Malam kembali memeluk menara pencakar langit di jantung ibu kota, menumpahkan bias cahaya lampu-lampu neon kota ke atas permukaan kaca jendela ruang kerja CEO di lantai empat puluh dua. Di dalam ruangan yang luas, senyap, dan berbalut karpet wol tebal berwarna arang itu, Samaira berdiri mematung. Jubah mantel panjangnya tersampir di sandaran kursi kulit hitam bergaya eksekutif. Di atas meja kerjanya yang terbuat dari kayu mahoni padat, sebuah laptop bernyala menampilkan laporan keuangan kuartal terakhir dan draf memo penting dari dewan direksi perusahaan.
Namun, bukan angka-angka laba rugi atau proyek ekspansi bernilai triliunan rupiah yang kini menguras seluruh perhatiannya. Di tangan kanannya, Samaira menggenggam sebuah bingkai foto berukuran sedang. Di dalam foto berbingkai perak itu, tampak dirinya bersama Bara berdiri di depan bengkel tua yang basah oleh sisa hujan, tersenyum lepas dengan latar belakang perkakas mesin yang berlumuran oli. Sebuah kontras yang teramat tajam dengan kemewahan dingin yang mengurung dirinya di ruangan megah ini.
"Kau sedang melamun lagi, Samaira?"
Suara bariton yang tenang datang dari arah pintu penghubung ruang kerja. Pak Hartono, komisaris senior sekaligus mentor yang telah membimbing Samaira sejak pertama kali ia meniti karier korporat, melangkah masuk perlahan. Pria paruh baya berjas rapi itu membawa map kulit hitam di tangannya, wajahnya menyiratkan guratan pengalaman dan ketegasan.
Samaira buru-buru meletakkan bingkai foto itu kembali ke atas meja, menghadap ke bawah agar bayangan masa lalunya tidak terlalu mencolok di hadapan sang atasan. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba merapikan ekspresi wajahnya sebelum berbalik menghadap Pak Hartono.
"Tidak, Pak Hartono. Saya hanya... sedang meninjau ulang draf dokumen peninjauan kembali aset tanah di distrik pelabuhan lama," jawab Samaira dengan suara yang diusahakan setenang mungkin.
Pak Hartono berhenti di hadapan meja kerja, meletakkan map kulit hitam itu tepat di hadapan Samaira. Ia menatap wanita muda di hadapannya dengan sorot mata menyelidik, seolah mampu menembus lapisan pertahanan mental yang sedang dibangun oleh Samaira.
"Jangan coba membohongiku, Sam," ujar Pak Hartono lembut namun penuh wibawa. Ia menarik kursi tamu dan duduk tanpa menunggu persetujuan. "Aku tahu betul bagaimana caramu bekerja sejak lima tahun lalu. Kau tidak pernah menatap layar kosong selama dua puluh menit penuh kecuali ada beban berat yang sedang menghimpit pikiranmu. Apakah ini tentang laporan investigasi yang dikirimkan oleh pemuda mekanik itu minggu lalu?"
Samaira tertegun. Ia mengepalkan kedua tangannya di atas permukaan meja mahoni. "Bara tidak hanya mengirimkan laporan, Pak. Dokumen itu adalah bukti nyata bahwa perusahaan kita—PT Cakrawala Samudera—memiliki kaitan langsung dengan skandal penyuapan dan sabotase pembakaran gudang delapan belas tahun lalu. Kasus yang merenggut nyawa ayah Bara."
"Dan karena itulah dewan direksi merasa terancam," balas Pak Hartono tanpa sedikit pun rasa terkejut di wajahnya. Ia menyilangkan kaki, menatap lurus ke mata Samaira. "Sebagai CEO yang baru diangkat, tugasmu bukanlah membongkar borok masa lalu para pendiri perusahaan ini, Sam. Tugasmu adalah melindungi stabilitas perusahaan, menjaga harga saham tetap stabil, dan memastikan proyek pembangunan kawasan komersial di atas tanah pelabuhan itu berjalan lancar tanpa hambatan hukum."
"Tapi itu tidak adil!" sergah Samaira, nada suaranya sedikit meninggi melanggar batas profesionalisme korporat. "Bagaimana bisa kita membangun masa depan di atas darah dan penderitaan orang lain? Perusahaan ini terlibat dalam kejahatan kemanusiaan!"
