Jarak di Ujung Nozzle

Amrullah Ibrahim
Chapter #18

Kejadian Tak Terduga

Malam di Kota Bara merangkak naik dengan sisa-sisa amukan badai yang baru saja melumpuhkan sebagian besar jalur utama kota. Di sebuah tikungan tajam dekat jembatan tua perkebunan teh, langit tampak gelap gulita tanpa taburan bintang, menyisakan pekat yang mencekam dan suara gemuruh air sungai yang meluap dari dasar jurang. Di tengah genangan lumpur dan sisa-sisa ranting pohon yang berserakan, sebuah mobil SUV abu-abu terperosok dalam posisi miring dengan bagian depan menghantam pohon besar. Lampu utama mobil itu masih menyala terang, membelah kabut tipis dan menyorot tajam ke arah semak-semak basah di tepi tebing.

Di dalam kabin mobil yang pengap, Samaira berusaha meredakan napasnya yang memburu. Kepalanya terasa pening akibat benturan keras pada setir sesaat sebelum mobilnya hilang kendali di tengah jalanan licin. Ia mencoba menggerakkan tangan kanannya untuk membuka sabuk pengaman, namun kancingnya macet total akibat guncangan hebat.

"Sial... kumohon, buka," bisik Samaira dengan suara bergetar, keringat dingin bercampur air mata mulai menetes di pelipisnya.

Di kursi belakang, tas dokumen kantornya terlempar jauh ke lantai mobil, sementara air mulai merembes masuk melalui celah pintu yang tidak rapat. Suara gemuruh air sungai di bawah sana terdengar semakin dekat dan mengancam, seolah siap menyeret apa saja yang ada di jalurnya. Samaira mencoba meraih ponselnya yang tergeletak di dasbor, namun posisinya terlalu jauh untuk dijangkau oleh jemarinya yang terikat kencang oleh sabuk pengaman.

"Tolong... siapa pun, tolong aku," rintihnya pelan, matanya mulai berkaca-kaca diliputi rasa takut yang luar biasa.

Di luar kendaraan, suasana malam terasa begitu sunyi dan terisolasi dari dunia luar. Tidak ada kendaraan lain yang melintas di jalur sepi tersebut pada jam selarut ini. Harapan Samaira perlahan menipis seiring dengan bau sengit karet terbakar yang mulai tercium dari balik kap mesin SUV yang berasap tipis. Ia merasa terjebak dalam perangkap waktu yang siap merenggut kesadarannya kapan saja.

Tiba-tiba, dari kejauhan terdengar deru mesin motor bebek yang dipacu dengan kecepatan tinggi menembus genangan air. Suara itu semakin mendekat, memecah keheningan malam yang pekat. Samaira menajamkan pendengaran, mengerahkan sisa-sisa tenaganya untuk mengetuk kaca jendela mobil dari dalam.

"Di sini! Tolong aku di sini!" teriaknya lemah, berharap suara itu cukup keras untuk menembus deru angin malam.

❖ ❖ ❖

Motor bebek hitam itu mendadak mengerem mendadak tepat di samping SUV Samaira yang ringsek. Lampu sorot senter kepala yang melingkar di helm pemuda itu langsung menyala terang, memindai kondisi mobil yang berada di ambang jurang. Bara—yang memacu kendaraannya tanpa kenal lelah demi mengejar bayangan Samaira—merasa jantungnya nyaris berhenti berdetak saat melihat plat nomor mobil tersebut.

"Samaira!" panggil Bara panik, melepas helmnya dan melemparnya begitu saja ke atas tanah berlumpur.

Ia berlari tergesa-gesa menghampiri pintu pengemudi SUV yang sudah penyok parah. Melalui kaca jendela yang berembun, ia melihat sosok Samaira terduduk lemas dengan sabuk pengaman yang melintang ketat di dadanya.

"Bara... kamu... kamu di sini?" ucap Samaira tertahan dari balik kaca, suaranya terdengar sangat rapuh.

"Bertahanlah, Sam! Jangan bergerak!" seru Bara dengan nada tegas, mencoba menarik gagang pintu mobil sekuat tenaga. Namun pintu itu terkunci rapat oleh benturan keras. "Sial, pintunya macet dari luar!"

"Sabuk pengamanku... macet, Bar. Aku tidak bisa keluar," balas Samaira panik, air matanya tumpah membasahi pipinya yang pucat.

Bara tidak punya banyak waktu untuk berpikir panjang. Ia melihat posisi mobil yang mulai bergeser perlahan ke arah jurang akibat tanah di bawah ban belakang yang amblas tergerus air. Tanpa ragu, ia mengambil linggis kecil dari tas perkakas di motornya, lalu menghampiri kaca jendela bagian belakang.

"Tutup matamu, Sam! Tutup kepalamu rapat-rapat!" instruksi Bara dengan suara meninggi.

Samaira langsung memejamkan mata dan menundukkan kepalanya di atas kemudi. Brak! Satu pukulan keras linggis menghantam kaca jendela hingga pecah berkeping-keping, menghamburkan serpihan kaca ke dalam kabin. Bara segera memasukkan tangannya melalui lubang kaca yang pecah, meraba kancing sabuk pengaman, dan menekannya dengan sekuat tenaga hingga ikatan itu terlepas.

"Ayo, cepat keluar! Mobil ini mau ambruk ke jurang!" teriak Bara sambil merengkuh tubuh Samaira dan menariknya keluar melalui jendela yang pecah.

Lihat selengkapnya