Malam semakin larut di Kota Bara, menyisakan hawa dingin yang menusuk tulang setelah hujan deras reda beberapa jam lalu. Di dalam kedai kopi kecil yang hangat di sudut jalan dekat taman kota, aroma biji kopi panggang bercampur dengan wangi kayu manis memenuhi udara. Samaira duduk di dekat jendela kaca yang berembun, menatap kosong ke luar ke arah lampu jalan yang berpendar kuning redup. Di hadapannya, Arya duduk dengan tenang, jemarinya memutar cangkir keramik berisi kopi hitam yang masih mengepulkan uap tipis.
Suasana di kedai itu cukup lengang, hanya menyetel alunan musik akustik pelan dari radio tua di sudut ruangan. Samaira menarik napas panjang, merapikan ujung syal rajut yang melingkar di lehernya, lalu menatap lurus ke arah Arya yang sejak tadi memperhatikan gerak-geriknya dengan saksama.
"Kamu tidak bosan mendengar cerita hidupku yang selalu penuh masalah sejak kita bertemu di SPBU itu, Ya?" tanya Samaira pelan, suaranya hampir tenggelam oleh petikan gitar dari radio.
Arya menggeleng perlahan, meneguk sedikit kopi hitamnya sebelum menjawab. "Sama sekali tidak, Sam. Justru sebaliknya. Ada bagian dari ceritamu yang membuatku merasa... kita sebenarnya sudah lama terhubung oleh benang yang tidak kasat mata."
Samaira mengernyitkan dahi, menatap pemuda itu dengan tatapan penuh tanya. "Maksudmu? Kita kan baru kenal beberapa minggu lalu waktu mobilku mogok."
"Belum tentu," balas Arya misterius, menyandarkan punggungnya ke kursi kayu. "Coba ingat-ingat lagi masa kecilmu. Waktu kamu tinggal di perkebunan teh di kaki bukit sebelum pindah ke kota ini."
Mendengar kata-kata itu, napas Samaira seketika tertahan. Jantungnya berdegup lebih kencang, dan bayangan-bayangan masa kecil yang sudah lama terkubur rapat di sudut pikirannya tiba-tiba menyeruak keluar tanpa diundang. Ia terdiam kaku, menatap lekat mata Arya yang memancarkan ketulusan sekaligus kesedihan yang mendalam.
"Bagaimana... bagaimana kamu tahu tentang perkebunan teh itu?" bisik Samaira, suaranya bergetar hebat. "Aku tidak pernah menceritakan masa kecilku pada siapa pun, bahkan pada Maya sekalipun."
Arya tersenyum pahit, menaruh cangkirnya pelan di atas meja. "Karena aku adalah anak lelaki berkaus biru yang selalu menunggumu di bawah pohon mangga tua setiap sore, sebelum keluargamu tiba-tiba menghilang tanpa pamit dua puluh tahun lalu."
Samaira terperanjat dari duduknya, tangannya menutupi mulut karena terkejut. "Tuhan... Arya? Anak lelaki yang dulu suka membawakan batu giok sungai untukku?" tanyanya dengan air mata yang seketika tumpah membasahi pipinya.
❖ ❖ ❖
Keheningan mendadak menyelimuti meja kecil di sudut kedai itu. Samaira merasa waktu seolah berputar mundur, membawa ingatannya kembali ke masa-masa kecil yang penuh debu dan tawa di lereng bukit yang sejuk. Ia menatap wajah Arya lebih dekat, mencari guratan-guratan masa lalu di balik sorot mata pemuda di hadapannya itu.
"Ini benar-benar kamu, Ya? Anak lelaki yang dulu pernah jatuh dari pohon alpukat sampai tangan kirinya patah?" tanya Samaira dengan suara parau, air matanya terus mengalir tanpa bisa ia bendung.
"Iya, Sam. Ini aku. Orang yang dulu selalu memarahimu setiap kali kamu nekat memetik buah jeruk tanpa izin di kebun sebelah," jawab Arya sambil tersenyum hangat, matanya pun tampak berkaca-kaca menahan haru.
Samaira terduduk kembali di kursinya, jemarinya meremas erat ujung meja kayu. "Kenapa kamu tidak pernah bilang dari awal kita ketemu? Kenapa harus pura-pura menjadi mekanik asing di pom bensin malam itu?"
"Bukannya pura-pura, Sam. Waktu pertama kali melihatmu di SPBU dengan mobil tua yang mengepulkan asap itu, aku juga tidak langsung mengenali wajahmu yang sudah berubah dewasa. Tapi begitu kamu menyebutkan nama lengkapmu saat menelepon kantormu malam itu, ingatanku langsung kembali pada gadis kecil yang menangis tersedu-sedu di stasiun kereta waktu keluargamu pindah mendadak," jelas Arya panjang lebar.
"Hari itu adalah hari paling berat dalam hidup keluargaku," kenang Samaira dengan suara tercekat di tenggorokan. "Ayah mengalami kebangkrutan besar, rumah kami disita bank, dan kami harus pergi di tengah malam tanpa sempat berpamitan pada siapa pun, termasuk pada sahabat kecilku."
"Aku menunggu di bawah pohon mangga selama tiga hari berturut-turut, Sam. Membawa batu giok sungai yang kuukir khusus untuk ulang tahunmu. Tapi yang kudapati hanya rumah kosong yang sudah digembok rantai berkarat," ucap Arya lirih, menatap cangkir kopinya yang mulai mendingin.
"Maafkan aku, Ya. Aku tidak punya pilihan lain saat itu. Ibuku terus menangis, dan ayahku jatuh sakit karena tekanan hutang yang menumpuk," pinta Samaira tulus, rasa bersalah yang selama bertahun-tahun ia pendam mendadak tumpah bersama isak tangisnya.
Arya mengulurkan tangan melintasi meja, menyentuh lembut punggung tangan Samaira untuk menenangkannya. "Sudahlah, Sam. Jangan disesali lagi. Masa lalu adalah bagian dari perjalanan yang membentuk kita seperti sekarang. Yang penting, takdir mempertemukan kita kembali di tempat yang sama sekali tidak terduga."
"Tapi kenapa harus dengan cara mobil mogok di tengah malam dan bos yang menyebalkan itu?" tanya Samaira sambil tertawa di sela-sela air matanya, mencairkan ketegangan yang sempat menguasai udara.
"Mungkin itu cara semesta menebus waktu dua puluh tahun yang hilang di antara kita," jawab Arya tersenyum tulus.