalaan wanita di hadapannya. Ia meraih termos hitam berinisial B.D. di atas meja, membukanya perlahan, dan mencium aroma kopi hitam yang masih mengepul hangat di dalamnya.

Lihat selengkapnya