Jarak di Ujung Nozzle

Amrullah Ibrahim
Chapter #12

Kritik Tajam

Udara pagi di kawasan perkantoran elit pusat kota selalu membawa aroma kemapanan yang bercampur dengan bau bensin kendaraan mewah dan kopi dari kedai-kedai waralaba ternama. Di antara deretan gedung pencakar langit berbalut kaca reflektif, sebuah restoran bergaya kontemporer dengan interior kayu jati dan tanaman hias gantung berdiri megah. Tempat itu biasa digunakan oleh para direktur muda, arsitek senior, serta klien-klien korporat untuk membicarakan proyek bernilai miliaran rupiah.

Samaira duduk di salah satu meja sudut berbingkai kaca besar yang menghadap langsung ke jalan raya. Mengenakan setelan blazer berwarna krem senada dengan kemeja putih berpotongan rapi, ia sedang memeriksa beberapa lembar cetak biru rancangan interior kafe terbaru yang menjadi tanggung jawabnya. Wajahnya tampak fokus, namun sesekali alisnya berkerut ketika mendapati ketidaksesuaian pada detail gambar teknis tersebut.

Tidak lama kemudian, suara dentingan lonceng kecil di pintu utama berbunyi, disusul oleh suara langkah kaki bertumit tinggi yang mendekat ke arah meja sudut.

"Samaira! Astaga, kamu sudah datang duluan?" sapa seorang wanita berambut sebahu dengan potongan asimetris, mengenakan dress hitam elegan berbalut mantel wol abu-abu. Namanya Vania, kepala divisi pemasaran sekaligus rekan kerja senior Samaira di biro arsitek tempat mereka bekerja.

Samaira mendongak, lalu tersenyum tipis menyambut kedatangan sahabatnya itu. "Belum lama kok, Van. Baru sekitar sepuluh menit sambil nungguin revisi gambar dari tim bawah."

Vania menarik kursi di seberang Samaira, langsung duduk tanpa melepas mantelnya. Ia melambaikan tangan kepada pelayan yang berdiri tidak jauh dari meja mereka. "Pesan americano panas satu, ya," pesannya kepada pelayan itu, sebelum kembali mengalihkan perhatian penuh kepada Samaira. "Omong-omong soal pekerjaan, aku dengar dari Pak Darmawan kalau presentasi konsep kafe kemarin berjalan lancar banget. Direksi puas?"

"Puas banget malahan," jawab Samaira sambil merapikan lembar-lembar cetak biru di atas meja. "Mereka langsung setuju tanpa banyak revisi aneh seperti sebelumnya. Rasanya seperti beban seberat seratus ton terangkat dari pundakku."

Vania tertawa kecil, menerima cangkir kopi hitam yang baru saja diantarkan pelayan. "Syukurlah kalau begitu. Minggu-minggu kemarin kamu kelihatan stres banget, kayak menanggung beban hidup seluruh warga Jakarta. Untunglah kamu nggak jadi depresi."

"Bukan karena aku sendiri yang hebat, Van," sahut Samaira jujur, jemarinya memutar cangkir teh hangat di hadapannya. "Ada... ada orang yang sempat kasih masukan bagus waktu aku hampir nyerah."

Vania menyeruput kopinya perlahan, lalu menyipitkan mata menatap Samaira penuh selidik. Ada nada bicara yang berbeda dari nada biasa sahabatnya itu. "Oh ya? Siapa? Anak divisi teknik baru? Atau arsitek senior dari konsultan luar?"

Samaira menggeleng pelan, senyum tipis terukir di bibirnya. "Bukannya siapa-siapa dari kalangan kita. Cuma... seseorang yang biasa aku temui di jalan."

Alis Vania langsung terangkat tinggi, ekspresi penasarannya semakin menjadi-jadi. "Di jalan? Maksudnya polisi lalu lintas? Atau sopir taksi online yang kebetulan nyasar kasih motivasi hidup?"

"Bukan. Dia petugas SPBU," jawab Samaira tenang, tanpa ada rasa canggung sedikit pun di suaranya.

Suasana di meja itu mendadak senyap selama beberapa detik. Vania menghentikan cangkirnya tepat di depan bibir, menatap Samaira dengan pandangan seolah-olah sahabatnya itu baru saja mengatakan bahwa ia melihat alien mendarat di Monas.

"Petugas SPBU?" ulang Vania dengan nada suara yang sedikit meninggi, tidak percaya. "Samaira, kamu nggak salah dengar atau lagi kurang tidur? Kamu, seorang arsitek lulusan universitas ternama, kepala proyek senior di biro bergengsi ini, minta masukan desain dari tukang pompa bensin?"

Samaira menarik napas dalam-dalam, menghadapi tatapan tidak percaya sahabatnya dengan tenang. "Dia bukan sekadar tukang pompa bensin, Van. Namanya Bara. Dan obrolan kami siang itu justru ngebuka mataku tentang banyak hal yang nggak pernah diajarin di kampus arsitektur."

Vania meletakkan cangkirnya ke atas piring dengan bunyi dentingan yang cukup keras, memperlihatkan ketidaksukaan yang mulai nyata di wajahnya. "Samaira, dengerin aku baik-baik. Lingkungan kita ini keras. Pergaulan kita adalah orang-orang mapan, direktur perusahaan, arsitek multinasional, bukan petugas SPBU berkaos kumal yang bau bensin. Kalau sampai rekan-rekan kantor atau klien tahu kamu dekat sama orang seperti itu, apa kata mereka tentang kredibilitas kamu?"

