Jarak di Ujung Nozzle

Amrullah Ibrahim
Chapter #15

Pertengkaran Pertama

Matahari sore di jalur lintas Sumatra membias membentuk garis-garis emas kemerahan yang menembus celah kanopi pohon karet tua di pinggir jalan. Udara beraroma basah sisa hujan kemarin sore masih tertinggal, berpadu dengan aroma bensin RON 92 yang khas dari stasiun pengisian bahan bakar umum tempat Bara bekerja. Pom bensin mini bergaya modern itu tampak lengang menjelang magrib. Hanya ada satu dua kendaraan yang singgah, mengisi bahan bakar sebelum melanjutkan perjalanan panjang menuju pelabuhan atau kota kabupaten tetangga.

Bara berdiri di dekat mesin dispenser, mengelap tangannya yang sedikit berminyak menggunakan sehelai kain majun usang. Pikirannya melayang pada kejadian beberapa hari lalu, saat Samaira terus-menerus muncul di tempat kerjanya, membawa serta masa lalu yang hampir ia kubur dalam-dalam. Di tengah kesibukan harian menjaga pompa dan melayani truk-truk logistik yang hilir mudik, bayangan Samaira seolah menjadi badai kecil yang mengacaukan ketenangan hidup yang sudah bertahun-tahun ia bangun bersama Pak Darma.

"Bara, di depan ada motor masuk. Cek dulu, jangan ngelamun terus kayak orang kehabisan bensin," tegur Pak Darma, pemilik SPBU sekaligus paman angkat Bara yang muncul dari balik pintu kantor kecil sambil membawa secangkir kopi hitam.

"Eh, iya, Paman. Ini mau dicek," jawab Bara sambil merapikan topi hitamnya dan melangkah cepat menyambut kendaraan yang baru saja berbelok pelan memasuki area pengisian.

Namun, bukan pengendara motor biasa yang ia temui kali ini. Samaira turun dari sebuah mobil sedan hitam berplat nomor kota lain, melangkah dengan pasti menghampiri Bara yang berdiri di dekat pulau pompa nomor dua. Wajah perempuan itu tampak lelah, namun sepasang matanya menyiratkan ketegasan yang tidak bisa ditawar.

"Sore, Bara," sapa Samaira dengan suara tenang, hampir berbisik, namun terdengar jelas di tengah keheningan senja.

"Sore, Samaira. Kenapa kau ke sini lagi? Aku sudah bilang, tempat ini tidak aman untukmu," jawab Bara langsung, nadanya terdengar kaku dan defensif. Ia melirik sekilas ke arah kantor, memastikan Pak Darma tidak keluar mengawasi.

Samaira mengerutkan kening, langkahnya terhenti beberapa sentimeter di hadapan Bara. "Aku datang karena kita harus membicarakan langkah selanjutnya terkait dokumen rahasia itu, Bara. Kenapa kau bersikap seolah-olah aku ini ancaman?"

"Bukan ancaman bagi keselamatan fisik, Samaira, tapi ancaman bagi hidupku!" seru Bara setengah berbisik, suaranya bergetar menahan emosi yang sudah lama memuncak. "Kau tidak mengerti posisiku di sini. Setiap kali kau datang dengan mobilmu, orang-orang mulai memperhatikan. Paman Darma cemas, dan para pengawas perusahaan logistik milik Baskoro mulai mencurigai gerak-gerikku."

"Lalu kau ingin aku diam saja? Membiarkan pembunuh ayahmu berkeliaran bebas sementara kita pura-pura lupa?" balas Samaira tajam, nada suaranya mulai meninggi.

"Bukan begitu maksudku!" Bara mengusap wajahnya dengan kasar menggunakan telapak tangannya yang sedikit bernoda minyak. "Tapi caramu mendatangi tempat kerjaku terus-menerus justru merusak segalanya. Reputasiku sebagai pekerja teladan di sini bisa hancur, dan jika Baskoro tahu aku berhubungan denganmu, bukan hanya aku yang celaka, tapi tempat ini juga akan diratakan dengan tanah!"

Samaira tertegun sejenak. Napasnya memburu, menatap lelaki di hadapannya dengan rasa tidak percaya. "Jadi, kedatanganku... reputasimu... itu yang kau khawatirkan sekarang? Kau lebih takut kehilangan pekerjaan di pom bensin ini daripada menegakkan keadilan untuk ayahmu sendiri?"

"Jangan membalikkan kata-kataku, Samaira!" bentak Bara tertahan, rahangnya mengeras. "Aku sudah berkorban banyak untuk bertahan hidup di sini! Jangan rusak semuanya hanya karena ego pencarianmu!"

