Pagi di SPBU tempat Bara bekerja selalu dimulai dengan ritme yang konstan dan tak kenal ampun. Suara deru mesin kendaraan yang mengantre, bau bensin yang pekat menyengat indra penciuman, serta terik matahari pagi yang mulai merambat naik membentuk sebuah rutinitas yang telah mendarah daging bagi Bara. Sebagai seorang petugas senior di jalur pengisian khusus mobil, ia sudah terbiasa menghadapi berbagai macam tipe pelanggan—mulai dari pengendara yang terburu-buru, sopir angkutan yang cerewet, hingga pengendara acuh tak acuh yang bahkan enggan menurunkan kaca jendela mobil mereka.
Namun, dalam dua minggu terakhir, ada satu pengecualian kecil yang secara perlahan mengubah dinamika hari-hari kerjanya yang monoton.
Sebuah sedan berwarna abu-abu metalik merapat pelan ke jalur pompa nomor dua tepat pukul sembilan pagi. Mobil itu sudah menjadi pemandangan yang familier bagi Bara. Di balik kemudi mobil tersebut duduk seorang wanita muda dengan kemeja rapi berwarna biru muda dan rambut sebahu yang diikat setengah. Namanya Maya, seorang arsitek yang kantornya terletak tidak jauh dari kawasan SPBU tersebut.
Bara segera melangkah mendekat dengan senyum ramah yang selalu ia jaga. Ia mengetuk pelan kaca jendela mobil bagian pengemudi. Kaca jendela itu pun turun perlahan, menampakkan wajah Maya yang tampak sedikit lelah dengan lingkaran samar di bawah matanya.
"Pagi, Mbak Maya. Pertamax penuh seperti biasa, ya?" sapa Bara hangat, memegang nosel bensin dengan mantap.
Maya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang jauh lebih lembut dibandingkan pertemuan pertama mereka sebulan lalu ketika ia datang dengan wajah kesal karena ban kempes. "Pagi juga, Bara. Iya, tolong penuh ya. Kayaknya hari ini bakal jadi hari yang panjang banget buat aku."
"Kelihatan dari mukanya, Mbak. Kurang tidur ya gara-gara revisi desain lagi?" ledek Bara ringan, berusaha mencairkan suasana.
Maya mendesah pelan sambil menyandarkan kepalanya pada kursi pengemudi. "Ditebak pun ketahuan. Proyek renovasi kafe di ujung jalan itu rewel banget kliennya. Ada aja yang mau diubah, padahal struktur dasarnya udah disetujui dari minggu lalu. Rasanya pengen pensiun dini aja jadi tukang kebun."
Bara tertua kecil, suaranya berpadu dengan dengung mesin pompa yang mulai menghitung liter bahan bakar yang masuk ke tangki mobil Maya. "Jangan pensiun dulu, Mbak. Nanti arsitek cantik di area sini pada kehabisan tenaga buat bikin kota ini makin keren. Kalau soal klien rewel, dinikmati aja. Anggap itu seni melatih kesabaran tingkat dewa."
"Gampang banget ya kamu ngomong sabar, Bar. Coba kalau kamu yang harus ngadepin klien yang maunya serba instan tapi budget pas-pasan," balas Maya setengah berkelakar, meski matanya menyiratkan rasa geli atas komentar Bara.
"Pekerjaan kita beda tempat aja, Mbak. Kalau Mbak pusing ngadepin gambar bangunan yang nggak sesuai, saya tiap hari pusing ngadepin angka digital pompa bensin yang kadang suka ngaret kalau listriknya njeglek. Bedanya, bangunan Mbak kalau jadi keliatan megah, kalau bensin saya masuk tangki langsung dibakar habis di jalan," jawab Bara jenaka.
Maya tertawa renyah, tawa yang membuat lelah di wajahnya sejenak menguap. "Kamu ini ada-ada saja, Bar. Pintar banget kalau ngomong."
"Bukannya pintar, Mbak. Cuma bertahan hidup sambil cari senyum orang lain biar hari-hari nggak berasa berat," ucap Bara jujur, nada suaranya berubah sedikit lebih lembut.
Percakapan singkat di balik kaca mobil itu terus berlanjut secara natural setiap kali Maya datang mengisi bahan bakar. Di sela-sela kesibukan melayani puluhan kendaraan lain, jeda waktu beberapa menit saat bensin mengalir ke dalam tangki mobil Maya menjadi sebuah ruang kecil bagi keduanya untuk saling bertukar cerita, berbagi keluh kesah harian, dan menemukan secercah kehangatan di tengah hiruk-pikuk kota yang bising. Bagi Bara, obrolan itu bukan sekadar ramah tamah basa-basi antara petugas dan pelanggan, melainkan sebuah bentuk koneksi manusiawi yang tulus di tempat yang serba mekanis.
❖ ❖ ❖
Matahari kini tepat berada di atas kepala, memancarkan panas terik yang membuat udara di sekitar area pengisian bahan bakar bergetar karena suhu tinggi. Keringat bercucuran di pelipis Bara, sementara Tono, rekan kerjanya, berteriak dari seberang pulau pompa mengingatkan tentang jadwal pengiriman tangki besar yang akan segera tiba. Di tengah kesibukan yang mulai memuncak itu, sedan abu-abu milik Maya kembali memasuki jalur pompa nomor dua.
