Malam di Kota Bara kembali menggelayut tanpa bintang. Hujan rintik-rintik yang turun sejak sore menyisakan udara dingin yang merasuk hingga ke balik jaket kulit tebal yang dikenakan Bara. Pemuda itu berdiri termangu di depan pintu bengkelnya yang setengah terbuka, menatap lurus ke arah jalanan aspal basah yang memantulkan cahaya lampu neon merah dari kedai seberang. Di tangan kanannya, sebuah kunci inggris berukuran sedang berputar-putar pelan, digerakkan oleh jari-jarinya yang kasar dan dipenuhi noda pelumas mesin.
Pikiran Bara sedang berkecamuk hebat. Bayangan senyum Samaira saat menyerahkan dokumen penting di lobi gedung pencakar langit beberapa waktu lalu terus berputar di benaknya, bercampur aduk dengan rasa rendah diri yang kian hari kian menggerogoti hatinya. Sebagai seorang mekanik jalanan dengan latar belakang hidup yang pas-pasan, ia merasa jurang pemisah antara dirinya dan perempuan itu terlampau jauh untuk dijembatani oleh kenangan masa kecil di kebun teh.
"Kenapa melamun terus, Ya? Kopi hitammu sudah dingin tuh dari tadi," tegur tono, asisten bengkel seniornya, sambil meletakkan sepiring pisang goreng hangat di atas meja kayu usang dekat pintu masuk.
Bara menghentikan putaran kunci inggris di tangannya, lalu menoleh sekilas ke arah sahabat sekaligus rekan kerjanya itu. "Tidak apa-apa, Ton. Lagi mikir saja, apakah hidupku ini bakal selamanya berputar di sekitar oli bekas dan baut-baut karatan."
"Wah, mulai lagi penyakit overthinking-mu kambuh," gerutu Tono sambil menarik bangku kayu dan ikut duduk di sebelah Bara. "Kamu ini kenapa sih? Semenjak sering ketemu Mbak Samaira itu, gayamu jadi aneh. Suka termenung sendiri kayak orang kehilangan dompet."
Bara menghela napas panjang, uap putih tipis mengepul dari mulutnya akibat udara malam yang dingin. "Bukan begitu, Ton. Kamu tidak paham. Kemarin aku sempat mengantarnya ke sebuah restoran mewah di pusat kota untuk urusan kantornya. Di sana, aku melihat sendiri bagaimana dunia tempat ia hidup—orang-orang berpakaian rapi, mobil-mobil Eropa mengkilap, dan perbincangan bisnis bernilai miliaran rupiah."
"Lantas? Kamu merasa minder karena cuma pakai kaus belel dan bau oli?" tanya Tono tajam namun penuh perhatian.
"Bukan sekadar merasa minder lagi, Ton. Rasanya seperti ada dinding tak kasat mata yang membatasi kami. Aku cuma anak bengkel pinggir jalan, sedangkan dia sekarang wanita karier sukses yang bergaul dengan kalangan atas," aku Bara jujur, nada suaranya menyiratkan kepedihan yang selama ini ia pendam rapat-rapat.
"Kalau kamu terus-terusan berpikir begitu, ya kamu sendiri yang menggali lubang perpisahan, Ya," sangkal Tono tegas sambil menepuk bahu sahabatnya itu. "Mbak Samaira itu bukan tipe perempuan yang melihat orang dari merek baju atau isi dompetnya. Buktinya dia tetap menghargai bantuanmu waktu mobilnya mogok dulu."
"Menghargai sebagai penyelamat di jalan itu beda urusannya dengan mendampingi sebagai pasangan hidup, Ton," balas Bara getir. Ia meletakkan kunci inggris di atas meja dengan bunyi dentingan keras, lalu menatap lurus ke kegelapan malam. "Aku memutuskan untuk mundur perlahan. Lebih baik aku menarik diri sekarang sebelum rasa ini terlalu dalam dan membuatku semakin terluka."
❖ ❖ ❖
Keputusan itu terasa berat di dada Bara, namun ia merasa itu adalah satu-satunya jalan rasional untuk melindungi harga dirinya. Sejak percakapan malam itu dengan Tono, ia sengaja mulai membatasi frekuensi komunikasinya dengan Samaira. Ketika perempuan itu mengirimkan pesan singkat sekadar menanyakan kabar atau mengucapkan terima kasih atas bantuan servis minggu lalu, Bara selalu membalasnya dengan singkat, kaku, dan terkesan menghindar.
Hari-hari berikutnya berjalan dalam kesunyian yang disengaja. Di bengkel, Bara bekerja lebih keras dari biasanya, membongkar mesin-mesin truk tua hingga larut malam untuk mengalihkan pikirannya dari sosok Samaira. Namun, setiap kali ponsel di saku celananya bergetar, ada secercah harapan semu yang diam-diam muncul di lubuk hatinya, yang langsung ia tepis dengan paksa.
Sore itu, ketika matahari mulai tenggelam di ufuk barat meninggalkan garis jingga keemasan, sebuah sedan hitam yang sangat ia kenal tiba-tiba berbelok pelan memasuki area halaman bengkelnya. Jantung Bara berdegup kencang seketika. Ia sedang memegang lap kotor di dekat mesin mobil pelanggan, dan rasa panik mendadak menyerang sekujur tubuhnya.
Samaira turun dari mobil dengan mengenakan setelan blazer abu-abu yang elegan. Rambutnya tergerai rapi, memancarkan aura profesional yang justru membuat Bara semakin merasa kecil dan tidak pantas berada di dekatnya. Perempuan itu melangkah pasti menghampiri meja kerja di sudut bengkel tempat Bara berdiri kaku.
"Sore, Bara," sapa Samaira dengan senyum hangat yang langsung merekah di bibirnya.
"Sore, Mbak Sam," jawab Bara kaku, menghindari kontak mata langsung sambil sibuk mengelap tangannya yang bernoda oli. "Ada keluhan apa lagi sama mobilnya? Padahal minggu lalu baru saja diservis beres."
Samaira mengernyitkan dahi, menangkap perubahan nada bicara pemuda itu yang terasa jauh lebih dingin dibandingkan pertemuan-pertemuan mereka sebelumnya. "Mobilnya baik-baik saja, Ya. Tidak ada kerusakan sama sekali."
"Oh... kalau begitu ada keperluan apa sampai datang jauh-jauh ke bengkel kumuh ini?" tanya Bara dengan nada defensif, tanpa sadar menunjukkan ketidaknyamanannya.
"Aku cuma ingin mampir dan mengantar titipan kue buatan Maya untukmu dan Tono," kata Samaira lembut sambil mengangkat sekotak wadah plastik transparan berisi brownies cokelat yang masih mengepulkan aroma manis. "Kenapa akhir-akhir ini kamu sulit dihubungi, Ya? Pesanku dibaca pun tidak."
Bara menelan ludah kelat, meletakkan kain lapnya di atas meja dengan gerakan kasar. "Aku sibuk, Mbak. Pekerjaan di bengkel sedang menumpuk, jadi tidak sempat pegang ponsel."