❖ ❖ ❖

Suasana di dekat pulau pompa mendadak berubah panas. Angin senja yang berembus pelan seolah tidak mampu mendinginkan kepala kedua orang yang kini saling melempar tatapan penuh ketidakpahaman itu. Di kejauhan, deru truk fuso yang melintas di jalan raya utama terdengar seperti ombak monoton yang memecah karang, kontras dengan keheningan tegang di antara mereka berdua.

"Kau pikir ini ego, Bara?" suara Samaira bergetar hebat, air mata perlahan menggenang di pelupuk matanya, namun ia menahannya agar tidak tumpah. "Aku menghabiskan belasan tahun hidupku membawa separuh jangkar perak itu sendirian, menunggumu menepati janji, dan berharap suatu hari kita bisa berdiri sejajar menuntut kebenaran. Dan sekarang, saat kita sudah menemukan buktinya, kau menyuruhku pergi demi menjaga ketenangan kerja lapukmu ini?"

"Bukannya begitu, Samaira..." Bara mencoba meredam nada suaranya, melihat kilatan kekecewaan yang mendalam di mata perempuan itu. Ia melangkah sedikit mendekat, mencoba meraih lengan Samaira, namun perempuan itu dengan cepat menarik tangannya ke belakang.

"Jangan sentuh aku jika pada akhirnya yang kau inginkan hanyalah kembali bersembunyi di balik bayang-bayang ketakutan!" potong Samaira tajam, suaranya menusuk langsung ke relung hati Bara. "Kau bukan lagi bocah lelaki yang berjanji di atas geladak kapal itu. Kau sekarang hanyalah seorang pengecut yang berlindung di balik mesin bensin!"

"Jaga mulutmu, Samaira!" suara Bara meninggi, kemarahannya tersulut sepenuhnya oleh kata-kata yang baru saja dilontarkan. "Kau tidak tahu apa artinya hidup sebatang kara tanpa nama keluarga di tempat asing! Paman Darma mempertaruhkan nyawanya untuk merawatku, dan aku tidak akan membiarkan kecerobohanmu menghancurkan satu-satunya hal nyata yang kupunya saat ini!"

Pak Darma yang mendengar keributan kecil dari dalam kantor segera membuka pintu dan melangkah keluar dengan wajah cemas. Lelaki paruh baya itu berjalan cepat menghampiri mereka, melambaikan tangan agar keduanya meredam suara.

"Ada apa ini? Kenapa kalian malah bertengkar di tempat terbuka seperti ini?" selat Pak Darma dengan nada tegas namun khawatir, melirik ke arah jalan raya di luar gerbang SPBU. "Bara, jaga sikapmu kepada tamu. Samaira, tolong mengertilah kondisi kami di sini."

Samaira menoleh sekilas ke arah Pak Darma, lalu kembali menatap Bara dengan tatapan penuh luka dan kekecewaan yang mendalam. "Tidak perlu khawatir, Pak Darma. Aku tidak akan mengganggu ketenangan hidup keponakan kesayanganmu lagi."

Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Samaira membalikkan badannya dengan cepat, melangkah lebar meninggalkan area pulau pompa menuju mobil sedan hitamnya yang terparkir di sudut halaman. Pintu mobil dibuka dengan kasar, lalu ditutup kembali dengan bunyi dentuman keras yang memecah kesepian senja.

"Samaira, tunggu!" panggil Bara setengah hati, sempat melangkah satu langkah ke depan sebelum akhirnya menghentikan gerakannya.

Mesin mobil menyala dengan deru halus, lampu depannya menyorot tajam menembus halaman SPBU, sebelum akhirnya kendaraan itu melaju kencang meninggalkan area pom bensin, melebur ke dalam gelapnya malam yang mulai turun di jalur lintas Sumatra.

❖ ❖ ❖

Keheningan yang menyiksa langsung menyelimuti area SPBU setelah kepergian Samaira. Bara berdiri terpaku di tempatnya semula, menatap jalan kosong tempat mobil sedan hitam itu tadi berlalu. Di dalam dadanya, rasa bersalah dan amarah bergemuruh hebat, bercampur aduk menjadi satu perasaan sesak yang sulit dijelaskan.

"Kau keterlaluan, Bara," ucap Pak Darma pelan, memecah keheningan sambil menggelengkan kepala lelah. Lelaki paruh baya itu merapatkan jaketnya untuk menahan angin malam yang mulai menusuk tulang. "Ia datang membawa kebenaran yang selama ini kita takuti, dan kau justru mengusirnya dengan kemarahan."

"Aku hanya ingin melindunginya, Paman!" sangkal Bara dengan suara parau, menoleh menatap pamannya dengan mata yang memerah menahan emosi. "Kau sendiri yang bilang, Baskoro tidak akan tinggal diam jika tahu kita bergerak melawannya. Jika Samaira terus datang ke sini, orang-orang bayaran itu pasti akan mencurigainya, dan nyawanya terancam!"

Lihat selengkapnya