Jarak di Ujung Nozzle

Amrullah Ibrahim
Chapter #11

Duniamu vs Duniaku

Malam itu, ibu kota tampak seperti hamparan permata yang tumpah di atas kain beludru hitam. Lampu-lampu gedung pencakar langit berkedip seirama dengan detak jantung kota yang tak pernah tidur. Di dalam sedan mewah yang meluncur mulus membelah kemacetan, Bara Danendra merasa seperti benda asing yang salah tempat. Ia mengenakan setelan jas tuxedo hitam yang dipinjamkan oleh asisten Samaira—jas yang terasa terlalu kaku, terlalu mahal, dan sama sekali tidak mencerminkan dirinya yang terbiasa dengan aroma oli dan debu bengkel.

Di sampingnya, Samaira duduk dengan keanggunan yang tidak dibuat-buat. Ia mengenakan gaun malam sutra berwarna biru safir yang membalut tubuhnya dengan sempurna, kontras dengan kulitnya yang pucat dan tatapan matanya yang sedingin es namun lembut saat menatap Bara.

"Kau tidak perlu merasa sekaku itu, Bara," ujar Samaira pelan, memecah kesunyian di dalam kabin mobil yang kedap suara. Ia menyentuh punggung tangan Bara dengan lembut, mencoba menenangkan kegelisahan pria itu.

Bara menarik napas dalam, merasakan udara pendingin ruangan yang terlalu bersih di dalam mobil tersebut. "Ini bukan tentang kaku, Samaira. Ini tentang kenyataan. Tempat yang akan kita datangi... ini duniamu. Dunia yang bahkan tidak pernah kubayangkan dalam mimpi terliarku. Aku hanyalah seorang mekanik yang memperbaiki mesin motor, bukan seorang pria yang seharusnya hadir di jamuan makan malam para elit korporat."

Samaira menatapnya lurus-lurus. "Dunia ini hanyalah kumpulan dinding kaca dan obrolan tentang saham. Tidak ada yang spesial di dalamnya. Justru, kau adalah orang paling nyata yang pernah kutemui di antara mereka semua."

"Nyata?" Bara tertawa pahit, menatap pantulan dirinya di kaca jendela yang gelap. "Di sini, aku merasa seperti hantu. Sesuatu yang seharusnya tidak ada di balik karpet merah dan lampu kristal itu."

Mobil berhenti di depan sebuah hotel berbintang tujuh yang arsitekturnya menyerupai istana modern. Penjaga pintu berseragam rapi membukakan pintu mobil dengan gerakan yang terlatih. Saat Bara melangkah keluar, ia disambut oleh kilatan lampu kamera dari para wartawan hiburan yang berkumpul di luar lobi. Mereka mengira Samaira datang dengan mitra bisnis atau pesohor kelas atas. Saat mereka melihat Bara—pria dengan rambut ikal yang sedikit berantakan dan raut wajah yang tampak kikuk—bisik-bisik mulai terdengar.

"Siapa pria itu?" bisik seorang wartawan. "Mungkin seseorang dari tim teknisnya?" jawab yang lain dengan nada meremehkan.

Samaira menggandeng lengan Bara dengan mantap. Tekanannya pada lengan Bara memberikan keberanian yang tak terduga. "Jangan dengarkan mereka. Fokuslah padaku."

Saat mereka memasuki lobi hotel yang luas, suasana berubah drastis. Wangi bunga lily segar menyambut mereka, bercampur dengan aroma parfum mahal dan napas orang-orang yang merasa diri mereka adalah penguasa dunia. Bara merasa dunianya yang sederhana—bengkel kecil, suara dentingan kunci pas, dan secangkir kopi tubruk—terasa jutaan kilometer jauhnya.

Mereka menuju aula besar di lantai atas. Di sana, ratusan orang mengenakan pakaian paling mewah yang bisa dibeli dengan uang sedang menyesap sampanye dan berdiskusi tentang bagaimana menguasai pasar energi terbarukan. Ketika Samaira memasuki ruangan, semua mata tertuju padanya. Ia adalah pusat gravitasi. Namun, saat tatapan mereka beralih ke Bara yang berdiri di sampingnya, keheningan canggung menyelimuti sekeliling mereka.

"Lihat, itu Samaira Danendra," terdengar suara seorang pria berjas putih yang sedang berdiri dekat bar. "Tapi siapa pria di sampingnya itu? Dia terlihat... tidak cocok."

Bara mendengar semuanya. Ia ingin berbalik arah, ingin kembali ke bengkelnya, ke tempat di mana ia dihormati bukan karena hartanya, melainkan karena keahliannya memperbaiki apa yang rusak. Tapi tangan Samaira di lengannya seolah menjadi jangkar.

