Malam di Kota Senja selalu menghadirkan ritmenya sendiri. Di sebuah kedai kopi bergaya industrial di sudut jalan utama, lampu-lampu gantung berpijar hangat memantulkan bias cahaya pada dinding bata ekspos. Suara alunan musik jazz instrumen pelan berpadu dengan deru mesin espresso dan gemerisik obrolan para pengunjung, menciptakan latar yang menenangkan bagi siapa saja yang ingin melepas penat setelah seharian bergelut dengan kebisingan kota.
Bara duduk di sudut ruangan, di dekat jendela kaca besar yang menampilkan jalanan basah sisa hujan sore tadi. Di hadapannya, secangkir kopi hitam yang mulai mendingin mengepulkan uap tipis yang perlahan hilang ditelan udara. Pria berusia dua puluh delapan tahun itu mengenakan kemeja flanel kumal yang lengannya dilipat hingga siku, memperlihatkan guratan otot lengan bawah yang tegar akibat kerja keras bertahun-tahun di bengkel mesin milik ayahnya.
Wajah Bara tampak kuyu. Matanya menatap kosong ke permukaan cairan hitam di dalam cangkir, sementara pikirannya melayang jauh menembus batas ruang dan waktu. Di dalam kepalanya, suara derit pintu besi gudang arsip lama dan desau angin malam pelabuhan masih berdengung kuat. Namun, malam ini, bayangan itu bukan lagi tentang dokumen rahasia atau ancaman pembunuh berjas hitam. Bayangan itu digantikan oleh satu nama yang baru saja muncul kembali setelah delapan belas tahun terpisah oleh jarak, waktu, and takdir: Samaira.
"Bara?"
Sebuah suara lembut memecah lamunannya. Bara mendongak cepat. Di hadapannya, berdiri seorang wanita dengan mantel wol krem dan syal rajut sewarna gading. Rambut sebahunya tergerai rapi, dan sepasang mata cokelatnya menatap Bara dengan binar hangat yang tidak pernah berubah sejak hari pertama mereka dipertemukan kembali di bawah reruntuhan pelabuhan.
Samaira tersenyum manis, senyuman yang seketika membuat ruang di dada Bara terasa lapang sekaligus sesak dalam waktu bersamaan.
"Sam... kau sudah datang," ucap Bara sedikit tergagap. Ia buru-buru berdiri dari kursinya, merapikan lipatan kemejanya secara canggung. "Maaf, aku tidak mendengar langkah kakimu tadi."
"Tidak apa-apa, aku baru saja tiba," balas Samaira sambil melepas mantelnya dan duduk di kursi kayu tepat di seberang Bara. Ia meletakkan tas jinjing kulitnya di atas pangkuan, lalu menatap Bara lekat-lekat. "Kau terlihat lelah sekali, Bara. Apakah tidurmu semalam tidak nyenyak lagi?"
Bara menarik napas panjang, mencoba mengontrol debar jantungnya yang tiba-tiba bergemuruh tidak karuan setiap kali berada dekat dengan wanita itu. "Begitulah, Sam. Kebenaran tentang masa lalu ayahku akhirnya terungkap, tapi justru setelah semuanya terang, pikiranku malah semakin kacau. Ada begitu banyak hal yang berputar di kepalaku."
"Termasuk tentang kita?" tanya Samaira pelan, suaranya mengandung kelembutan yang sanggup meruntuhkan seluruh pertahanan mental Bara dalam sekejap.
Bara terdiam. Ia mengalihkan pandangannya sesaat ke arah jendela, melihat pantulan wajahnya sendiri di kaca yang berpadu dengan kerlip lampu jalan di luar. Pertanyaan itu menghantam titik paling rapuh di dalam jiwanya—sebuah benturan hebat antara rasa bahagia yang teramat sangat karena bisa kembali bersatu dengan sahabat masa kecil sekaligus perempuan yang diam-diam dicintainya, dan rasa rendah diri yang mendadak merayap naik membunuh setiap keyakinannya.
Bagaimana mungkin ia, seorang mekanik bengkel kecil yang hidup pas-pasan dengan beban hutang peninggalan ayahnya, bisa berdiri berdampingan dengan Samaira—seorang wanita berpendidikan tinggi, anggun, mapan, dan kini bekerja sebagai kurator arsip sejarah nasional yang dikelilingi oleh orang-orang terpandang? Perbedaan itu tiba-tiba membentang luas di antara mereka, tak kasat mata namun begitu nyata dirasakan oleh Bara di setiap detik kebersamaan mereka.
