Jarak di Ujung Nozzle

Amrullah Ibrahim
Chapter #17

Pencarian Samaira

Hujan gerimis membilas kaca jendela ruang kerja Samaira di lantai delapan belas. Di balik meja jati berukir yang bersih dan rapi, ia menatap ke luar gedung, memperhatikan garis-garis air yang meluncur deras di atas permukaan kaca. Sudah dua minggu sejak sosok Bara menghilang begitu saja dari SPBU tempatnya biasa bekerja. Tidak ada sapaan hangat, tidak ada deru mesin pompa yang familiar, dan tidak ada lagi cangkir teh manis dingin yang biasa mereka nikmati bersama di bawah pohon mangga tepi jalan.

Samaira menghela napas panjang, merapikan tumpukan cetak biru di mejanya yang tampak asing dan dingin. Derring ponsel di samping laptop memecah keheningan ruangan. Nama Vania terpampang di layar.

"Halo, Van?" jawab Samaira pelan, suaranya terdengar datar tanpa gairah.

"Samaira! Kamu masih di kantor?" suara Vania terdengar nyaring di seberang telepon, membawa latar belakang musik latar kafe bergengsi. "Direksi baru saja konfirmasi, berkas promosi partner kamu sudah masuk tahap akhir. Malam ini kita harus rayakan di lounge biasa!"

"Terima kasih, Van. Tapi malam ini aku ada urusan lain," balasku cepat, enggan memperpanjang percakapan.

"Urusan apa lagi, Sam? Jangan bilang kamu masih nyari tukang pompa bensin itu?" Vania mendesis gusar dari balik telepon. "Dia kan sudah resign dari SPBU itu dua minggu lalu. Pengawas shift-nya sendiri yang bilang ke kamu, kan? Kenapa kamu masih repot-repot?"

"Ini bukan urusan kamu, Vania," tegas Samaira dengan nada dingin. "Bara hilang bukan tanpa sebab. Dan aku berhak tahu apa yang terjadi pada temanku."

"Teman? Samaira, kamu ini calon partner biro arsitektur terbesar di kota ini! Kenapa kamu buang-buang waktu cuma buat nyari orang dari kelas sosial yang beda jauh?" celetuk Vania tajam sebelum Samaira mematikan sambungan telepon secara sepihak.

Samaira meletakkan ponselnya kembali ke meja dengan sedikit sentakan. Ia tidak peduli lagi dengan omongan Vania atau pandangan sinis rekan-rekan sejawatnya. Di matanya, ketulusan Bara adalah hal paling berharga yang pernah hadir di tengah hidupnya yang serba mekanis dan penuh kepura-puraan.

Ia berdiri dari kursi kerja, mengambil kunci mobil serta mantel hujan abu-abu milik pribadi. Pencarian ini tidak boleh berhenti hanya karena selembar surat pengunduran diri yang ditinggalkan Bara di pos SPBU. Samaira meraih buku catatan kecilnya yang berisi beberapa alamat dan kontak relevan yang sempat ia kumpulkan dalam beberapa hari terakhir.

Ia melangkah menuruni tangga darurat menuju area parkir basement. Suasana basement yang remang dan dingin seolah mencerminkan perasaannya yang gamang. Sedan abu-abu metaliknya menyala halus.

"Aku akan menemukanmu, Bara. Sekalipun aku harus mendatangi setiap sudut kota ini," gumam Samaira pada dirinya sendiri sambil memutar kemudi menuju pintu keluar basement.

Ia memacu mobilnya membelah kemacetan jalanan kota yang diselimuti kabur hujan sore. Tempat tujuan pertamanya adalah area permukiman padat di belakang SPBU tempat Bara dulu bekerja. Menurut info singkat yang pernah didengarnya dari Tono—rekan kerja Bara—pria itu tinggal di sebuah kontrakan kecil tak jauh dari sana bersama adik perempuannya, Rani.

