Jarak di Ujung Nozzle

Amrullah Ibrahim
Chapter #16

Bara Mengundurkan Diri

Hujan mengguyur bengkel 'Kopi Roda Dua' dengan intensitas yang seakan ingin menghapus jejak apa pun di permukaan tanah. Di sudut ruangan yang remang-remang, Bara Danendra berdiri menatap lurus ke arah pintu masuk yang tertutup rapat. Tangannya menggenggam sebuah amplop putih bersih—surat pengunduran diri yang telah ia tulis dengan tangan, bukan diketik, agar terasa lebih personal meski isinya adalah perpisahan.

"Bang, lo yakin mau pergi sekarang?" suara Jono memecah keheningan bengkel. Asisten bengkelnya itu berdiri di dekat pintu gudang, matanya menatap Bara dengan campuran antara bingung dan sedih. "Maksud gue, baru kemarin kita dapet proyek besar dari klien tetap, kenapa harus sekarang?"

Bara menghela napas panjang, menatap Jono dengan senyum tipis yang dipaksakan. "Jono, dunia ini terlalu sempit buat orang kayak gue yang terus-terusan ditarik ke dalam badai yang bukan bagian dari rencana hidup gue. Samaira... dia layak mendapatkan dunia yang lebih baik tanpa harus terikat dengan mekanik yang bahkan tidak punya asuransi jiwa."

"Tapi Bang, dia sayang banget sama lo. Semua orang tahu itu," sahut Jono, mencoba membujuk. "Lagian, kalau lo pergi tanpa pamit secara langsung, dia pasti bakal gila nyari lo ke mana-mana."

"Justru itu tujuannya, Jon. Dia harus belajar untuk berdiri sendiri tanpa bergantung pada seseorang yang cuma bisa memperbaiki mesin, bukan memperbaiki masa lalunya," jawab Bara tegas, meski hatinya mencelos.

Bara berjalan menuju meja kerjanya yang penuh dengan peralatan mekanik yang sudah ia bersihkan. Ia menaruh kunci bengkel di atas meja, di samping secangkir kopi hitam yang sudah dingin. Bagi Bara, tempat ini bukan sekadar bengkel; ini adalah tempat di mana ia merasa menjadi dirinya sendiri, tanpa harus menjadi pion dalam permainan kekuasaan Samaira Danendra.

"Lo mau ke mana, Bang?" tanya Jono lagi, suaranya kini lebih pelan.

"Ke tempat di mana nggak ada yang tahu nama gue, Jon. Gue punya teman lama di daerah Jawa Timur, dia punya bengkel kecil di pinggiran kota. Gue bakal mulai dari nol di sana," jawab Bara sambil meraih tas ransel hitamnya yang sudah disiapkan.

"Gue bakal kangen sama lo, Bang," ucap Jono tulus.

Bara menepuk bahu Jono, merasa berat meninggalkan orang yang sudah dianggapnya seperti adik sendiri. "Jaga bengkel ini, Jon. Lo mekanik yang hebat, lebih hebat dari yang lo kira. Jangan pernah biarkan siapa pun merendahkan kemampuan lo."

Bara melangkah keluar menuju pintu bengkel, menerjang hujan yang masih belum reda. Ia tidak membawa apa-apa selain tas ranselnya, meninggalkan segala bentuk keterikatan yang ia miliki di ibu kota. Ia tahu, sekali ia melangkah keluar dari tempat ini, Samaira akan merasakan kekosongan yang mungkin akan mengubah hidupnya selamanya. Namun, Bara merasa ini adalah harga yang harus dibayar demi kedamaian mereka berdua. Ia perlu menghilang, perlu menjadi anonim agar bayang-bayang masa lalu Samaira tidak lagi membayangi langkahnya sendiri maupun langkah Samaira.

❖ ❖ ❖

Mobil sedan mewah itu berhenti tepat di depan pintu bengkel yang kini tertutup rapat. Samaira Danendra turun dari mobil dengan gaun sutra yang sedikit basah terkena tempias hujan. Ia mendapati bengkel yang biasanya ramai oleh suara mesin, kini sepi.

"Bara?" panggilnya, suaranya bergema di ruang yang kosong.

Ia mendapati Jono yang sedang duduk di kursi kayu dengan pandangan kosong. Jono menoleh saat melihat Samaira, lalu terdiam sejenak sebelum berdiri.

"Nona Samaira," sapa Jono dengan nada rendah.

"Di mana Bara? Saya sudah menunggunya di kantor tapi dia tidak datang," tanya Samaira, kecemasan mulai terpancar di matanya yang biasanya tajam.

Lihat selengkapnya