Pertanyaan itu meluncur tajam, menusuk tepat di tengah keheningan pagi restoran mewah tersebut. Samaira tertegun, menatap mata Vania yang menyiratkan kekhawatiran berbalut snobisme perkotaan yang sudah terpatri mendarah daging.

❖ ❖ ❖

Udara di dalam restoran mewah itu mendadak terasa sedikit pengap bagi Samaira. Ia menatap cangkir teh hangatnya yang mulai mendingin, sementara Vania masih menatapnya dengan sorot mata penuh ketidakpahaman dan teguran terselubung.

"Van, kedekatan manusia itu bukan diukur dari jabatan atau merek mobil yang mereka pakai," bela Samaira dengan suara tenang namun tegas. "Bara mungkin cuma petugas SPBU di mata orang-orang seperti kalian, tapi cara dia berpikir jauh lebih bijak daripada kebanyakan manajer di kantorku yang cuma tahu nyari muka ke direksi."

Vania mendengus pelan, menggelengkan kepalanya tidak percaya. "Bukan masalah jabatan, Sam. Ini masalah standar sosial. Kita hidup di dunia nyata, bukan di dalam sinetron televisi swasta. Bayangkan kalau suatu hari nanti klien besar kita melihat kamu nongkrong di kedai kopi pinggir jalan sama petugas SPBU. Apa nggak jatuh wibawa kamu sebagai kepala arsitek?"

"Wibawaku nggak bakal runtuh cuma karena aku menghargai manusia lain apa adanya, Van," jawab Samaira tanpa ragu, mempertahankan prinsipnya.

"Kamu terlalu naif, Samaira!" sergah Vania agak keras, membuat beberapa pengunjung di meja sebelah melirik sekilas ke arah mereka. Vania menurunkan nada suaranya, namun ketegasannya semakin tajam. "Ingat, posisi kamu sekarang lagi diincar buat promosi jadi partner utama biro arsitek ini. Direksi utama itu sangat konservatif. Mereka memperhatikan bukan cuma hasil kerja, tapi juga kehidupan sosial, relasi, dan citra publik karyawannya. Kalau mereka tahu kamu dekat sama orang dari kalangan bawah, mereka bakal meragukan kapasitas mental dan pertimbangan sosialmu."

Samaira terdiam sejenak. Kata-kata Vania memang terdengar kasar dan egois, namun ia tahu betul bagaimana budaya korporat tempatnya bekerja selama ini. Di balik kemegahan gedung-gedung kaca dan penghargaan arsitektur bergengsi, ada standar tak tertulis tentang status sosial yang harus dijaga oleh setiap pegawai level atas.

"Aku nggak lagi nyari perhatian direksi lewat kehidupan pribadiku, Van," ucap Samaira pelan. "Aku nyaman ngobrol sama Bara. Dia tulus, nggak punya niat tersembunyi, dan selalu bisa bikin aku tenang waktu stres berat."

"Kenyamanan itu semu, Sam!" potong Vania cepat. "Orang-orang dari kalangan bawah seperti itu biasanya cuma tahu cara numpang populer atau nyari keuntungan dari orang mapan kayak kita. Jangan sampai kebaikan hati kamu malah dimanfaatkan sama orang yang salah."

Mendengar tuduhan tersebut, dada Samaira mendadak terasa sesak oleh rasa geram yang tertahan. Ia mengepalkan tangannya di bawah meja, menatap sahabatnya lekat-lekat. "Kamu sama sekali nggak kenal Bara, Van. Jangan sembarangan ngejudge orang lain cuma dari seragam kerja mereka."

"Aku nggak perlu kenal dia buat tahu kalau dunia kita dan dunia dia itu beda planet!" balas Vania dengan nada frustrasi. "Sebagai sahabat kamu, aku cuma nggak mau kamu merusak karier yang udah kamu bangun susah payah selama bertahun-tahun hanya karena simpati sesaat sama tukang pompa bensin."

Percakapan di meja sudut itu berakhir dalam ketegangan yang pekat. Vania menghabiskan sisa americano-nya dalam beberapa tegukan cepat, lalu berdiri dari kursinya sambil merapikan mantel wolnya.

"Pikirkan baik-baik omonganku tadi, Sam. Pertemuan direksi untuk penentuan partner baru tinggal dua bulan lagi. Jangan sampai skandal murahan merusak semuanya," ucap Vania dingin sebelum melangkah pergi meninggalkan restoran tanpa menunggu jawaban dari Samaira.

Samaira ditinggal seorang diri di meja sudut tersebut. Ia menarik napas panjang, membiarkan gejolak emosi di dadanya mereda perlahan. Kritik tajam yang dilontarkan sahabat karibnya sendiri bukan sekadar peringatan kosong; itu adalah cerminan nyata dari dunia luar yang keras, dunia di mana manusia sering kali dinilai bukan dari isi kepala atau ketulusan hatinya, melainkan dari lembaran uang dan status sosial yang melekat pada diri mereka.

Lihat selengkapnya