❖ ❖ ❖

Mobil sedan mewah milik Samaira merayap pelan memasuki gang sempit yang hanya cukup dilalui satu kendaraan. Dinding-dinding rumah warga yang kusam dan deretan kabel listrik yang menjuntai rendah tampak bertolak belakang dengan lingkungan tempat tinggal Samaira sehari-hari. Namun rasa cemas memadamkan segala rasa asing di hatinya.

Ia menghentikan mobilnya di depan sebuah pos ronda kayu yang sedikit lapuk. Seorang pria paruh baya bertopi kusam tampak duduk sambil merokok. Samaira menurunkan kaca jendela mobilnya.

"Permisi, Pak. Selamat sore," sapa Samaira sopan.

Pria itu menoleh kaget melihat mobil bagus masuk ke dalam gangnya. "Sore, Mbak. Ada yang bisa dibantu? Nyari rumah siapa ya?"

"Saya sedang mencari rumah Mas Bara, Pak. Yang dulu kerja di SPBU dekat jalan raya depan," jawab Samaira penuh harap.

Pria bertopi itu mengelus dagunya yang ditumbuhi janggut tipis, merenung sejenak. "Oh, Si Bara? Mas Bara anaknya baik itu ya? Waduh, Mbak... Mas Bara sama adiknya, Si Rani, udah pindah dari sini sekitar seminggu yang lalu."

Jantung Samaira serasa berhenti berdetak mendengarnya. "Pindah, Pak? Pindah ke mana?"

"Wah, kurang tahu pasti saya, Mbak," jawab pria itu sambil menggeleng pelan. "Waktu itu dia cuma pamit mau pindah kontrakan yang lebih murah karena katanya adiknya mau fokus persiapan ujian sekolah dan ada urusan keluarga yang harus diselesaikan. Dia cuma bawa barang-barang seadanya pakai mobil pick-up sewaan."

Samaira meremas roda kemudi mobilnya kuat-kuat. Keputusasaan mulai merayap pelan membelenggu dadanya. "Apakah Bapak punya nomor telepon baru Mas Bara atau alamat lengkapnya?"

"Nggak ada, Mbak. Nomor lamanya juga udah nggak aktif pas saya coba hubungi kemarin lusa," tutur pria tersebut memadamkan sisa harapan Samaira.

Samaira mengangguk lemas, berusaha menahan rasa kecewa yang mendalam. "Baik, Pak. Terima kasih banyak informasinya."

Ia menutup kembali kaca jendela mobilnya dan menyandarkan kepala pada kemudi. Kota ini terlalu luas jika harus menyisir setiap kontrakan sempit satu per satu tanpa petunjuk pasti. Namun Samaira bukan tipe orang yang mudah menyerah. Sebagai seorang arsitek senior, ia terbiasa memecahkan masalah pelik dengan logika dan pemanfaatan sumber daya yang ada.

Ia mengambil ponselnya, mengusap layar cepat, lalu menekan kontak seorang detektif swasta langganan biro hukum kakeknya dulu.

"Halo, Pak Arya?" sapa Samaira begitu panggilan terhubung. "Saya Samaira. Saya butuh bantuan profesional Bapak untuk melacak keberadaan seseorang di kota ini secepatnya."

❖ ❖ ❖

Dua hari berlalu sejak pencarian mandiri di gang sempit itu gagal. Malam ini, Samaira duduk di sebuah meja kafe yang lebih tenang, berhadapan dengan Arya, pria berjaket kulit hitam dengan tatapan mata yang tajam dan berpengalaman. Di atas meja tersaji dua cangkir kopi espresso dan sebuah map dokumen berwarna cokelat.

"Bagaimana, Pak Arya? Apakah ada titik terang?" tanya Samaira langsung tanpa basa-basi.

Arya menggeser map cokelat itu ke arah Samaira. "Saya sudah mengerahkan tim kecil untuk menyisir data kependudukan, sekolah sang adik, serta bekas rekan kerjanya di SPBU. Bara adalah tipe orang yang sangat rapi menutup jejak jika ia memang berniat menghindar."

Lihat selengkapnya