Bara yang sedang sibuk merapikan selang nosel segera bergegas menghampiri mobil tersebut begitu Maya mematikan mesinnya. Kaca jendela turun, memperlihatkan raut wajah Maya yang kali ini tampak jauh lebih tegang ketimbang pagi-pagi sebelumnya.
"Pagi lagi, Mbak. Waduh, kayaknya hari ini lebih sibuk ya?" sapa Bara ramah sambil menyiapkan nosel Pertamax.
Maya tidak langsung menjawab. Ia menatap ke luar jendela, lalu menghela napas panjang dengan bahu yang merosot lemas. "Bar... Aku kayaknya lagi di titik paling buntu minggu ini. Tadi pagi presentasi desain ditolak total sama direksi klien. Semua konsep yang aku kerjain selama dua minggu terakhir dibuang begitu saja tanpa alasan yang jelas."
Bara tertegun sejenak. Ia melepaskan tangan dari tuas nosel, menatap Maya dengan penuh empati. "Ditolak total? Padahal kemarin Mbak bilang strukturnya udah disetujui."
"Itu dia masalahnya!" keluh Maya, nada suaranya mulai bergetar menahan emosi frustrasi. "Tiba-tiba direksi utamanya datang membawa ide baru yang sama sekali nggak masuk akal secara teknis. Tapi karena mereka yang bayar, tim aku nggak punya pilihan selain nurut. Rasanya capek banget, Bar. Kayak kerja rodi tapi nggak dihargai sama sekali."
Bara terdiam sesaat, meresapi kepedihan dan kelelahan yang terpancar jelas dari mata wanita di hadapannya itu. Ia tahu betul rasanya bekerja keras setengah mati namun hasil akhirnya diabaikan begitu saja oleh orang yang memegang kendali.
"Mbak Maya mau turun sebentar?" tawar Bara tiba-tiba dengan suara lembut.
Maya mengerjap heran. "Hah? Turun? Maksudnya gimana, Bar? Ini kan masih di area SPBU, antrean di belakang juga lumayan panjang."
"Sebentar aja. Geser ke kursi penumpang belakang atau minggir dulu ke bangku taman kecil di samping pos pengawas. Di situ teduh, ada angin sepoi-sepoi dari pohon mangga," bujuk Bara tulus. "Truk tangki bahan bakar saya baru mau masuk lima menit lagi, jadi saya masih punya waktu luang sebentar sebelum sibuk total."
Maya tampak ragu-ragu sejenak, namun sorot mata Bara yang menenangkan membuatnya luluh. Ia akhirnya membuka pintu mobil, keluar, dan berjalan pelan mengikuti langkah Bara menuju bangku kayu sederhana yang terletak di bawah rindangnya pohon mangga di sudut area SPBU.
Begitu mereka duduk, Bara merogoh saku seragamnya dan mengeluarkan dua botol teh manis dingin yang baru saja dibelinya di minimarket sebelah. Ia menyerahkan salah satu botol kepada Maya.
"Nih, minum dulu. Jangan cuma unek-uneknya aja yang ditelan, air dingin ini ampuh buat nurunin suhu kepala yang lagi panas," kata Bara sambil tersenyum kecil menyodorkan botol tersebut.
Maya menerima botol teh itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Ia membukanya lalu meneguknya perlahan. Sensasi dingin dan manis langsung merayap di tenggorokannya, memberikan sedikit ketenangan di tengah kekalutan pikirannya.
"Makasih ya, Bar. Tumben banget kamu peka sama orang stres," ujar Maya lirih, tersenyum kecut.
"Bukannya peka, Mbak. Saya juga sering di posisi itu. Waktu ngurusin biaya sekolah adik saya yang sempat nunggak dulu, rasanya mau marah ke semua orang di jalanan. Tapi saya sadar, marah-marah nggak bakal ngebenerin situasi. Yang ada malah bikin kita makin capek sendiri," tutur Bara tenang, memandang lurus ke arah jalan raya di depan mereka.
Maya menoleh, menatap sosok di sampingnya dengan pandangan penuh rasa ingin tahu. Ada kedewasaan dan ketenangan yang terpancar dari diri seorang petugas SPBU berkaos merah kumal itu, sesuatu yang sering kali gagal ia temukan pada rekan-rekan kerjanya di kantor yang serba ambisius.
❖ ❖ ❖
Suasana di bawah pohon mangga itu mendadak terasa hening di tengah bisingnya deru kendaraan kota. Hanya suara klakson sesekali dan dengung mesin pompa SPBU yang menjadi latar belakang percakapan mereka. Maya menatap permukaan botol teh di tangannya, memperhatikan bulir-bulir air yang menempel di dinding plastik.
"Kamu nggak pernah ngerasa jenuh, Bar? Kerja dari pagi sampai sore, berdiri di bawah terik matahari, ngadepin orang-orang yang kadang semena-mena?" tanya Maya pelan, memecah keheningan di antara mereka.