"Selamat malam, Samaira," seorang pria paruh baya dengan rambut disisir klimis mendekat, membawa segelas anggur di tangannya. Matanya memandang Bara dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara kebingungan dan penghinaan halus. "Senang melihatmu hadir. Dan ini...?"

"Bara," jawab Samaira tegas, tidak memberikan gelar atau penjelasan apa pun. "Dia rekan saya."

"Rekan?" pria itu tertawa kecil, suara yang terdengar sangat merendahkan. "Ah, tentu. Rekan. Mungkin dari divisi lapangan?"

Samaira hendak membalas dengan kata-kata tajam yang biasanya ia gunakan untuk menghancurkan lawan bisnisnya, namun Bara menahannya. Ia menatap pria itu dengan tenang, tanpa rasa rendah diri. "Saya mekanik. Saya memperbaiki mesin yang rusak. Sesuatu yang mungkin tidak banyak orang di sini tahu cara melakukannya, bukan?"

Pria itu terdiam, senyumnya sedikit memudar. Ia tidak menyangka jawaban yang begitu lugas akan keluar dari mulut seorang pria yang tampak kikuk dalam setelan jas.

Samaira tersenyum kecil, hampir tidak terlihat. Ia kemudian mengajak Bara bergerak menjauh, meninggalkan pria tadi yang masih tampak kesal. Namun, Bara tetap merasa terasing. Setiap langkah yang ia ambil di atas karpet tebal itu terasa seperti berjalan di atas hamparan es tipis yang bisa pecah kapan saja. Ia merasa semua mata yang menatapnya sedang membedah setiap kekurangan yang dimilikinya.

❖ ❖ ❖

Bara berdiri di sudut ruangan, memegang gelas berisi air mineral yang terasa seperti air biasa meski disajikan dengan irisan lemon dan kristal es. Ia memperhatikan bagaimana Samaira berbicara dengan para menteri dan investor. Wanita itu berubah. Ia kembali menjadi sang CEO yang tak terkalahkan, penuh dengan bahasa tubuh yang berwibawa dan senyum yang tertata rapi.

"Kau bisa meninggalkan mereka kalau kau mau," bisik Samaira saat ia mendekati Bara sejenak, meninggalkan kerumunan di dekat panggung.

Bara menggeleng pelan. "Tidak, ini duniamu. Aku hanya penonton di sini."

"Ini bukan duniaku, Bara. Ini hanya panggung," tegas Samaira, meski matanya menatap kerumunan itu dengan kelelahan yang nyata. "Orang-orang di sini... mereka tidak mempedulikan siapa kau sebenarnya. Mereka hanya peduli pada apa yang bisa mereka dapatkan darimu."

"Tapi mereka menghormatimu," bantah Bara.

"Mereka menghormati angka di rekening bank dan kekuasaan di perusahaanku," jawab Samaira pahit. "Sekali kekuasaan itu hilang, mereka akan melupakanku lebih cepat daripada mereka memesan gelas kedua sampanye mereka."

Bara menatap wajah Samaira yang terlihat begitu cantik namun menyiratkan kesepian yang mendalam. Ia sadar, di tengah kemewahan ini, Samaira adalah orang yang paling terasing. Mungkin itulah sebabnya wanita itu terus mencari pelarian di bengkelnya yang kumuh dan bau oli. Di sana, setidaknya, ia tidak perlu berpura-pura menjadi seseorang yang bukan dirinya.

Sebuah alunan musik piano lembut mulai memenuhi ruangan. Beberapa pasangan mulai turun ke lantai dansa. Seorang pria muda mendekati Samaira, membungkuk sopan.

"Nona Samaira, bolehkah saya mendapatkan kehormatan untuk dansa ini?"

Samaira menatap pria itu, lalu menoleh ke arah Bara. Bara merasakan dorongan untuk menghindar, namun ia melihat kilatan harapan di mata Samaira. Ia tahu, jika ia mengatakan tidak, Samaira akan terjebak dalam basa-basi yang lebih lama lagi.

"Silakan, Samaira," ujar Bara pelan.

Samaira tampak ragu, namun ia mengangguk dan menerima ajakan pria itu. Bara menyaksikan saat Samaira bergerak di lantai dansa, dikelilingi oleh pria-pria berbaju mahal yang mengaguminya. Ia merasa semakin kecil di sudut ruangan, menyadari bahwa seberapa jauh ia melangkah, ia tidak akan pernah bisa menjadi bagian dari tatanan dunia ini.

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya