Matahari perlahan tenggelam di balik deretan ruko tua kawasan kota lama, menyisakan bias jingga kemerahan yang memantul pada aspal basah sisa gerimis sore. Lampu-lampu jalan beruap kuning mulai menyala satu per satu, menciptakan atmosfer temaram yang hangat di antara bangunan-bangunan kolonial berarsitektur peninggalan masa lalu. Di sudut jalan yang agak lengang, sebuah warung tenda sederhana berkanopi terpal biru berdiri tenang. Aroma harum kuah kaldu rempah berpadu dengan kepulan asap arang dari bakaran sate ayam menguar di udara, menarik perhatian siapa saja yang melintas dengan perut keroncongan.
Aryo duduk di salah satu bangku kayu panjang yang menghadap langsung ke jalan raya. Ia mengenakan kemeja flanel lengan panjang berwarna hijau tua, berbeda dari kesehariannya yang selalu berbalut seragam petugas SPBU yang beraroma bensin. Jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja kayu yang sedikit lengket secara berirama, menunjukkan sedikit rasa canggung yang tersimpan di balik ketenangannya. Ini adalah kali pertama ia dan Samaira membuat janji bertemu di luar lingkungan SPBU tempat mereka biasa dipertemukan oleh takdir masa lalu.
"Sudah lama menunggu, Aryo?" sebuah suara lembut menyapa dari belakang, membuyarkan lamunan lelaki itu.
Aryo menoleh cepat. Samaira berdiri di dekat pintu masuk tenda, mengenakan mantel rajut wol berwarna krem krem dengan syal merah marun melingkar di lehernya. Rambutnya yang sebahu dibiarkan tergerai bebas, diterpa angin malam yang berembus pelan. Di bawah cahaya lampu neon warung yang kekuningan, wajah tirus perempuan itu tampak lebih segar dibandingkan saat pertama kali mereka bertemu di pom bensin tempo hari.
"Tidak, aku baru saja sampai kok, Mbak... ah, maksudku, Samaira," ralat Aryo cepat, sedikit tersenyum kikuk sambil menggeser duduknya untuk memberikan ruang di bangku panjang tersebut. "Silakan duduk. Tempatnya memang sederhana, tapi mie rebus di sini kuahnya juara kalau udara sedang dingin seperti ini."
Samaira tersenyum tipis, sebuah senyuman hangat yang jarang sekali diperlihatkannya di hadapan orang lain. Ia melepas syalnya, melipatnya rapi, lalu meletakkannya di atas pangkuannya sebelum duduk di samping Aryo. Jarak di antara mereka kini terasa jauh lebih dekat dibandingkan ketika mereka dipisahkan oleh mesin dispenser bahan bakar atau meja kantor Pak Darma.
"Tempat seperti ini justru yang paling jujur, Aryo," kata Samaira sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling warung yang dipenuhi oleh para pekerja kantoran dan pengendara motor yang berteduh. "Tidak ada kepalsuan di balik papan nama mewah atau seragam formal. Orang-orang datang ke sini murni karena lapar dan ingin mencari kehangatan."
"Kau benar," balas Aryo pelan. "Selama ini aku terlalu lama terkurung di dalam rutinitas pom bensin, mengira dunia luar hanya sebatas truk-truk logistik dan deru kendaraan yang lewat tanpa henti. Aku hampir lupa rasanya duduk santai menikmati malam tanpa memikirkan shift kerja atau bayang-bayang masa lalu."
Seorang pelayan warung datang membawa dua mangkuk mie rebus panas dengan kepulan uap mengepul membawa aroma bawang goreng dan telur setengah matang, disusul dua gelas teh manis hangat yang masih mengepulkan uap putih tipis. Keduanya mengucapkan terima kasih secara bersamaan, menciptakan keheningan kecil yang justru terasa menenangkan di antara hiruk-pikuk suara kendaraan di luar tenda.
"Silakan dicicipi sebelum kuahnya keburu dingin," ajak Samaira sambil mengambil sumpit kayu dan mengaduk perlahan mie di dalam mangkuknya. "Aku sengaja memilih tempat ini karena aku ingat, dulu sewaktu kita masih anak-anak di dekat pelabuhan, ayahmu pernah membelikan kita mie keliling dengan gerobak dorong beroda kayu, kan?"
Aryo tertegun sejenak, sumpit di tangannya tergantung di udara. Ingatan masa kecil yang terkubur dalam-dalam tiba-tiba menyeruak ke permukaan, hangat sekaligus menyesakkan. Ia menatap Samaira dengan sorot mata tak percaya.
"Kau... masih ingat kejadian di dermaga itu sebelum kapal ayahku bersandar?" tanya Aryo dengan suara bergetar pelan. "Aku pikir ingatan masa kecilku tentang hari itu hanya milikku seorang, karena setelah kejadian nahas itu, semua orang menyuruhku melupakannya."
"Bagaimana mungkin aku melupakannya, Aryo?" Samaira meletakkan sumpitnya, menatap lurus ke dalam bola mata Aryo dengan tatapan yang menyiratkan kedalaman rindu dan duka yang sama. "Hari itu adalah hari terakhir aku melihat senyum ayahku secara utuh, sebelum kecelakaan rekayasa itu merenggut segalanya dari kita berdua."