"Dunia korporasi tidak mengenal keadilan emosional, Samaira," potong Pak Hartono tegas, suaranya mengiris keheningan malam di ruang CEO tersebut. "Dunia korporasi hanya mengenal kepentingan dan kelangsungan bisnis. Pilihlah dengan bijak: apakah kau ingin menghancurkan seluruh karier cemerlang yang telah kau bangun selama bertahun-tahun demi membela seorang mekanik jalanan dan masa lalunya yang kelam, ataukah kau akan berdiri di tempat semestinya sebagai pemimpin perusahaan ini?"
Pertanyaan itu menohok langsung ke jantung Samaira. Ruangan mewah itu mendadak terasa begitu menyesakkan, seolah seluruh oksigen di dalamnya tersedot habis oleh dinginnya tuntutan profesionalisme yang dilemparkan oleh mentornya sendiri.
❖ ❖ ❖
Keheningan kembali merayap di ruangan megah lantai empat puluh dua itu pasca-pernyataan telak Pak Hartono. Samaira menatap bos sekaligus figur ayahnya di dunia korporat tersebut dengan perasaan berkecamuk hebat. Di dalam dadanya, badai emosi berputar kencang, mempertemukan dua sisi kehidupan yang saling bertolak belakang: cinta tulus pada Bara dan kesetiaan profesional pada institusi tempat ia mendedikasikan seluruh ambisi mudanya.
"Kau memberi tahu mereka tentang keterlibatanku dengan Bara?" tanya Samaira pelan, suaranya bergetar tipis namun menyimpan ketajaman yang menuntut kejujuran.
Pak Hartono menghela napas panjang, menyandarkan punggungnya ke kursi tamu. "Dewan direksi memantau setiap langkahmu, Sam. Hubungan dekatmu dengan Bara dan keterlibatanmu dalam pencarian arsip lama itu bukan rahasia lagi di kalangan pemegang saham pengendali. Mereka mulai meragukan loyalitasmu."
Samaira tertawa kecil, sebuah tawa pahit yang penuh kekecewaan. "Loyalitas? Jadi selama ini aku diukur dari seberapa baik aku bisa menutup mata terhadap kejahatan korporasi?"
"Kau adalah CEO dari PT Cakrawala Samudera, Samaira," jawab Pak Hartono mengingatkan dengan nada suara yang lebih melunak namun tetap tegas. "Keputusan yang kau ambil hari ini tidak hanya berdampak pada dirimu sendiri, tapi juga pada ratusan karyawan yang menggantungkan hidupnya di perusahaan ini. Apakah kau sanggup melihat perusahaan ini runtuh dan ratusan orang kehilangan pekerjaan hanya karena kau ingin menegakkan keadilan masa lalu yang sudah terkubur?"
Argumen itu menghantam telak sisi rasional Samaira. Sebagai seorang pemimpin perusahaan, ia dididik untuk berpikir objektif, memperhitungkan risiko makro, dan mengutamakan stabilitas ekonomi di atas segalanya. Namun, setiap kali ia memejamkan mata, bayangan wajah Bara di bengkel tua yang penuh debu dan ketulusan pria itu saat menggenggam tangannya kembali berkelebat di dalam benaknya.
"Bagaimana aku bisa mengabaikan fakta bahwa perusahaan tempatku bernaung adalah dalang di balik kematian orang tua Bara?" bisik Samaira lemah, jemarinya meremas tepi meja kerja hingga buku-buku jarinya memutih.
"Masa lalu adalah masa lalu, Sam," ucap Pak Hartono berdiri dari duduknya, merapikan jas kerjanya. Ia menepuk pundak Samaira pelan sebelum melangkah menuju pintu keluar. "Pikirkan baik-baik posisimu. Dewan direksi akan meminta keputusan resmi darimu besok pagi pukul sembilan. Pilih cinta masa lalumu, atau pertahankan kariermu sebagai CEO."
Pintu kayu mahoni itu tertutup rapat, meninggalkan Samaira sendirian di tengah kesunyian malam kota. Lampu-lampu gedung di luar sana tampak bagai kunang-kunang buatan yang berkedip mengejek kelemahan manusia di dalamnya.
❖ ❖ ❖