"Sam..." Bara memulai dengan suara serak, jemarinya meremas cangkir kopi di atas meja hingga buku-buku jarinya memutih. "Aku sangat bahagia. Sungguh, aku tidak pernah merasa sehidup ini sejak malam di pelabuhan itu. Tapi di sisi lain... aku merasa tidak pantas."
Samaira mengerutkan keningnya, ekspresi wajahnya berubah seketika menjadi serius. "Tidak pantas? Apa maksudmu berbicara seperti itu, Bara?"
❖ ❖ ❖
Samaira mencondongkan tubuhnya ke depan, menepis jarak yang terbentang di antara meja kayu kedai kopi tersebut. Sorot matanya menyiratkan ketidaksukaan atas kata-kata yang baru saja dilontarkan oleh pria di hadapannya.
"Bara, lihat aku," ucap Samaira tegas namun tetap lembut. "Kita baru saja melewati malam-malam paling mengerikan dalam hidup kita. Kita berdua hampir kehilangan segalanya demi mencari kebenaran tentang masa lalu kita. Dan sekarang, setelah kita tahu bahwa takdir kita terikat sejak delapan belas tahun lalu... kau justru mengatakan hal seperti itu?"
Bara menggelengkan kepalanya perlahan. Ia menghindari tatapan mata Samaira yang begitu tajam menusuk batinnya. "Bukannya aku ingin menolak takdir ini, Sam. Tapi mari kita bersikap realistis. Kau lihat dirimu? Kau bekerja di lembaga arsip nasional, hidup di lingkungan intelektual, memiliki masa depan yang cemerlang dan bersih dari noda."
"Lalu?" potong Samaira cepat, nada suaranya sedikit meninggi namun tertahan oleh alunan musik kafe. "Apa hubungannya semua itu dengan kita?"
"Hubungannya adalah aku..." Bara mendesah berat, suaranya parau menahan beban emosi yang mendesak dadanya. "Aku hanya seorang mekanik pinggir jalan. Tanganku bau oli dan besi berkarat. Bengkel peninggalan ayahku hampir disita bank bulan depan karena aku tidak sanggup membayar cicilannya. Hidupku penuh dengan debu, utang, dan ancaman dari orang-orang berdasi yang ingin membungkam masa lalu."
Samaira tertegun. Ia menatap tangan Bara yang berada di atas meja—tangan kokoh dengan kapalan tebal di telapaknya, tangan yang sama yang delapan belas tahun lalu menariknya keluar dari kobaran api, dan tangan yang beberapa malam lalu melindunginya dari terjangan peluru di dermaga pelabuhan.
"Apakah menurutmu aku peduli dengan semua itu, Bara?" suara Samaira bergetar halus, menyembunyikan rasa kecewa di balik ketegarannya. "Apakah kau pikir aku mendekatimu karena status sosial, atau karena lemari pakaianmu rapi, atau karena isi rekening bankmu penuh?"
"Bukan begitu maksudku, Sam..." Bara mendongak, matanya berkaca-kaca menatap wanita itu. "Aku hanya tidak ingin... menyeretmu turun ke dalam lumpur kehidupanku. Kau pantas mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik dariku. Seseorang yang bisa memberimu rasa aman tanpa harus bersembunyi di balik bayang-bayang ketakutan dan masa lalu yang kelam."
"Cukup, Bara!" Samaira menarik napas dalam-dalam. Air mata tipis tampak menggenang di pelupuk matanya, namun ia menahannya agar tidak tumpah. "Jangan pernah mengambil keputusan untuk hidupku. Jangan pernah merasa dirimu terlalu rendah untuk berada di sisiku, karena pria yang menyelamatkanku dari api delapan belas tahun lalu bukanlah seorang pria yang peduli pada status atau harta—dia adalah seorang anak laki-laki berani yang mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkan seorang anak perempuan asing."
Suasana di meja itu mendadak sunyi senyap. Hembusan angin malam dari pintu kafe yang terbuka sesekali membawa masuk aroma udara dingin kota, mendinginkan suasana hati keduanya yang sedang bergejolak dalam keheningan yang sarat makna.