❖ ❖ ❖
Suasana di dalam warung tenda mendadak terasa lebih intim, terisolasi dari keriuhan kota di luar. Kuah mie yang tadinya mengepul panas kini mulai mereda, menyisakan kehangatan yang perlahan merasuk ke dalam dada kedua anak muda yang disatukan oleh sejarah kelam tersebut.
"Ayahku selalu bercerita tentang betapa jujurnya ayahmu dalam menjalankan tugas inspeksi pelabuhan," lanjut Samaira lirih, jemarinya memutar-mutar gagang gelas teh hangat di atas meja. "Beliau bilang, tidak ada seorang pun di pesisir barat Sumatra yang bisa disuap oleh sindikat pengusaha logistik gelap, termasuk Baskoro Atmodjo. Tapi kejujuran itu pula yang akhirnya menjadi surat kematian bagi mereka."
Aryo menunduk, menatap pantulan wajahnya sendiri di permukaan kuah mie yang mulai tenang. Rahangnya mengeras, sementara kepalan tangannya di bawah meja meresapi dinginnya udara malam.
"Paman Darma sempat melarangku menyelidiki lebih jauh setelah berkas rahasia itu kita temukan malam itu di SPBU," ungkap Aryo jujur. "Ia bilang, melawan orang sekelas Baskoro sama saja dengan menantang ombak besar menggunakan perahu kertas. Tapi semakin aku mencoba menutup mata, semakin aku merasa hidupku palsu. Setiap kali truk-truk perusahaan logistik miliknya datang mengisi bahan bakar, aku merasa seperti meludahi makam ayahku sendiri."
Samaira menghela napas panjang, tatapannya menyapu wajah Aryo dengan penuh empati. "Pamanmu benar dalam hal keselamatan, Aryo. Baskoro bukan sekadar pengusaha biasa; ia memiliki jaringan birokrasi yang mengakar kuat hingga ke tingkat provinsi. Tapi ia juga memiliki kelemahan terbesar yang tidak disadarinya."
"Kelemahan apa?" tanya Aryo cepat, rasa penasarannya mengalahkan rasa takut yang sempat bersarang di benaknya.
"Kesombongan," jawab Samaira tegas. "Orang yang merasa dirinya berada di puncak kekuasaan selama belas tahun akan menjadi ceroboh. Ia mengira tidak ada lagi saksi hidup yang mengingat kejadian malam itu di ruang mesin kapal."
"Dan kita adalah dua saksi yang luput dari perhitungan mereka," imbuh Aryo pelan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang penuh tekad.
"Tepat," sahut Samaira sambil mengangkat gelas tehnya, mengajak Aryo bersulang secara simbolis. "Bukan untuk merayakan dendam, Aryo, tapi untuk merayakan kebenaran yang akhirnya menemukan jalannya kembali ke permukaan."
Mereka berdua meneguk teh manis hangat secara bersamaan. Rasa manis dan hangatnya jahe berpadu sempurna, mengalirkan keberanian baru di tengah dinginnya malam kota lama. Percakapan ringan tentang kenangan masa kecil perlahan mengalir di antara suapan demi suapan mie rebus, mencairkan kecanggungan yang sempat membungkus pertemuan pertama mereka di luar area kerja. Samaira menceritakan bagaimana ia menghabiskan tahun-tahun pertamanya setelah musibah itu dengan berpindah-pindah kota bersama bibinya, sementara Aryo berbagi cerita tentang suka duka mengelola SPBU bersama Pak Darma di jalur lintas Sumatra yang melelahkan.
Namun, di tengah gelak tawa kecil yang tercipta dari cerita-cerita masa lalu itu, mata Samaira tiba-tiba menangkap sesosok bayangan yang tidak asing melintas di seberang jalan raya, di balik kaca jendela sebuah restoran mewah berlampu terang.
"Aryo..." bisik Samaira tiba-tiba, suaranya berubah tegang. Ia menghentikan gerakannya dan menunjuk pelan ke seberang jalan menggunakan ujung jarinya. "Lihat ke sana. Di dekat pintu masuk restoran itu."
Aryo mengikuti arah telunjuk Samaira. Jantungnya seketika berdegup kencang. Di seberang jalan, berjarak tidak lebih dari dua puluh meter dari warung tenda tempat mereka duduk, sosok bertubuh gempal berjaket kulit hitam tengah berdiri sambil melambaikan tangan kepada seseorang yang baru saja turun dari mobil sedan mewah.
Baskoro Atmodjo.
❖ ❖ ❖
Udara di sekitar warung tenda mendadak terasa membeku. Suara bising kendaraan yang berlalu-lalang di jalan raya seolah menjauh, menyisakan degup jantung Aryo yang bergemuruh di dalam telinganya. Pertemuan yang awalnya direncanakan sebagai ajang nostalgia yang tenang kini berubah menjadi ketegangan yang memacu adrenalin.
"Bagaimana mungkin dia bisa ada di sini malam ini?" gumam Aryo setengah berbisik, matanya menatap tajam ke arah sosok Baskoro yang kini tengah tertawa lebar sambil menepuk pundak seorang lelaki paruh baya berjas rapi di depan restoran mewah seberang jalan.
Samaira merapatkan mantelnya, tubuhnya sedikit condong ke arah Aryo untuk menghindari pandangan dari seberang jalan, meski jarak mereka cukup aman di balik terpal biru warung. "Kawasan kota lama ini memang pusat kantor cabang perusahaan logistiknya. Tidak heran jika ia sering berada di sekitar sini pada akhir pekan."